Tama menghela napas panjang, tatapannya melembut. "Sekarang, kamu harus istirahat. Kamu perlu tidur nyenyak, demi kamu dan calon anak kita. Besok akan jadi hari yang panjang dan melelahkan."Ia membereskan sisa bungkus test pack yang tergeletak di meja, memasukkannya ke dalam tasnya. "Aku harus pulang sekarang. Aku butuh waktu sendiri untuk menenangkan pikiran, dan mungkin ... mencari cara terbaik untuk bicara dengan Ibu."Aya meraih tangan Tama yang hendak beranjak. "Kamu baik-baik saja, Tam? Kamu nggak menyesal?"Tama tersenyum pahit, namun tulus. "Menyesal kenapa? Karena mencintaimu? Tidak. Aku hanya ... menyesal karena kita lalai. Karena aku nggak hati-hati. Tapi hasilnya, ini adalah anugerah. Dan aku akan mempertanggungjawabkannya. Kamu nggak usah khawatir, Sayang."Ia mencium kening Aya lama, sebuah ciuman yang menjanjikan perlindungan dan komitmen. "Tidurlah. Kunci pintu kostmu rapat-rapat. Besok pagi-pagi sekali aku jemput, kita langsung ke klinik. Ingat, Seumur Hidup Itu
Última actualización : 2026-03-15 Leer más