Aluna sudah duduk di ruang interogasi. Semua CCTV dinyalakan. Bahkan ada satu kamera yang sengaja dipasang Dion untuk berjaga-jaga. Ruang interogasi terasa lebih dingin dari biasanya. Lampu putih di atas kepala menyinari satu titik, yaitu kursi tempat Aisar duduk dengan tangan diborgol. Namun kali ini, dia tidak sendirian. Pria jangkung itu masih berdiri di sana. Mata Dion yang menajam, memperhatikan setiap pergerakan Aisar. Tapi jujur, adanya Dion, justru membuat Aluna sulit bergerak. Dia tidak bisa membahas semua masalah ini dengan leluasa. “Ah… akhirnya,” gumamnya. “Aku bisa bertemu denganmu lagi, Dokter Aluna.” Belum apa-apa, tubuh Aluna sudah menegang. Namun sebisa mungkin, dia menyembunyikan ketegangannya. Aluna mengangkat dagu. Memajukan tubuhnya, dengan mata yang juga ikut memicing. “Apa yang kamu mau?” Aisar menyandarkan tubuhnya, lalu tersenyum. Matanya sempat melirik Dion yang terlalu waspada. Dia se
閱讀更多