Kesadaranku tersedot ke dalam ruang hampa. Dingin, gelap, dan sunyi. Aku berada di kedalaman samudra yang tak terjamah cahaya. Tubuhku melayang di antara barisan terumbu karang yang berwarna kelabu pucat, menyerupai tulang belulang yang terpatri di dasar laut. Anehnya, aku bisa bernapas di sini. Air laut tidak membebani paru-paruku, melainkan memelukku seperti sutra.Di hadapanku, sebuah siluet raksasa muncul dari balik kegelapan. Vorthys, sang Dewa Laut, hadir dengan wujud pria bertubuh manusia namun dengan tentakel menggeliat menggantikan lengan dan kakinya. Ujung tentakel itu berdenyut dengan cahaya biru neon yang menusuk mata.'Game Master.'Suara itu bergema di kepalaku, bukan melalui telinga, melainkan langsung ke saraf otakku."Bagaimana menurutmu?" tanya Vorthys, suaranya terdengar seperti gesekan karang di dasar palung. "Apa kau sudah mulai terbiasa dengan permainan ini?"Rasa kesal yang amat dalam membakar dadaku, namun tertutup
Read more