Setelah berminggu-minggu hidup di tengah hutan, dikejar-kejar sapu lidi Nabila, dipalak monyet liar, dan bersembunyi dari amukan Pak RT, Madun mulai merasakan kejenuhan yang luar biasa. Petualangan ekstrem bersama Rara yang hobi manggil "babi" itu memang sangat membakar adrenalin. Namun, sebagai seorang jagoan desa berdarah panas, jiwa petualangnya mulai merindukan suasana baru—suasana yang lebih kinclong, wangi, dan tentu saja, menguji daya pikat tingkat dewanya.Pagi itu, di sebuah kota kecamatan sebelah yang jauh lebih modern, Madun memutuskan untuk "pensiun" sejenak dari status buronan hutan. Ia meninggalkan Rara yang sedang tertidur pulas di hotel melati murahan, lalu melangkah mantap memasuki sebuah café bergaya aesthetic paling hits di pusat kota bernama Café Velvet Glow.Tempat itu jauh dari kesan kumuh. Lantainya mengkilap, lampunya temaram estetik, diiringi alunan musik Lo-Fi yang menenangkan. Yang paling penting: tempat itu dipenuhi oleh gerombolan gadis-gadis cantik, im
閱讀更多