“Lalu, ASI saya bagaimana, Tuan? Kan sayang kalau dibuang?”“ASI kamu untuk saya saja!” jawab Rayden datar.Sontak, Aurin membulatkan matanya, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Darahnya ikut berdesir cepat, pipinya pun ikut bersemu merah. Tubuhnya terasa panas dingin, jantungnya pun terasa berdebar kencang tak karuan.Pembahasan ini terasa sangat vulgar dan memalukan baginya. Sejauh ini, inilah pernyataan tuannya yang paling jauh. Melihat ekspresi Aurin yang kemungkinan besar salah paham, Rayden segera menggeleng cepat, meralat ucapannya. “Maafkan saya kalau membuat kamu salah paham.”Aurin menoleh, “Hm?”“Ini tidak seperti yang kamu bayangkan,” ujar Rayden pelan. Dia tersenyum tipis, kembali membuat Aurin salah tingkah. “Maksud saya ASI itu bukan untuk konsumsi saya pribadi. Saya bawa menyumbangkannya ke bank ASI.” “Bank ASI?” Rasa malu di wajah aurin perlahan luntur, berganti dengan
Ler mais