“Aurin, ada yang salah?”“Ah! Iya, iya, tidak apa-apa.”Panggilan keras Rayden menyadarkan Aurin dari lamunannya.Mata Aurin berkedip-kedip bingung, ia menyahut tergagap.“Yakin perutmu tidak apa-apa?” tanya Rayden lagi, memastikan bahwa semuanya baik-baik saja. Aurin tersenyum canggung, “Iya, Tuan, saya baik-baik saja.”Meski begitu, Rayden mendecakkan lidahnya pelan. Lalu, ia menghela napas. Ia juga menyeletuk, “Akhir-akhir ini, kamu aneh.”“A-aneh?” Aurin menatap Rayden takut-takut. “Aneh bagaimana, Tuan? Saya … baik-baik saja. Sungguh.”“Entahlah,” tanggap Rayden tak acuh. “Kamu sering sekali melamun dan bengong di dekat saya. Kenapa? Takut sama saya yang agak galak ini?”Pertanyaan itu membuat Aurin panik. “I-iya, Tuan … eh, bukan! Bukan! Bukan itu maksud saya, Tuan!”Rayden mendengus mendengar jawaban jujur itu. Sudut bibirnya berkedut, sedikit terangkat. Aneh sekali rasanya sa
Ler mais