LOGINDi hari pernikahannya, Melody ditinggalkan di pelaminan ketika calon suaminya memilih menemani sahabat sekaligus sekretarisnya yang tiba-tiba sakit. Alih-alih dibela, Melody justru disudutkan dan dipaksa mengalah seperti biasa. Dalam keputusasaan, ia menerima tawaran menikah dari pria dingin yang selama ini membencinya—sepupu dari mantan tunangannya sendiri. Pernikahan kilat itu memicu kekacauan keluarga, rahasia lama, dan perasaan yang tak pernah ia duga. Di balik hubungan tanpa cinta, Melody perlahan menyadari bahwa pria yang paling menyebalkan itu mungkin satu-satunya yang benar-benar berpihak padanya.
View MoreMelody mulai tidak bisa duduk tenang. Calon suaminya tidak bisa dihubungi, sementara pernikahan seharusnya telah dimulai sejak satu jam lalu. Tamu-tamu yang mulai sadar ada hal yang tidak beres di pernikahan ini berubah berbisik, ramai.
Di belakang Melody, beberapa teman tampak memasang wajah geram, disertai ucapan-ucapan kekesalan.
“Apa kami bilang, Mel. Lionel itu nggak serius sama kamu.”
“Bajingan itu nggak bakal dateng, Mel.”
Sudah tidak terhitung berapa kali Melody mencoba menghubungi, tapi semua nihil. Pesannya tidak dibaca, apalagi dijawab. Panggilannya tidak dihiraukan, hanya berupa dering.
Gemuruh di dada Melody sudah tidak terhindarkan lagi. Kali ini Lionel memang benar-benar keterlaluan. Ia menghilang di hari pernikahan mereka, padahal seluruh keluarga dan teman dekat mereka telah hadir semua.
Selain mempelai wanita, beberapa petugas catatan sipil juga tampak gelisah menunggu kedatangan Lionel. Banyaknya pasangan lain yang menunggu untuk dinikahkan membuat mereka tidak bisa menunggu lebih lama, hingga akhirnya mereka memutuskan untuk meninggalkan tempat ini.
Gerry -- Papa Melody mengikuti petugas catatan sipil, membujuk mereka agar mau menunggu sedikit lebih lama. Sementara Mama Melody sudah terduduk lemas sedari tadi.
“Anak kalian telah mencoreng nama baik kami!” teriak Mama Melody. Wanita setengah baya bernama Nada itu bersandar di bangku, menatap garang kepada calon besannya. “Di mana anak kalian?” teriaknya lagi.
“Kami tidak tahu, Lionel bahkan sudah berangkat lebih dulu,” sahut ibunya Lionel. Ia melipat kedua tangan di dada. “Lagian, jangan hanya salahkan anak kami. Coba tanya kepada anakmu… pasti ada alasan kenapa sampai Lionel seperti ini.”
Melody semakin meradang. Ia menatap Mama Lionel, bersiap memberikan pembelaan. Namun, belum sempat bibirnya berujar, panggilan Melody tersambung.
“Di mana kamu Lionel?!” Melody langsung menyergah. Ia sudah tidak bisa lagi menyembunyikan kemarahan pada lelaki itu.
“Aku di rumah sakit. Ruby sakit dan aku tidak mungkin bisa meninggalkannya,” sahut Lionel tanpa rasa bersalah.
Mulut Melody melebar sempurna. Ia begitu terkejut mendengar alasan ketidakhadiran lelaki itu di momen sakral yang sudah mereka rencanakan ini. “Tapi ini hari pernikahan kita, Lionel! Bagaimana mungkin kamu lebih memilih dia?!” tegas Melody. Ia menekan gigi-giginya, menahan untuk tidak berteriak.
“Jangan egois, Melody. Pernikahan masih bisa dilaksanakan kapan pun, tapi Ruby… bagaimana kalau sesuatu terjadi padanya?” kukuh Lionel.
Dengkusan kasar keluar dari bibir Melody. “Jadi kamu lebih memilih dia?” tanyanya memastikan.
