“Membawanya ke sini?” Suara Dea naik satu tingkat, cemas. “Kamu akan membawa pria yang sudah menerorku itu ke sini—alih-alih membawanya ke kantor polisi agar segera dihukum?” “Iya.” Jawaban Rayden pendek, tegas, lugas. Ia memicingkan mata tipis, mengamati setiap perubahan ekspresi wanita yang ada di depannya ini. Wajah istrinya itu terlihat tegang, kesepuluh jemarinya bergerak gelisah dan nafasnya tampak sedikit tak beraturan. Rayden langsung tahu kalau Dea sedang ketakutan. Tanpa disadari oleh Dea, sudut bibirnya bergerak samar, nyaris membentuk senyum tipis yang dingin. Sejak awal, Rayden memang sengaja melakukan ini. Ia juga berniat mempertemukan Dea dengan pria bernama Vince itu untuk melihat reaksinya secara langsung. Dan kini, reaksi Dea tampak menarik di matanya. Rayden tahu, Aurin diperintah oleh Vince untuk meneror Dea, tapi Aurin menolak mentah-mentah. Kini, Rayden gunakan rencana V
Read more