Se connecterIndra tidak langsung bergerak setelah kalimat itu keluar dari mulutnya. Ia tetap berdiri di tempat yang sama, menatap Dina tanpa berkedip. Napasnya pelan tapi terasa lebih berat dari sebelumnya, seolah ada sesuatu yang akhirnya ia lepaskan setelah lama ditahan. Suasana kamar tidak lagi setegang tadi, tapi justru terasa lebih dekat, lebih jujur, dan tidak punya tempat untuk bersembunyi. Dina berdiri beberapa langkah di depan Indra. Dina tidak mundur, tapi juga tidak maju. Matanya mencoba membaca perubahan di wajah Indra, memastikan apakah ini keputusan atau hanya dorongan sesaat. Jari-jarinya sedikit menggenggam ujung bajunya sendiri, tanda ia masih menahan sesuatu di dalam. “Kamu serius?” tanya Dina pelan sambil menatap Indra lurus. Indra mengangguk kecil. “Aku gak lagi bercanda,” jawab Indra tenang. Dina menarik napas pelan. Dina tidak langsung menjawab, tapi tatapannya mulai berubah. Tidak lagi ragu seperti tadi, lebih ke arah menerima, meski belum sepenuhnya nyaman dengan arah
Tangan Indra masih menggenggam gagangnya beberapa detik lebih lama, seolah ada sesuatu yang menahan dari dalam dirinya sendiri. Bukan ragu untuk pergi, tapi lebih seperti belum benar-benar selesai dengan apa yang terjadi di belakangnya.Dina yang berdiri di belakang Indra tidak bergerak. Dina menatap punggung Indra dengan napas yang masih belum stabil, mencoba memahami apa yang baru saja terjadi di antara mereka tanpa berani memotong lebih dulu.Suasana kamar terasa berbeda.Bukan lagi tegang seperti tadi, tapi justru lebih berat karena tidak ada lagi kata yang menutupi apa pun.“Indra…” panggil Dina pelan.Suara Dina tidak panik, tidak juga keras, tapi cukup untuk membuat Indra berhenti bergerak. Indra tidak langsung menjawab, hanya menunduk sedikit tanpa melepaskan posisinya di depan pintu.“Aku belum selesai,” lanjut Dina dengan suara lebih jelas.Indra menarik napas pelan, lalu menoleh setengah ke arah Dina.“Kamu tadi nanya aku berubah karena sadar atau takut,” ucap Dina sambil m
Kenapa baru sekarang?” tanya Indra dengan suara rendah tapi tegasIndra menatap Dina lurus tanpa berkedip tubuh Indra tidak banyak bergerak tapi tekanan dari tatapan Indra terasa memenuhi ruangan seperti sesuatu yang menekan dadaDina yang berdiri di dekat lemari langsung terdiam Dina terlihat kaget lalu menelan ludah sambil mengalihkan pandangan ke lantai jari Dina bergerak sedikit seperti mencari pegangan di udara yang tidak adaIndra tidak memberi waktu untuk Dina menjawab“Kenapa baru sekarang kamu tiba tiba ingin memberikan tubuh Indra dan ingin anak dari Indra” lanjut Indra dengan nada tetap tenang tapi lebih tajamIndra berdiri perlahan dari tepi ranjang lalu melangkah satu langkah mendekat tanpa mengalihkan pandangan dari DinaLangkah Indra tidak cepat tapi justru itu yang membuat suasana terasa semakin beratIndra berhenti sejenak lalu melanjutkan“Ini karena cinta atau karena kamu baru sadar Indra bukan orang bodoh seperti yang kamu pikir selama ini”Indra sedikit memiringka
Ucapan sang jenderal masih menggantung di kepala Bang Donal, tapi jauh dari tempat itu, malam justru terasa semakin sunyi bagi Indra dan Dina. Motor yang dikendarai Indra melaju stabil membelah jalan kota yang mulai lengang, sementara lampu-lampu jalan memanjang seperti garis tanpa akhir. Dina duduk di belakang, tangannya memegang jaket Indra sedikit lebih erat dari biasanya. Ia tidak lagi berbicara sejak tadi, bukan karena tidak ingin, tapi karena terlalu banyak yang berputar di pikirannya. Semua yang ia lihat malam ini seolah memaksa dirinya untuk melihat Indra dengan cara yang berbeda.Indra tetap fokus ke depan, namun sesekali matanya bergerak ke kaca spion, bukan karena curiga, tapi karena kebiasaan. Sikapnya masih sama seperti sebelumnya, santai dan tidak terburu-buru, seolah semua yang terjadi tidak cukup untuk menggoyahkan ritmenya. Namun justru ketenangan itulah yang membuat Dina semakin sulit mengabaikan kenyataan. Ia teringat bagaimana dulu ia sering meremehkan Indra, bagai
