Matahari pagi di kawasan elit Menteng bersinar terik, memantulkan kilau kemewahan pada jajaran gedung-gedung tinggi dan mobil-mobil mewah yang melintas di jalanan protokol. Namun, di balik kemegahan fasad kota tersebut, suasana di dalam RM Jagoan Rasa Restoran mendadak terasa jauh lebih dingin dari biasanya.Jam dinding baru menunjuk pukul sembilan lewat lima belas menit pagi. Madun, sang jagoan desa legendaris, duduk berselonjor santai di kursi V.I.P kesayangannya. Ia mengenakan kaos oblong putih polos kesayangannya, celana training hitam, dan tentu saja—sebagai lambang kehormatan yang tak lekang oleh waktu—sandal jepit swallow hijau keramat yang melekat erat di kaki kanannya. Di hadapannya, secangkir kopi hitam pekat mengepulkan uap tipis.Namun, tidak seperti biasanya yang selalu diisi dengan gelak tawa dan candaan renyah, pagi itu meja makan utama dikelilingi oleh keheningan yang mencekam.Vanesha, Celine, and Audrey duduk merapat, wajah ketiganya tampak tegang sambil menatap
閱讀更多