Beranda / Romansa / Seumur Hidup Itu Lama Lebih Baik Menjanda / Bab 84. Rasa Sakit yang Baru. 

Share

Bab 84. Rasa Sakit yang Baru. 

Penulis: Ucing Ucay
last update Tanggal publikasi: 2026-05-20 08:42:21

Balasan dari Tama datang cepat, penuh alasan, keluhan, dan yang paling parah, manipulasi emosi yang familier:

[Gajiku sedang dipotong perusahaan karena ada restrukturisasi besar, kamu tahu kan? Uangku benar-benar belum ada. Tunggu saja, jangan buru-buru. Kan kamu sudah dapat uang puluhan juta dari ganti rugi dan orang tuamu! Kamu pikir aku mesin ATM? Jangan ganggu aku!]

Rasa kecewa Aya kini berubah menjadi kejernihan yang membebaskan. Tama tidak hanya mangkir dari kewajiban finansial; ia juga m
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Seumur Hidup Itu Lama Lebih Baik Menjanda   Epilog: Harga Sebuah Berlian. 

    Kehidupan, pada hakikatnya, adalah sebuah cermin besar yang memantulkan kembali setiap pilihan yang pernah kita buat. Cermin itu tidak mengenal belas kasihan, hanya kejujuran mutlak. Di dalamnya, terpantul dua jalan yang terpisah jauh, dua nasib yang ditentukan bukan oleh takdir, melainkan oleh nilai yang diyakini. Ada yang memilih jalan berbatu yang sepi, didampingi ketulusan yang murni, menahan sakit dan hinaan, dan akhirnya menemukan bunga paling indah di ujung perjalanan. Ada pula yang memilih jalan tol berlapis emas, didorong oleh ambisi yang membakar dan gengsi yang membutakan mata, hanya untuk menyadari bahwa emas itu berhawa dingin, dan jalan yang ramai itu berakhir di penjara tanpa pintu.Inilah kisah dua jalan itu, kisah tentang dua jiwa yang pernah terikat, kini terpisah oleh jurang penyesalan dan kebahagiaan sejati: Aya Kalyana dan Tama Aditya.Aya, si Berlian yang Dibenci.​Dia adalah wanita yang diuji oleh api kesulitan, meskipun awalnya ia memiliki segalanya, termasuk k

  • Seumur Hidup Itu Lama Lebih Baik Menjanda   Bab 169. Ekstra Bab 3: Dua Malaikat Kecil

    Waktu berjalan dengan kelembutan yang baru dirasakan Aya. Sembilan bulan kehamilan kembar kedua adalah periode yang paling damai dan dimanjakan dalam hidupnya. Di dalam Sanctuary yang diciptakan Eros, Aya menikmati setiap detik pertumbuhan dua kehidupan baru di rahimnya, dibebaskan dari segala kekhawatiran dan tekanan yang dulu ia rasakan.Hingga tiba saatnya hari yang dinantikan.Tepat saat fajar menyingsing, di tengah ketenangan pagi yang masih memeluk kota, Aya merasakan kontraksi pertama. Itu bukanlah rasa sakit yang mengerikan, melainkan sensasi yang familiar, sebuah panggilan alam yang harus disambut dengan ketenangan.Eros Parameswara, yang tidur di sampingnya, langsung terjaga begitu melihat perubahan ekspresi Aya. Tidak ada kepanikan, tidak ada keraguan, hanya kesigapan yang luar biasa dari seorang suami yang siap sedia. Eros telah menyiapkan segalanya sejak berminggu-minggu yang lalu—tas persalinan, jadwal tim medis, dan rute tercepat menuju rumah sakit.“Waktunya, Sayang?”

  • Seumur Hidup Itu Lama Lebih Baik Menjanda   Bab 168. Ekstra Bab 2: Sanctuary dan Pengkhianatan Masa Lalu. 

    Sejak konfirmasi kehamilan kembar kedua, kehidupan di kediaman Eros Parameswara dan Aya Kalyana berubah total, bukan menjadi lebih rumit, melainkan menjadi sebuah simfoni pelayanan yang harmonis, yang semuanya berpusat pada Aya. Eros tidak hanya menjanjikan tempat berlindung; ia secara harfiah merombak ulang sebagian besar rumah mereka untuk menciptakan Sanctuary—sebuah tempat perlindungan total bagi istrinya dan dua janin yang sedang bertumbuh.Sayap timur rumah mereka, yang tadinya ruang baca dan galeri seni, diubah total dalam waktu kurang dari sebulan, digerakkan oleh tim arsitek dan kontraktor terbaik Vantara yang bekerja non-stop di bawah pengawasan langsung Eros. Sanctuary itu kini menjadi sebuah apartemen mewah mini yang terpisah dari hiruk pikuk rumah, namun tetap terhubung. Di dalamnya terdapat sebuah kamar tidur utama yang didesain agar mood Aya selalu terjaga—warna-warna lembut, pencahayaan otomatis yang menyesuaikan ritme sirkadian, dan kasur custom-made yang disesuaikan

  • Seumur Hidup Itu Lama Lebih Baik Menjanda   Bab 167. Ekstra bab: Ngidam Berlian dan Manusia Es yang Meleleh. 