Terdengar Lionel berdecak, terdengar kesal karena respons Melody. “Kalau kamu tetap ingin melanjutkan pernikahan, menikahlah dengan orang lain!” lanjutnya kemudian memutus panggilan sepihak.
Melody menatap layar ponselnya. Tidak ada rasa sedih karena pernikahannya gagal, tetapi ada rasa kemarahan yang begitu besar bercokol di hati gadis itu.
Empat tahun membina hubungan bukanlah waktu yang sebentar. Nyaris semua teman dekatnya tidak merestui hubungan itu karena ragu pada Lionel. Lelaki itu terkenal casanova. Ia mudah dekat dengan wanita mana pun, terutama Ruby–salah seorang teman yang paling dekat dengan Melody.
Sayangnya, dulu Melody menganggap semua wajar. Selain sahabat, Ruby adalah sekretaris Lionel. Tidak ia kira, kepolosannya justru menghasilkan kejadian yang benar-benar mencoreng nama baiknya hari ini.
Persetan dengan kericuhan di tempat acara, Melody memilih untuk melangkah keluar. Ia menulikan dari apa pun yang menghalanginya, sementara beberapa teman Melody langsung mengikuti dari belakang.
Melody menyetop sebuah taksi dan meminta taksi tersebut menuju sebuah rumah sakit yang tidak terlalu jauh dari sini.
Sepanjang perjalanan, Melody tidak mengeluarkan satu kata pun. Ponselnya masih tergenggam erat di tangan, menjadi pelampiasan amarahnya. Begitu mobil berhenti, Melody langsung turun. Gaun putihnya menyapu lantai rumah sakit, kontras dengan suasana IGD yang dingin dan sibuk.
Tidak peduli pada pandangan orang lain terhadapnya, Melody terus menyisir brankar IGD untuk menemukan seseorang yang ia cari.
Dan… di sanalah mereka, di mana Ruby tampak terkulai lemah di dada Lionel yang sedang memeluknya sambil berdiri.
“Bajingan kalian!” Suara itu menggema, membuat beberapa orang langsung menoleh.
Lionel menegakkan tubuhnya. Ia menatap tajam ke arah Melody. “Ini rumah sakit, Melody! Jangan buat keributan.”
Ruby menggenggam tangan Lionel yang menegang. Air mata gadis itu perlahan jatuh. “Jangan marah pada Melody, Lionel,” katanya lemah. “Melody benar, Lio… kalian seharusnya tetap menikah. Kalau saja penyakitku tidak kambuh hari ini….”
“Berhenti bersandiwara, Ruby!” potong Melody tajam.
“Apa maksudmu, Mel?” Mata Ruby terperangah.
Orang-orang mulai menatap Melody dengan keji. Melody dianggap perempuan yang tidak punya empati yang menyebar fitnah.
Bukan tanpa alasan Melody berkata demikian. Bertahun-tahun Ruby mengaku punya kelainan jantung, tapi tidak sekali pun Melody melihatnya benar-benar menjalani pengobatan. Wanita itu juga tidak terlihat lemah, pucat, atau apa pun yang menunjukkan gejala penyakitnya.
Yang lebih aneh, sering kali Ruby kambuh ketika Melody dan Lionel punya janji temu.
“Cukup!” Lionel membentak Melody. “Kamu benar-benar keterlaluan, Melody! Ruby punya salah apa sama kamu?!” Tangan lelaki itu kini tidak mau diam, aktif menunjuk-tunjuk Melody.
Ruby menggeleng lemah. “Aku cuma ingin kamu bahagia, Mel….”
“Pembohong! Kamu ingin Lionel, bukan?” tanya Melody. “Ambillah. Mulai sekarang, kamu tidak perlu lagi bersandiwara untuk merebut perhatiannya.”
Bersamaan dengan itu, Melody melepas cincin pertunangan yang ia kenakan di jari kirinya. Ia melemparkan cincin berlian tersebut ke brankar IGD yang jadi tempat Ruby. Ia melangkah, meninggalkan Ruby yang terdengar memaksa Lionel untuk mengejarnya.
