LOGINShen Wei, ilmuwan ambisius abad 21, terbangun di tubuh Kaisar Wenxian—penguasa kejam yang tewas dibunuh empat selir monsternya. Kini ia harus hidup dengan empat pria yang telah membunuh pemilik tubuh ini, sambil menyembunyikan identitas aslinya. Dia terjebak di antara dua pilihan: mati di tangan mereka, atau menaklukkan hati mereka—para selir yang setiap malam harus memberinya kepuasan di ranjang kekaisaran. Di ranjang yang sama tempat mereka membunuhnya, Shen Wei kini terbaring di antara mereka—merasakan hangat tubuh yang seharusnya jadi algojonya. Lang Yue, serigala yang dikhianati janjinya. Huo Yan, harimau yang selalu waspada. Changqing, kelinci yang takut namun berharap. Dan She Ming, ular yang sudah mencium rahasianya. Dan She Ming terus berbisik di telinganya: 'Yang Mulia... siapa jiwa yang ada di dalam tubuh Anda?' Akankah ia berhasil mengubah takdir sebelum malam pembunuhan itu tiba?
View More"Terperangkap di istana oleh monster ciptaanku sendiri. Nafas mereka terasa panas di kulitku—sebagian ingin menghancurkanku, sebagian ingin memilikiku sepenuhnya. Saat benci dan gairah menjadi satu, bagaimana seorang Kaisar sepertiku bertahan dari jerat empat pria yang lebih hewan daripada manusia ini?"
_ _ _
"Yang Mulia Kaisar... apakah Anda puas dengan permainan kami?"
Suara berat itu membelah keheningan, memicu ledakan yang masih bergema di setiap inci sarafnya—sebuah sensasi aneh antara hancur dan terlahir kembali.
Shen Wei membuka matanya dengan napas tersangkut.
Hal pertama yang menyerang indranya bukanlah cahaya neon laboratorium yang steril, melainkan tirai sutra merah darah yang membentang megah, menciptakan atmosfer yang pengap oleh aroma kayu cendana dan dupa kuno yang memuakkan.
Di mana aku?
Kesadarannya merayap kembali seperti sengatan listrik.
Shen Wei merasakan kulit telanjangnya bersentuhan dengan seprai sutra yang kusut.
Refleksnya meledak, tangannya menyambar kain kuning bercorak naga, menariknya dengan gerakan panik untuk menutupi tubuhnya yang telanjang.
Jantungnya berdentum keras melawan tulang rusuknya saat matanya membelalak, memindai kegelapan yang dihuni oleh empat sosok predator.
Di sana, di bawah remang cahaya lilin, mereka berdiri—empat mahakarya genetika yang tampak mustahil.
Pria pertama memiliki wajah malaikat, namun telinga kelinci putih yang panjang di atas kepalanya bergerak-gerak dengan ritme yang menggoda.
Di sampingnya, seorang pria bertubuh tegap dengan otot-otot yang memancarkan kekuatan, telinga harimau belang dan ekor panjang yang mencambuk udara pelan di belakangnya memberikan kesan buas yang nyata.
Pria ketiga, pemuda dengan kecantikan sedingin es, memiliki telinga runcing keperakan dan sorot mata serigala yang seolah bisa menembus tengkoraknya.
Dan yang terakhir... Shen Wei menelan ludah dengan susah payah saat melihat sosok pucat dengan sisik keperakan yang berkilauan di lehernya, sementara ekor ular yang masif melingkar malas di atas lantai marmer yang dingin.
"Ka-kalian..." Suaranya pecah, nyaris tak terdengar.
Empat pasang mata itu menatapnya serempak.
Ada senyum yang tersungging di sana—senyum yang tampak intim dan patuh, namun di balik kedalamannya, Shen Wei bisa merasakan kegelapan yang siap menelannya bulat-bulat.
"Yang Mulia... apakah Anda marah? Apakah kami masih belum cukup memuaskan Anda?" si telinga kelinci berbisik, suaranya lembut namun sanggup membuat bulu kuduk Shen Wei berdiri.
Memuaskan?
Dunia Shen Wei jungkir balik. Memori dari dua kehidupan bertabrakan dengan brutal di kepalanya.
Dia ingat laboratoriumnya di abad ke-21. Dia ingat tabung reaksi yang salah—dia ingat mengambil sampel sel harimau, serigala, kelinci, dan ular alih-alih sel manusia unggul.
