Aya hanya mengangguk, air mata yang ia tahan selama proses sidang akhirnya menetes, tetapi ini adalah air mata kemenangan dan pembebasan. Ia tidak menangis karena sedih, melainkan karena ia akhirnya merasa dilindungi oleh keadilan. Ia memandang Galih, yang mengangguk bangga.Putusan ini menjadi kemenangan moral dan hukum yang mengukuhkan Aya sebagai ibu yang layak dan tegar, yang berjuang dengan integritas melawan kekuasaan dan keserakahan.Setelah Hakim menutup persidangan, Aya buru-buru berdiri, ingin meninggalkan ruangan itu secepat mungkin. Namun, Ajeng menarik lengan Tama, mendesaknya untuk berbicara."Kamu dengar itu, Aya? Kamu pikir kamu menang? Uang 12 juta itu akan aku bayar, tapi aku akan pastikan hidupmu tidak tenang! Kita akan ajukan banding! Kamu tidak akan selamanya menang!" ancam Ajeng, matanya menyala-nyala karena dendam.Tama, yang baru sadar dari keterkejutannya, menambahkan dengan nada meremehkan, "Kamu menang karena drama anak sakit. Tapi ingat, Aya. Uang yang kamu
Zuletzt aktualisiert : 2026-05-19 Mehr lesen