"Bu Minah, selamat siang. Mau titip kue kering, Bu. Ini Nastar, dijamin enak dan bahannya premium," kata Aya, mencoba menjaga suaranya tetap percaya diri, hangat, dan profesional. Ia mengeluarkan sepotong tester Nastar dari keranjangnya.Bu Minah, seorang wanita paruh baya dengan tatapan skeptis namun ramah, mengambil kue itu. Ia mengunyahnya perlahan, matanya meneliti kemasan sederhana ziplock Aya dengan penuh pertimbangan."Rasanya memang enak, Mbak. Wangi butter-nya beda, ini butter asli ya? Bukan margarin biasa," Bu Minah mengakui, sorot matanya sedikit melembut. "Tapi, Mbak. Berapa harga jualnya? Kalau harga titipannya berapa?"Aya menyebutkan harga jualnya—harga yang sudah ia hitung dengan cermat, mencakup biaya bahan baku premium, sedikit biaya tenaga kerja (yang seharusnya lebih tinggi), dan margin kecil yang ia butuhkan untuk berputar. Harga itu, untuk ukuran warung kelontong, memang tergolong tinggi.Bu Minah menggeleng pelan, ekspresi tulus namun realistis. "Maaf, Mbak. Di
Última actualización : 2026-05-24 Leer más