Tangan itu hangat dan besar, tetapi tubuh Ratih malah tanpa sadar menegang sedikit. Muncul perasaan mual dari dalam dirinya. Satu-satunya momen Pramuda tidak bersikap dingin padanya, hanyalah ketika di ranjang.Mereka memang tidak terlalu sering tidur bersama. Sering kali, ketika Pramuda datang untuk tidur, Ratih malah sudah terlelap lebih dulu. Meski tidak sering, gerakan Pramuda juga tidak bisa dibilang lembut, bahkan sering kali dia menuntut untuk dipuaskan lebih dari sekali dalam satu malam.Dulu, Ratih selalu berusaha menyesuaikan diri dengannya demi bisa cepat hamil. Namun sekarang, ketika tangan Pramuda jatuh di pinggangnya, Ratih malah refleks menjauh.Bagian belakang lehernya terasa hangat. Suara Pramuda yang serak terdengar dari belakang, "Ratih, dulu aku memang mengabaikanmu, tapi hubungan kita belum sampai pada titik harus bercerai.""Pertama, kamu nggak pernah kekurangan apa pun di rumah ini. Kedua, laki-laki lain dengan latar belakang seperti aku, mana ada yang nggak puny
Read more