Ucapan sang jenderal masih menggantung di kepala Bang Donal, tapi jauh dari tempat itu, malam justru terasa semakin sunyi bagi Indra dan Dina. Motor yang dikendarai Indra melaju stabil membelah jalan kota yang mulai lengang, sementara lampu-lampu jalan memanjang seperti garis tanpa akhir. Dina duduk di belakang, tangannya memegang jaket Indra sedikit lebih erat dari biasanya. Ia tidak lagi berbicara sejak tadi, bukan karena tidak ingin, tapi karena terlalu banyak yang berputar di pikirannya. Semua yang ia lihat malam ini seolah memaksa dirinya untuk melihat Indra dengan cara yang berbeda.Indra tetap fokus ke depan, namun sesekali matanya bergerak ke kaca spion, bukan karena curiga, tapi karena kebiasaan. Sikapnya masih sama seperti sebelumnya, santai dan tidak terburu-buru, seolah semua yang terjadi tidak cukup untuk menggoyahkan ritmenya. Namun justru ketenangan itulah yang membuat Dina semakin sulit mengabaikan kenyataan. Ia teringat bagaimana dulu ia sering meremehkan Indra, bagai
閱讀更多