Sinar jingga matahari sore yang menyusup ke dalam celah gua kapur perlahan memudar, digantikan oleh temaram senja yang mulai menuruni lembah. Madun, Vanesha, Celine, dan Audrey terbangun dari tidur singkat mereka dengan kondisi fisik yang benar-benar hancur lebur.Bayangkan saja: rambut berdiri karena ledakan tabung gas portabel, kulit berlumuran lumpur rawa yang sudah mengering dan mengeras seperti cangkang kura-kura, pakaian robek di sana-sini, serta aroma tubuh yang merupakan kombinasi sempurna antara minyak jelantah lele goreng, kotoran kerbau, dan keringat malam sebelumnya."Guys..." ucap Celine dengan suara serak, menatap bayangan wajahnya di genangan air jernih di lantai gua. "Kalau kita jalan ke jalan raya besar sekarang, kita bakal dikira sebagai kawanan zombi lokal yang lolos dari kuburan masal."Vanesha menghela napas panjang, merapikan rambutnya yang kaku penuh lumpur menggunakan jarinya. "Gua udah nggak peduli lagi sama penampilan. Yang penting sekarang kita keluar da
閱讀更多