    Kabar kehamilan kembar kedua Aya, yang telah dikonfirmasi oleh dokter kandungan beberapa hari setelah resepsi pernikahan mereka, menyebar seperti gelombang sukacita yang hangat dan memabukkan di dalam rumah tangganya yang baru. Pengumuman resmi disampaikan di meja makan, saat sarapan akhir pekan yang hangat, dikelilingi oleh keluarga inti yang kini semakin utuh.​Lilis, yang duduk di sana, menyeka air matanya dengan tisu. "Ya Allah, Nak. Kamu benar-benar diberi berkah yang berlipat ganda. Dua karunia sekaligus! Ini adalah karunia terbesar. Kamu pantas mendapatkannya, Aya," bisiknya, suaranya tercekat karena haru, memeluk Aya dengan erat dan penuh syukur.​Alif dan Arif, si kembar yang masih batita berusia sekitar tiga hingga empat tahun, duduk di kursi tinggi mereka. Mereka mungkin belum sepenuhnya memahami konsep "adik" atau "kembar", tetapi mereka merasakan energi kebahagiaan yang melingkupi ruangan.​"Adik bayi? Mau! Nanti Alif bisa ajak main mobil-mobilan?" tanya Alif dengan mata

  • Seumur Hidup Itu Lama Lebih Baik Menjanda   Bab 166. Penutup dan Refleksi —TAMAT—

    Malam setelah resepsi akbar usai, kelelahan membalut tubuh Aya. Meskipun semua berjalan sempurna—kemegahan yang memukau, pujian yang tak henti-henti untuk Waktu Rasa, dan tatapan cinta Eros yang tak pernah lepas—energi Aya terkuras habis. Ia merasa sedikit pusing dan mual, kondisi yang ia anggap wajar setelah berhari-hari tegang mengurus detail resepsi, ditambah lagi tekanan mental menghadapi tatapan penyesalan dan kebencian dari keluarga Tama. Ia tidak memedulikannya. Di pelukan Eros, ia merasa aman dan damai, kebahagiaan yang ia temukan di babak kedua kehidupannya terasa begitu nyata dan menghangatkan.“Pasti kelelahan,” bisik Eros malam itu, sambil memijat lembut kaki Aya yang pegal setelah berjam-jam berdiri dengan sepatu hak tinggi.“Aku akan pastikan besok kamu istirahat total. Biar Lilis yang mengurus si kembar. Kamu ratuku, dan ratu harus diistirahatkan.”Aya tersenyum, mengangguk setuju. Ia diratukan, bukan dipajang.Namun, kedamaian itu terusik pada keesokan paginya.Tepat s

  • Seumur Hidup Itu Lama Lebih Baik Menjanda   Bab 165. Momen Pertemuan di Resepsi. 

    Malam itu, ballroom hotel bintang tujuh tempat resepsi pernikahan Eros Parameswara dan Aya Kalyana diadakan, disulap menjadi sebuah negeri dongeng yang disinari kristal dan dihangatkan oleh ribuan mawar impor. Ini adalah pesta gala yang benar-benar memvalidasi semua desas-desus: Pesta Abad Ini.Di antara kerumunan tamu yang anggun dan berkelas tinggi, berdiri Tama Aditya, didampingi oleh istrinya, Maharani. Maharani memaksa Tama hadir, bahkan memaksa Ajeng, Rita, dan Tari ikut serta. Maharani ingin memastikan image keluarganya terlihat sempurna di acara bergengsi ini, sebuah kesempatan networking yang tidak boleh dilewatkan, tanpa menyadari penderitaan yang ia timpakan pada suaminya.Maharani, mengenakan gaun desainer yang harganya melampaui seluruh aset kecil Ajeng, berjalan dengan anggun, matanya menyapu ruangan, menghitung koneksi dan potensi bisnis. Di sisi lain, Ajeng, Rita, dan Tari, meskipun mengenakan pakaian terbaik yang bisa mereka dapatkan, terlihat kaku dan cemas. Mereka s

  • Seumur Hidup Itu Lama Lebih Baik Menjanda   Bab 4. Restu yang Sulit

    "Kembar? Ya Tuhan! Biaya kalian nanti dua kali lipat, Tama! Kalian mau makan apa? Kamu mau menikahinya dengan apa? Ibu tidak punya uang untuk pesta yang layak! Ibu lepas tangan soal biaya nikah!" desis Ajeng, nadanya penuh keputusasaan dan kekecewaan.​Tama tahu Ajeng tidak akan membantu secara fin

  • Seumur Hidup Itu Lama Lebih Baik Menjanda   Bab 3. Dua Titik di Layar dan Tekad Ganda

    ​Setelah menunggu lama—seolah waktu melambat—nama Aya akhirnya dipanggil.​Aya dan Tama melangkah masuk ke ruang periksa. Ruangan yang beraroma antiseptik itu langsung terasa mendebarkan. Dokter menyambut mereka dengan ramah, dan Tama langsung menjelaskan kebutuhan mereka: konfirmasi medis dan sura

  • Seumur Hidup Itu Lama Lebih Baik Menjanda   Bab 2. Malam Penuh Beban dan Tekad

    Tama menghela napas panjang, tatapannya melembut. "Sekarang, kamu harus istirahat. Kamu perlu tidur nyenyak, demi kamu dan calon anak kita. Besok akan jadi hari yang panjang dan melelahkan."​Ia membereskan sisa bungkus test pack yang tergeletak di meja, memasukkannya ke dalam tasnya. "Aku harus pu

  • Seumur Hidup Itu Lama Lebih Baik Menjanda   Bab 1. ​Pagi yang Berubah

    ​Bau mie ayam langganan yang biasanya menggugah selera, kini terasa memuakkan hingga ke ulu hati. Aya buru-buru menutup mulutnya rapat-rapat, berlari kecil menuju toilet kantor. Perutnya terasa diaduk-aduk, mulas, lalu kosong lagi setelah ia mengeluarkan isi perut yang tidak seberapa. Sudah empat h

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status