Se connecterTubuh Raka langsung menegang. Pupilnya melebar dengan napas yang sudah tercekat. Lagi-lagi petunjuk tentang anggota militer. Siapa yang berani menginjak harga dirinya sampai sejauh ini. “Tapi itu mimpi.” Suara Raka melemah dan tidak setegas sebelumnya. Seolah dia sedang mencoba meyakinkan dirinya sendiri, bukan Aluna. Raka menggeleng pelan, seolah menolak kemungkinan itu sebelum Aluna menjawab. Rahangnya mengeras. “Nggak masuk akal,” gumamnya hampir tak terdengar. “Kamu nggak mungkin tahu. Dan kamu tahu kalau mimpi hanyalah bunga tidur.” Tangannya kembali mengerat di bahu Aluna, bukan untuk menyakiti, tapi seperti berusaha menahan sesuatu yang mulai runtuh di dalam dirinya. Tangan Aluna kembali mencengkram baju Raka dengan sangat erat. “Dan itu selalu kejadian, Raka. Semua yang kulihat selalu kejadian. Kamu juga tahu itu.” Raka kembali bungkam. Untuk pertama kalinya, dia tida
“Pak.” Suara Bi Sari membuat Raka menoleh cepat. “Ibu mencari Bapak, dia sudah bangun.” Raka hanya mengangguk. Dia memang tidak bisa meninggalkan Aluna sendirian dalam kondisi seperti ini. Raka meraih ponselnya dari dalam satu. Memberi perintah pada Dion melalui pesan singkat. Saat ini yang bisa dipercaya menurut versinya hanya Dion. Karena dia sudah mengenal Dion bertahun-tahun. Dion bukan orang yang bisa beralih kubu hanya karena mendapat ancaman. Raka kembali memasukkan ponselnya, lalu bergegas menemui Aluna. Di dalam kamar, wanita itu sudah duduk bersila dengan kening berkerut dan mata yang sedikit kosong, layaknya seseorang yang pikirannya sedang pergi entah kemana. Raka menyentuh puncak kepala Aluna, kemudian duduk di sisi ranjang. “Kenapa? Kamu nyari aku? Seharusnya kamu tidur. Ini sudah malam.” Aluna tidak langsung menjawab. Dia justru menatap Raka lebih dalam dari s
“Bukan dari Kolonel langsung, tapi dari Letkol Arga. Mereka adalah bawahan Letkol Arga. Mereka juga yang sering mengamankan rumah Letkol Arga ketika beliau dinas di luar kota.” Aluna diam. Nama itu kembali muncul dan terlalu sering, selalu di waktu yang tidak tepat menurutnya. “Arga,” gumam Aluna pelan, hampir tak terdengar. Raka melirik sekilas. “Kenapa?” Aluna menggeleng, tapi keningnya masih berkerut. “Nggak, cuma ngerasa aneh aja.” Aneh, karena semua benang selalu berujung pada orang yang sama. Dan semakin ia ingat, semakin jelas pola itu terbentuk. Dia kembali menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami. Semuanya terasa jelas sekarang. Arga yang memperhatikannya sejak dia jadi relawan. Arga yang selalu memintanya datang ke markas saat Raka masih dirawat. Dan hubungan Ar
“Kalau pelaku orang dalam, berarti dia juga mengawasi aku.” Belum selesai dengan pikirannya, tiba-tiba Aluna berteriak dari dalam. Walau tidak begitu kencang, tapi cukup untuk membuat Raka langsung berlari. Dia berjongkok tepat di depan Aluna yang masih kesulitan membuka mata. Mulutnya terus bicara sesuatu yang tidak Raka mengerti. Tentang Alur cerita, tentang cerita sad ending dan tentang penulis yang selalu menyiksa tokohnya dengan sangat keji. “Aluna…” Raka menggoyangkan bahu Aluna pelan. Namun wanita itu tetap tidak bergerak. Sekarang dia justru sudah menangis dan terus memohon. Raka mengernyit tak mengerti. “Hey, Aluna... Bangun!” Raka sengaja meninggikan suara dan menghentakkan tubuh Aluna sedikit lebih keras. Barulah dia bisa membuka mata dengan tarikan napas yang sangat panjang. “Raka… hah…” Aluna langsung mencengkram tangan Raka
"Maksudmu?" Raka sedikit mengangkat sebelah alisnya. Tidak mengerti apa yang baru saja Aluna katakana. Alih-alih memberi kesaksian, wanita itu justru menilai postur tubuh. Menyadari ada yang salah dengan kalimatnya, Aluna kembali mengingat wajahnya. Dia menatap Raka lalu tersenyum malu. “Maksud aku, mereka sama-sama tinggi besar. Jadi aku tidak bisa menebak siapa orang yang ada di balkon ruang kontrol.” “Orang di balkon ruang kontrol?” ulang Raka. “Jadi ada orang disana?” Aluna mengangguk cepat. Dengan tubuh yang masih lemas, dia berusaha untuk turun dari ranjang. “Kamu mau kemana?” Aluna tidak menjawab. Dia hanya meminta Raka membantunya berjalan sambil mendorong tiang infusannya. Sesampainya di lantai tiga, wanita itu menarik napas panjang. Dia menyandarkan kepalanya di dada Raka untuk beberapa saat. “Ku bilang tadi di gendong, kan.” Raka mendengus seraya menyeka keringat
“Maafkan kami, Pak.” Raka memicingkan matanya. Dia menatap satu persatu pegawai yang bekerja. Namun tidak ada yang aneh. Semua pengawal ditunjuk langsung oleh pihak militer. Asisten rumah tangga bekerja jauh sebelum Raka dan Aluna menikah. Sedangkan satpam, mereka semua juga bekerja atas naungan yayasan yang ditunjuk oleh militer. Raka meremas rambutnya. Matanya beralih menatap Aluna yang masih terlelap. Kadang sesekali menggeliat, mengubah posisi tidur. Dan pergerakan sederhana itu membuat Raka bernapas lega. Setidaknya dia bisa memastikan kalau Aluna baik-baik saja. Raka kini duduk di kursi kayu samping ranjang. Dia menatap kembali semua pegawai yang ada di depannya. “Bi,” ucap Raka pelan. “Bibi kemana? Bukankah saya meminta Bibi untuk menjaga Aluna dan menyiapkan semua kebutuhannya.” Bibi Sari sedikit menunduk. Wanita paruh baya it