Dia ingat kepanikan saat ledakan itu merobek realitasnya.
Namun, di celah ingatan itu, sebuah identitas lain menyusup seperti racun.
Dia adalah Kaisar Wenxian.
Penguasa wanita Dinasti Yuehua yang dikenal bertangan besi. Penguasa Lembah Seribu Hewan yang membenci ras yaoguai dengan segenap jiwanya, namun cukup mesum untuk menjadikan mereka peliharaan di peraduannya.
Dan keempat pria di hadapannya ini... mereka bukan sekadar selir. Dalam memori asli Wenxian, mereka adalah algojonya.
Suatu malam, kemarahan mereka meledak setelah dihina sebagai binatang rendahan, dan mereka mengakhiri hidup sang Kaisar dengan cara yang paling keji yang bisa dibayangkan.
Ya Tuhan... aku terbangun di dalam tubuh seorang tiran yang sedang menunggu giliran untuk dibantai.
"Yang Mulia?" si ekor harimau melangkah maju. Gerakannya sangat predator, matanya yang memiliki pupil vertikal menatapnya dengan intensitas yang menyesakkan.
"Wajah Anda pucat. Apakah permainan tadi terlalu melelahkan bagi tubuh Anda?"
Shen Wei ingin mundur, namun punggungnya sudah menempel pada sandaran ranjang yang keras.
Otak ilmuwannya berteriak, memaksanya untuk menganalisis situasi di tengah badai adrenalin.
Ledakan, mutasi, reinkarnasi... semuanya tidak logis, namun panas tubuh pria di depannya ini sangat nyata. Jika ia ingin hidup, ia harus memerankan dirinya sebagai Wenxian.
Ia mengatur napas, memaksakan otot wajahnya yang gemetar untuk membeku. Ia menatap mereka satu per satu—mahluk yang kini ia sadari sebagai hasil "rekayasa genetika" dunia kuno ini.
Ada kehangatan palsu di wajah mereka, sebuah kepatuhan yang dipaksakan, yang di bawahnya terkubur benci yang membara.
Pria berekor ular—yang paling pendiam—tiba-tiba mendesis. Lidahnya yang bercabang terjulur sekejap, mencicipi udara di antara mereka.
"Aroma Yang Mulia... terasa berbeda malam ini. Begitu asing."
Jantung Shen Wei nyaris berhenti. Indra mereka lebih tajam dari detektor mana pun. Mereka tahu aku bukan dia.
"Kalian..." Shen Wei berdeham, mencoba memanggil suara angkuh dan dingin milik Wenxian. "Kalian semua... keluar sekarang."
Keempatnya mematung. Kebingungan yang nyata melintas di wajah mereka.
"Keluar?" si telinga kelinci mengerutkan kening, tampak terluka secara artifisial.
"Tapi Yang Mulia, ini baru tengah malam. Biasanya Anda meminta kami untuk tetap berada di sini hingga fajar..."
Kalimatnya menggantung, sementara matanya melirik ranjang yang berantakan, mengingatkan Shen Wei pada situasi memalukan yang baru saja (mungkin) terjadi sebelum ia terbangun.
Wajah Shen Wei memanas.
Sebagai ilmuwan yang mengabdikan hidupnya di laboratorium, ia tidak pernah membayangkan akan berada dalam posisi seperti ini, telanjang, terjebak di antara empat pria mahluk setengah binatang yang haus akan perhatian sekaligus darahnya.
Ia tahu, setiap ketidakpuasan Wenxian di masa lalu selalu berujung pada siksaan bagi para yaoguai ini. Dan siksaan itulah yang memupuk benih pembunuhan yang akan datang.
