Untaian huruf magis dari es abadi itu perlahan menguap, meninggalkan lapisan embun beku yang tebal di atas meja batu paviliun. Camilan manis yang tadi belum sempat dihabiskan Shen Wei kini telah berubah menjadi es batu keras yang tak lagi bisa dimakan.Shen Wei menatap piring camilannya yang membeku, lalu mengalihkan pandangan pada cangkir teh krisannya yang kini telah mengkristal sepenuhnya. Bahunya merosot runtuh. Kesabaran ilmiahnya benar-benar mencapai titik nadir, bukan karena takut pada ancaman Serigala Salju, melainkan karena sarapannya baru saja dihancurkan.Dengan gerakan lambat yang dipenuhi kelelahan emosional, Shen Wei kembali duduk di kursi batu. Ia menyandarkan kepalanya ke meja, membiarkan dahinya menyentuh permukaan batu yang dingin."Sudah... cukup. Aku tidak peduli siapa yang mau mengeliminasi siapa," gumam Shen Wei, suaranya teredam oleh meja batu. "Hari ini, aku menyatakan libur nasional di dalam istana. Siapa pun yang berani menyebut kata politik,kutukan, atau pe
Terakhir Diperbarui : 2026-05-24 Baca selengkapnya