"Engkoh yakin masuk ke larutan ginian?" tanya Sioh Bu.Pangeran nekat itu tidak menjawab. Ia hanya tersenyum, lalu masuk ke bak tanpa basa-basi.Air yang sedari tadi bergolak seperti tersiram lava itu mendadak berubah. Gelembung-gelembungnya meredup, lalu menjadi sangat tenang.Tenang seperti danau di pagi hari.Guru Tampan demi mendengar suara buih itu berhenti, langsung mengintip. Matanya merah, rambutnya kacau. Tiga hari tidak tidur.Sì Hong To yang biasanya di punggung, kini berpindah ke tangan. Golok kecil sakti itu ia asah-asah pelan."Kalo lecet lagi, kupotong lehermu, Sinseh gila!" serunya setengah berbisik, setengah menggeram.Ia berjalan mondar-mandir. Keluar-masuk rumah. Keluar-masuk tempat Ong Bwee berendam. Seperti harimau tua yang kelaparan.Pelayan yang biasa bergunjing diam seribu bahasa. Mereka tahu artinya: satu kata salah, satu leher bisa terbang.Di dalam bak, Ong Bwee tidak merasakan nyeri. Anehnya, air itu terasa hangat—tidak panas, tidak dingin. Hanya... tenang.
Zuletzt aktualisiert : 2026-03-21 Mehr lesen