Dalam jarak yang masih dekat, Melody masih mendengar Lionel berkata dengan jumawa, “Tenanglah, Ruby. Aku kenal Melody. Aku jamin, besok juga dia akan kembali. Jadi kamu tidak perlu khawatir.”
Telinga Melody memerah luar biasa. Dalam hati, ia memaki, “Tidak untuk kali ini, Bajingan!” batinnya kesal. “Aku pastikan kamu akan menyesal telah melakukan ini padaku!”
Melody melangkah keluar dari ruang IGD. Sebuah tepuk tangan menggema begitu Melody keluar dari pintu IGD yang dingin itu. Langkah Melody terhenti. Ia menatap ke arah lelaki tampan berjas hitam lengkap, yang kini menatapnya dengan senyuman miring.
“Gaun pengantin yang bagus,” ujar lelaki itu. “Tapi sayang, ekspresimu jelek. Pantas sepupuku lebih memilih temanmu.”
Amarah Melody yang semula sudah mereda, kini bagai disiram air garam usai mendengar ucapan lelaki itu. Ia menatap penuh ke arah lelaki tersebut, “Mau apa kamu ke sini?”
Lelaki yang Melody kenal sebagai salah satu kerabat Lionel. Sosok angkuh dan selalu melontarkan perkataan tajam itu tampak mendekat. Melody bergeming. Ia menunjukkan keberanian, tidak gentar meski lelaki itu menatapnya tajam.
“Tadinya aku ke sini untuk menyaksikan pernikahan sepupuku,” kata lelaki itu santai. Ia memasukkan kedua tangannya ke saku celana, dan menatap Melody penuh. “Tapi, karena dia punya pilihan lain, bagaimana kalau aku yang menggantikannya menikahimu?”
“Kami…. “Tangan Damien terangkat saat Rara mulai bicara. Lelaki itu lalu menggeleng.“Istriku lapar. Aku sedang tidak ingin mendengarkan penjelasan apa pun… lagi.”Tak peduli pada wajah penasaran Marcel dan Rara, Damien mengajak Melody ke restoran. Tetapi, Rara dan Marcel malah membuntuti, bahkan hingga masuk ke restoran.“Untuk dua orang, please,” ucap Damien pada pelayan.“Empat orang,” ralat Marcel. “Tolong siapkan meja untuk empat orang.”Pelayan itu mengerjap. Ia menatap Damien lalu Marcel. Dan tentu saja ia mengenal Marcel. Penyanyi tampan yang sedang naik daun. Pelayan berpikir akan sangat merugikan jika tidak memenuhi permintaan Marcel.“Bagaimana jika Marcel mengunggah di media sosial bahwa service di restoran mahal ini tidak baik?” Pelayan itu membatin dan berpikir cepat lalu segera menyiapkan meja yang diminta Marcel.Untungnya, Damien tidak peduli. Ia sedang fokus pada Melody yang kelaparan. “Damien, aku dan Marcel berpacaran.” Rara langsung melapor saat pelayan pergi s
Suara bariton yang menggelegar tiba-tiba itu sukses membuat Aristha tersentak kaget. Sang psikolog anak, yang biasanya selalu tampil luar biasa tenang dan profesional, seketika merona merah hingga ke telinga. Ia buru-buru menarik tubuhnya menjauh dan menunduk hormat dengan sangat canggung. "T-Tuan Damien. Nyonya Melody," sapa Aristha santun.Sementara itu, alih-alih panik karena tertangkap basah, Lionel hanya menarik tangannya perlahan. Lelaki itu menyandarkan punggungnya ke kursi, membalas tatapan membunuh Damien dengan senyum menawan yang sama sekali tidak memudar.Melody yang sudah berdiri di sebelah suaminya segera memegang lengan Damien untuk sekedar menenangkan sang suami."Ini pemandangan yang sangat... menarik," sindir Melody, menatap Lionel dan Aristha secara bergantian. Mendengar cecaran langsung dari sepasang suami istri yang terkenal tanpa ampun ini, Aristha tampak semakin salah tingkah, seolah ingin menghilang saja ditelan lantai pualam restoran tersebut.Namun Lionel j
