Zevran mendengar kalimat terakhir itu, ia hanya menghela napas pelan tanpa membalas. Matanya kembali fokus ke arah laptop dan sesekali menatap ke arah Ayah, ibu dan Nerlina. Hingga terdengar suara keroncongan dari perutnya. 'Sialan kenapa sekarang harus lapar,' batinnya, memegangi perutnya. Zevran menoleh ke arah ibunya, "Ma…" ucapnya datar, tapi Wulan sudah lebih dulu mengabaikannya. Nerlina yang sejak tadi berdiri ragu akhirnya melangkah pelan ke arah sofa. Ia duduk dengan posisi yang sedikit kaku, kedua tangannya tertata rapi di atas pangkuan. Tatapannya ke arah Wulan dan Baskara dengan canggung. "Terima kasih, Nyonya Wulan," ucapnya sopan. Wulan tersenyum, lalu menyodorkan satu kotak kepada calon menantunya itu. "Sudah, jangan terlalu formal. Cepat makan, " ujarnya lembut. Wulan menatap ke arah Nerlina yang masih menatap ke arah makanan itu, "Oh ya sayang, panggil aku mama saja. Lagi pula sebentar lagi acara pertunangan u dengan Zevran akan digelar." Baskara dud
Read More