Layar ponsel Nabila masih menampilkan pesan dari Fahmi. Ia membacanya secara berulang, berharap matanya salah dalam melihat pesan tersebut. Namun, tetap saja, pesan itu benar seperti apa adanya yang tertulis di sana. Nabila menelan salivanya. Masih pagi sekali ini, bahkan praktik poliklinik belum dimulai, tapi ia sudah gugup sekali. Ia memikirkan bagaimana menghadapi hari ini tanpa Fahmi. Jika, dari pagi hingga sore, ia terus berada di ruang jaga instalasi, akankah ia sanggup. Melewati waktu selama itu dengan tatapan sinis dan perlakuan dingin terhadapnya. Jemari Nabila mengetikkan sebuah pesan balasan, namun ia menghapusnya lagi. Ia berniat untuk menghabiskan waktu di ruang kerja Fahmi saja sampai siang nanti, namun apa yang akan dikerjakannya di sana. Tak ada data rekam medis pasien rawat jalan yang masuk, jadi apa yang harus diinputnya. Di instalasi, ia bisa membantu pasien untuk mengganti botol infus, melepas kateter, me
Baca selengkapnya