Lelaki itu merasakan geli di sekujur tubuh.Tak lama, dadanya terasa hangat. Hangat yang aneh. Hangat yang... lembap.Lehernya dijilati dengan penuh gairah. Semakin basah...Ong Bwee membuka mata."Hunpo! LO̤H--KHÌ!" (Hunpo! TURUN!)"Guk!" Hunpo menggonggong, matanya berbinar. Bukan karena sayang. Tapi karena minta daging.Ong Bwee menghela napas. Ia mengelus kepala anjing itu."Hó--lah, hó--lah. Tán--leh chiah chia̍h. Tān-sī lí seng lo̍h-khì, oai--o!" (Iya, iya. Nanti kita makan. Tapi turun dulu, woi!)Pagi itu, semua berkumpul di meja makan.Meja panjang di rumah kebun ceri itu penuh. Jendral Lauw duduk di kursi paling utama—sesuai adat, sebagai yang menggantikan tetua. Sioh Seng di sampingnya. Sioh Bu dan Ging Han bersebelahan, masih saling sikut seperti biasa. Ah Gwat duduk dengan gaya elegan.Guru Tampan dan Nyonya Nio masuk bersama. Membawa teko dan gelas, diikuti pelayan-pelayan.Nyonya Nio—yang kemarin masih lumpuh—kini berjalan sendiri. Pelan, tapi pasti. Ia melakukan pai pai
Zuletzt aktualisiert : 2026-03-21 Mehr lesen