“Defibrillator siap!”“Charge—clear!”Tubuh Aluna terangkat sesaat saat sengatan listrik mengalir. Monitor sempat menunjukkan garis lurus, lalu kembali bergetar tidak stabil.“Sekali lagi!”“Clear!”“BRAK—!”Sindi refleks menutup mulutnya. Air matanya jatuh tanpa suara. “Tolong… aku mohon, tolong selamatkan Aluna,” bisiknya lemah. “Kumohon jangan pergi Luna. Jangan pergi seperti ini.”Di atas ranjang, jari Aluna kembali bergerak. Kali ini lebih kuat. Bukan sekadar refleks. Seperti ada sesuatu yang berusaha menariknya.Dan di dalam penglihatannya, ruangan itu sangat gelap, dingin dan sunyi. Perlahan, matanya terbuka. Napasnya berat. Dadanya masih terasa sesak. Dan dia sadar, kalau tempatnya kini berada bukanlah ruang rumah sakit, atau kamar tidurnya.“A… aku dimana lagi, ini?”Tak lama, suara rantai berderit. Aluna menoleh cepat. Tepat di ujung ruangan, bayangan seorang pria berdiri. Tangan terborgol. Bahunya turun. Dan bau anyir darah mulai tercium.Aluna menegang. “Ra… Raka? Raka i
Read more