Selesai bicara dengan Kakek Aiden, Damien berjalan gontai ke paviliun pribadinya.Gema nada terakhir dari permainan piano Melody perlahan mengudara dan memudar di keheningan paviliun. Tepat saat wanita itu melepaskan jemarinya dari tuts gading, Damien dengan sepasang lengan kekarnya melingkar posesif dari arah belakang, memeluk bahu dan pinggangnya dengan erat.Aroma maskulin dan aroma cologne mahal khas Damien membuat Melody tersenyum. Ia sampai tidak sadar sang suami sudah berada di dekatnya."Kakek Aiden suka banget denger permainan pianomu yang luar biasa ini terdengar lagi di paviliun," bisik Damien tepat di telinga Melody, mendaratkan sebuah kecupan hangat di pipi istrinya. Melody memutar tubuhnya di atas kursi piano, menatap suaminya dengan senyum manis. "Kakek Aiden bilang gitu? Aku tersanjung.”Damien tertawa rendah, menyandarkan pinggulnya di tepi grand piano."Tapi, kami tidak bicara banyak lagi tentang musikmu. Kakek menanyakan keputusan kita akan tinggal di mana setelah
Pagi ini, Melody dan Damien kembali mengantar Ivan ke paviliun. Kedatangan keluarga kecil Damien disambut oleh pemandangan yang cukup maskulin di area serambi.Lionel baru saja menyelesaikan rutinitas olahraga paginya yang intens. Kaus olahraga tanpa lengannya tampak sedikit menempel pada tubuh atletisnya akibat keringat, dengan sebuah handuk kecil tersampir santai di leher. Meskipun baru saja menguras tenaga, aura tampannya sama sekali tidak luntur.Begitu melihat kereta dorong Ivan memasuki paviliun, wajah Lionel langsung berbinar cerah."Selamat pagi, Jagoan Kecil!" sapa Lionel dengan nada riang, melangkah mendekat berniat menggoda keponakannya.Namun, sebelum jari Lionel sempat menyentuh pipi gembil Ivan, sebuah dehaman berat dan sarat akan peringatan terdengar dari arah belakang kereta dorong."Jaga jarakmu, Lionel. Jangan berani-berani menempelkan bakteri dan keringat pasca-olahragamu pada putraku yang baru saja mandi," titah Damien dengan nada bariton mutlaknya. Selain bentakan
“Aku akan mengawasi pernikahan kalian.”Suara Nenek Emma terdengar dingin dan dalam. Meski tidak melihat langsung bagaimana tatapan wanita tua itu, Melody yakin Nenek Emma kini tengah menatap punggungnya. Sebab, bagian belakang tubuhnya itu terasa panas.Perlahan, Melody menoleh ke arah nenek Damie
Tampaknya, di keluarga Princeton posisi tertinggi dipegang oleh Nyonya Emma–nenek Damien. Sebab, begitu nenek bilang ia ingin berbicara pada Melody hanya berdua, tidak ada satu pun yang berani menginterupsi.Oh, Lionel tentu saja nyaris menginterupsi. Hanya saja, ayahnya melirik tajam sang putra. J
“Kamu pikir aku wanita murahan seperti selingkuhanmu?” Melody menjawab langsung tanpa jeda.Ia paham, Lionel sedang menggiring opini jika keputusannya menikahi Damien karena mereka telah berselingkuh sedari dulu.“Kamu bahkan lebih buruk dari Ruby, Melody,” sahut Lionel. Tidak lupa, ia mendecih. “W
“Sebenarnya apa tujuanmu untuk pernikahan ini? Kamu menjadikanku jalan keluar dari perjodohan yang tidak kamu inginkan?” tembak Melody.Damien yang sudah nyaris menanggalkan jasnya kembali memasangkan jas tersebut ke pundak. Lelaki itu membalikkan badan, menatap Melody.Tipis, Melody melihat ujung


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore