Hari merambat begitu cepat. mentari yang semula bersinar kokoh, kini mulai beralih peran dengan rembulan yang hanya bersinar separuh. Raka sudah duduk bersandar di tempat tidur. Dadanya masih belum nyaman berada di posisi itu, tapi dia tidak bisa terus menerus tidur. “Makan dulu ya,” ujar Aluna. Wanita itu datang membawa bubur yang baru saja dia dapatkan dari perawat. Raka hanya melirik bubur itu tanpa minat. “Aku mau kue bantal buatan kamu,” godanya, lalu tersenyum. Aluna mendengus sebal. Dia duduk di samping Raka, lalu mulai menyuapi Raka sedikit demi sedikit. Setiap kali dia berusaha menelan, rasanya tenggorokannya kembali tersayat. Perih dan sangat tidak nyaman. “Kayak gini… mau makan kue bantal,” ledek Aluna. Dia melirik ponselnya yang bergetar di atas meja. Raka meraih ponsel Aluna, baru saja hendak membuka pesan itu, Aluna segera merebutnya. “Kenapa?” tanya Raka dengan kening mengernyit. “Pesan dari siapa emang?” Aluna melirik pesan yang ternyata datang d
Read more