Di dalam kamar, Ratih duduk di depan meja rias. Melihat ekspresi Rusmini yang ragu ingin berbicara, dia tersenyum tipis. "Aku tahu kamu ingin bicara apa."Sambil berkata begitu, Ratih menatap bayangannya di cermin perunggu yang tampak sedikit pucat karena sakit. Dia melepas hiasan di rambutnya, lalu berkata pelan, "Rusmini, kamu nggak perlu mengatakan apa pun. Aku tahu apa yang sedang kulakukan."Dia adalah menantu Keluarga Wibisono, sedangkan Pramuda adalah cucu tertua paling berprestasi. Dia tahu ada banyak mata yang memperhatikannya, menunggu kesalahannya.Dulu, demi keharmonisan dan ketenangan rumah, Ratih tidak berani berbuat salah, tidak berani meluapkan emosi, selalu mengalah, berusaha menjaga hubungan dengan Pramuda, takut kalau dirinya justru menyeret Pramuda.Namun, sisa hidup yang tampak jelas akan panjang dan berat itu, justru membuatnya semakin merasa jenuh.Jika seumur hidup harus terjebak dalam belenggu yang membosankan dan tanpa arti seperti ini, dia pikir mengakhirinya
Read more