“Wah, “Rumah Sakit Jiwa di Jurang Kegelapan”! Ini pasti sangat seru! Shanny, ayo kita coba yang itu!”Di taman hiburan, Lia menunjuk ke sebuah bangunan hitam yang tampak suram di dekatnya, matanya berbinar penuh semangat.Aku menatap ragu bangunan itu dan merasa sedikit tidak nyaman.Aku memang tidak terlalu suka wahana rumah hantu yang penuh kejutan, apalagi sejak Lia punya pacar, aku semakin tidak nyaman dengan situasi “bertiga” seperti ini.Rasanya seperti aku hanya menjadi orang ketiga di antara mereka.Sepertinya Lia menyadari pikiranku, ia berkata sambil menghela napas, “Shanny, lihatlah dirimu. Di kampus banyak sekali yang mengejarmu, tetapi kamu malah hidup seperti biarawati. Sekarang kamu menyesal, kan?”Dia lalu mendekat ke telingaku dan berbisik pelan, “Kalau nggak, mau kupinjamkan David padamu? Kuberitahu, dia terlihat kalem tetapi kalau soal itu … dia sangat hebat. Setiap kali membuatku tidak bisa bangun dari tempat tidur.”“Lia! Apa yang kamu bicarakan?!”Telingaku langsu
Baca selengkapnya