Matahari pagi di kawasan elit Menteng menyapa dengan pendar keemasan yang hangat, menembus celah-celah jendela kaca besar kamar utama keluarga Madun. Pukul enam lewat tigaratus pagi, udara luar masih terasa sejuk, namun suasana di dalam kamar tidur utama sudah jauh dari kata tenang.Madun, sang jagoan desa legendaris, sudah terbangun lebih dulu. Ia berdiri di tengah ruangan beralaskan karpet bulu tebal, hanya mengenakan kaos oblong putih polos dan celana training hitam longgar. Tentu saja, di kaki kanannya, sandal jepit swallow hijau keramat yang telah menjadi saksi bisu segala pertempuran hidupnya tetap setia menempel, seolah menolak berpisah sedetik pun.Pagi itu, Madun tidak sedang bersantai. Dengan wajah serius layaknya seorang pendekar silat tingkat dewa yang bersiap menghadapi serbuan pasukan musuh, ia mengambil kuda-kuda rendah. Kakinya dibuka lebar-lebar selebar bahu, lututnya ditekuk membentuk sudut siku-siku yang kokoh, kedua tangannya dikepalkan di depan dada dengan juru
閱讀更多