Demi dewa-dewa di langit, tolong…
"UGHNFF... Ya dewa-dewa di langit!"Shen Wei tersentak hebat, sebuah desahan tertahan meluncur paksa dari tenggorokannya yang mendadak kering kerontang. Seluruh sarafnya seolah tersulut api yang menjalar liar, meledakkan gelombang gairah primitif yang membakar habis kewarasannya dalam sekejap mata.Bukan jarum perak maut di tangannya yang membuat napasnya terputus, melainkan sebuah serangan oral yang telak menghantam pusat syarafnya. Tanpa peringatan, jari telunjuknya yang baru saja menarik instrumen kematian dari bantal itu kini terkunci di dalam kehangatan yang basah dan menuntut.Di bawah temaram lilin yang bergetar, Changqing berlutut di antara kedua kaki Shen Wei, menatapnya dengan binar predator yang bersembunyi di balik wajah malaikat. Pria kelinci itu tidak hanya sekadar menyentuh, ia membenamkan jemari Shen Wei semakin dalam ke mulutnya, menghisapnya dengan irama yang dalam dan sensual, membiarkan lidahnya yang panas membelit kulit sang Kaisar dengan cara yang sangat provo
“AAHHHHHHHHH”Shen Wei menjerit karena sepasang tangan dingin tiba-tiba melingkar di lehernya, menarik tubuhnya hingga terhempas ke sandaran ranjang yang keras. Sebelum ia sempat memanggil pengawal, aroma melati yang tajam merayap masuk ke indra penciumannya, membungkam suaranya dalam cengkeraman yang posesif."Yang Mulia terlihat sangat gelisah. Apakah hadiah yang Anda berikan tadi menguras terlalu banyak tenaga?"Shen Wei tersentak, namun ia memaksakan tubuhnya untuk tidak melonjak kaget, dia memegang dadanya kuat seakan jantungnya mau lompat. Sebagai seorang ilmuwan, ia tahu bahwa pemangsa akan semakin bersemangat jika mangsanya menunjukkan rasa takut. Ia berbalik perlahan, mempertahankan wajah dingin dan dagu yang terangkat tinggi.She Ming sudah berada di sana, bersandar pada tiang ranjang besar sang Kaisar. Ia tidak lagi memakai jubah lengkapnya, hanya kain sutra tipis yang menutupi bagian atas tubuhnya yang atletis, memamerkan kulit pucat yang tampak berkilau seperti mutiara
Hawa dingin di Paviliun Timur mendadak terasa menusuk tulang. She Ming masih berdiri di sana, terlalu dekat. Matanya yang vertikal menatap Shen Wei dengan intensitas yang tidak wajar—seperti seekor ular yang baru saja menemukan mangsa yang bertingkah aneh. Ia tidak terburu-buru menerkam, ia hanya sedang menikmati aroma ketakutan yang menguar dari pori-pori wanita di hadapannya. Justru ini lebih mengerikan.Dia tahu. Dia pasti merasakan sesuatu yang salah, batin Shen Wei menjerit dalam hati.Keringat dingin merambati punggung Shen Wei, membuat jubah kebesaran yang terbuat dari sutra tebal itu terasa berat dan basah. Di balik wajah datarnya yang berusaha tenang, mental Shen Wei nyaris ambruk. Ia merindukan laboratoriumnya yang steril di masa depan. Di sana, segalanya logis dan bisa diukur. Di sini, ia hanya seorang ilmuwan yang terjebak di tubuh Kaisar Wenxian, penguasa wanita yang punya rekam jejak mengerikan."Aku..." Suaranya pecah sesaat. Ia segera berdeham, mencoba mengumpulkan
Langkah Shen Wei baru saja sampai di ambang pintu paviliun ketika suara Lang Yue menghentikannya."Yang Mulia."Shen Wei menoleh. Pria serigala itu masih berdiri di tempatnya, tapi matanya—matanya yang tajam—sekarang menatapnya dengan intensitas yang berbeda. Bukan curiga apalagi marah. Tapi sesuatu yang lebih dalam dan lebih rapuh. Shen Wei menarik nafas dalam-dalam sebelum akhirnya benar-benar menyediakan telinga untuk mendengarkan apa keluhan salah satu selir Srigalanya."Ada apa?"Lang Yue maju selangkah. Dua langkah. Hingga ia hanya berjarak beberapa jengkal dari Shen Wei. Cukup dekat untuk Shen Wei merasakan hangat tubuhnya, cukup dekat untuk melihat bagaimana bulu-bulu halus di telinga runcingnya bergetar.Geli tapi gemas melihatnya."Yang Mulia..." Suaranya parau, seperti seseorang yang berjuang menahan sesuatu. "Bukankah Yang Mulia sudah berjanji? Saat hamba pertama kali dibawa ke istana ini. Apakah Yang Mulia lupa dengan janji Yang Mulia katakan pada hamba?."Shen Wei menge






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.