Waktu tidak lagi berjalan dalam hitungan jam, melainkan dalam detak jantung yang memburu. Di bawah langit sore yang beransur temaram, kereta kuda kekaisaran melesat membelah jalanan berbatu menuju Aula Leluhur Agung. Di dalam kereta, Shen Wei duduk tegak, melipat kedua tangannya di depan dada. Jubah kebesarannya yang berwarna hitam keemasan kini terasa begitu mencekik, bukan karena bobot kainnya, melainkan karena konspirasi politik yang telah matang di luar prediksinya."Mereka sengaja memilih Aula Leluhur," suara Ya Feng memecah keheningan di dalam kereta, terdengar seberat zirah perak yang dikenakannya. Panglima itu duduk di hadapan Shen Wei, tangannya tidak pernah lepas dari hulu pedangnya. "Di tempat suci itu, hukum militer saya tidak bisa berlaku penuh. Para tetua kerajaan dan menteri kolot memiliki
最終更新日 : 2026-05-19 続きを読む