Ucapan Indra barusan tidak terdengar keras, bahkan lebih mirip gumaman yang nyaris tenggelam oleh malam. Namun bagi Dina yang berdiri tidak jauh darinya, setiap kata itu terdengar jelas dan justru terasa lebih berat dari sebelumnya. Ia menoleh pelan ke arah Indra, mencoba memastikan apakah ia tidak salah dengar, tapi ekspresi Indra tetap sama seperti tadi. Tenang, santai, dan seolah tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari kalimat sebesar itu. Justru ketenangan itulah yang membuat Dina semakin sulit memahami siapa sebenarnya pria di hadapannya. “Lo sadar gak sih barusan ngomong apa?” tanya Dina akhirnya, suaranya pelan tapi penuh tekanan. Indra tidak langsung menjawab. Ia hanya menghela napas pelan, lalu melangkah menuju motornya tanpa tergesa. Gerakannya tetap santai, seolah semua yang terjadi barusan hanyalah bagian kecil dari rutinitas yang sudah biasa ia jalani. Ia mengambil helmnya, memutar sedikit di tangan sebelum akhirnya menoleh ke Dina. “Sadar,
Udara malam terasa berbeda sejak momen ketika sang jenderal membungkuk di hadapan Indra. Tidak ada suara kendaraan yang melintas, bahkan angin yang tadi berhembus pelan terasa seperti ikut menahan diri. Dina berdiri beberapa langkah di belakang Indra dengan tubuh kaku, matanya membesar tanpa berkedip, berusaha memahami apa yang baru saja ia lihat. Sosok berseragam itu jelas bukan orang sembarangan, dan sikap hormatnya kepada Indra membuat seluruh logika yang Dina miliki runtuh dalam sekejap. Dalam pikirannya, tidak ada satu pun kemungkinan yang bisa menjelaskan kejadian itu dengan masuk akal.Sang jenderal perlahan menegakkan tubuhnya kembali, gerakannya tetap terukur dan penuh kendali. Wajahnya terlihat tegas seperti biasa, namun kali ini ada sesuatu yang berbeda di sorot matanya, sebuah penghormatan yang tidak dibuat-buat. Ia menatap Indra dengan fokus penuh, seolah memastikan bahwa orang yang berdiri di depannya benar-benar sosok yang ia kenal dari masa lalu. Indra sendiri tetap be
Pagi itu datang perlahan, menyapu rumah besar Dina dengan cahaya hangat yang lembut. Indra membuka mata, namun tubuhnya terasa tegang, seakan malam sebelumnya masih menempel di kulitnya—bayangan, tawa seram, dan ancaman yang menyelusup hingga ke tulang. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan
Bibir mereka bertemu.Awalnya pelan, hampir seperti sentuhan yang tidak sengaja. Ada jeda di sana, jeda yang terasa panjang meski hanya berlangsung dalam hitungan detik. Seolah masih ada bagian dari diri mereka yang belum sepenuhnya percaya bahwa ini benar-benar terjadi. Namun justru di dalam kerag
Dua pria itu tetap berjalan mendekat, tetapi kali ini langkah mereka tidak agresif. Tidak ada upaya langsung menyentuh atau menyerang. Justru itu yang membuat suasana terasa lebih aneh.Indra memperlambat mobilnya hingga benar-benar berhenti.Matanya menyipit sedikit, membaca situasi dengan lebih d
Suasana di dalam showroom mendadak berubah.Tidak ada lagi bisikan meremehkan. Tidak ada lagi senyum mengejek. Semua seperti tertahan di tenggorokan saat melihat seorang jendral benar-benar membungkukkan badan di depan Indra.Waktu seolah berhenti beberapa detik.Indra berdiri diam, menatap pria be







