Melody menatap Damien lama, seolah lelaki itu baru saja mengucapkan lelucon paling tidak lucu yang pernah ia dengar.Menikah? Dengan Damien Jeremy Princeton? Lelaki yang selama ini bahkan tidak pernah berusaha bersikap ramah padanya.Napas Melody masih belum stabil. Amarahnya belum benar-benar reda—hanya berubah bentuk. Jika tadi ia meledak di dalam IGD, sekarang emosinya seperti membeku di dada, berat dan menekan.“Kalau kamu cuma ingin meledekku, pergilah,” ucap Melody akhirnya, suaranya lebih rendah, tapi tetap tajam. “Aku tidak punya tenaga untuk meladenimu.”Damien menatapnya datar, tanpa sedikit pun perubahan ekspresi. “Aku tidak sedang bercanda.”“Kalian pikir aku bodoh?” Melody mendengkus kecil. “Kamu dan sepupumu sama saja, sama-sama bajingan! Aku tahu kalian bersekongkol.”“Aku tidak cukup peduli padanya untuk bersekongkol,” jawab Damien ringan.Sesaat, Melody terdiam. Jawaban itu terdengar masuk akal. Sebab, Lionel dan Damien memang selalu seperti dua kutub yang berlawanan.
اقرأ المزيد