Sì Hong To (Golok Empat Penjuru)

Sì Hong To (Golok Empat Penjuru)

last update最終更新日 : 2026-03-21
作家:  The Bwee Lan連載中
言語: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
評価が足りません
40チャプター
3ビュー
読む
本棚に追加

共有:  

報告
あらすじ
カタログ
コードをスキャンしてアプリで読む

概要

Fantasi Timur

Kesatria

Kerajaan

Dalam dunia Kang Ouw (dunia para pendekar silat Tiongkok), ada dua pusaka yang menjadi idaman semua pendekar Kang Ouw: Golok Empat Penjuru dan Ular Emas Maut. Setiap sepuluh tahun sekali, mereka yang terkuat akan bertarung memperebutkannya-bukan sekadar senjata, tapi juga tahta sebagai Ketua Aliansi Pendekar, yang disegani di Tiga Dunia dan Sembilan Benua. Delapan belas tahun lalu, dua pendekar terhebat menang. Pendekar Go Hong Liu. Pendekar wanita misterius, Pendekar Ular Giok. Malam itu, mereka hilang bersama pusakanya. Sekarang, seorang pangeran terbuang mendaki Gunung Lok San. Di depan gua, ia muntah darah mengenang wanita yang dicintainya-yang dipaksa menikah dengan Raja Utara oleh intrik Selir Hui. Guru di dalam gua itu memegang liontin giok-pemberiannya pada tunangan yang hilang tiga puluh tahun lalu. Golok akan bangkit. Pedang akan hancur. Dan dendam akan lunas. Inspirasi: Lagu Si Bu Liao, by Ricchie Ren.

もっと見る

第1話

SKANDAL DI WISMA BO TAN HWA

---

Kabut tipis masih bergelayut di atap-atap kota, seperti selimut usang yang enggan dilepaskan. Lampu-lampu kertas di kawasan hiburan mulai redup, kedap-kedip kehabisan minyak setelah semalam suntuk menemani para pendosa. Dari dalam gang buntu, samar-samar terdengar suara pecahan piring dan tawa sumbang yang mulai memudar.

Di ujung gang itu, berdiri sebuah bangunan dua lantai. Ukiran bunga Bo Tan Hwa di setiap sudutnya telah rapuh dimakan usia dan lumut. Kelopak demi kelopak patah, seperti kehormatan yang dijual per lembar. Wisma Bo Tan Hwa. Tempat para bangsawan muda membuang harkat demi secangkir arak dan seulas senyuman.

Namun pagi ini, suara yang keluar dari dalam wisma bukanlah alunan musik atau tawa.

Brak!

Pintu kamar di lantai dua jebol. Bukan terbuka—jebol. Serpihan kayu berhamburan ke lorong, mengenai lampu minyak di dinding hingga hampir padam.

Dua pria bertubuh kekar dengan pakaian serba gelap—khas kasim istana—masuk dengan mata menyala. Pelita di sudut kamar hampir padam, menyisakan remang yang cukup untuk melihat sesosok pemuda terbangun dengan kaget.

Pangeran Ong Bwee.

Rambutnya kusut, dadanya terbuka. Di sampingnya, seorang perempuan segera menarik selimut hingga ke dagu, matanya membelalak. Tapi jika diperhatikan lebih teliti, ketakutan di matanya... berlebihan. Seperti latihan.

"Ampun, Tuan-Tuan...!" rengeknya, suara pecah—terlalu pecah. "Saya tidak tahu... saya tidak tahu dia pangeran—"

Para kasim mengabaikannya. Mereka hanya punya satu target.

"Seret dia!"

Dua pria kekar itu menyerbu. Tangan mereka mencengkeram lengan Ong Bwee—dan untuk sepersekian detik, sesuatu terjadi di matanya. Bukan ketakutan. Bukan perlawanan. Tapi... lega. Hanya sekilas. Hampir tak terlihat.

Namun sebelum kasim sempat berpikir lebih jauh, tubuh Ong Bwee sudah dihempaskan ke lantai. Bruk! Wajahnya mencium dinginnya papan kayu. Tambang kasar segera melilit pergelangan tangannya—terlalu kencang, meninggalkan bekas merah yang langsung membengkak.

Ia tidak melawan. Membiarkan dirinya digiring keluar kamar. Saat melintas di depan perempuan yang masih terbungkus selimut, untuk sepersekian detik, mata mereka bertemu. Perempuan itu menatapnya bukan dengan takut, tapi dengan tanya. Ong Bwee tidak menjawab. Tapi sudut matanya bergerak—sangat tipis—ke arah pintu. Ke arah luar. Perempuan itu mengangguk. Hampir tak terlihat. Lalu pura-pura menangis lagi.

---

Di lorong wisma, kepala-kepala mulai mengintip dari balik pintu. Beberapa wanita penghibur menutup mulut, yang lain berbisik-bisik.

"Itu Pangeran Ong Bwee?" bisik seorang wanita tua.

"Iya. Yang sering datang diam-diam," sahut yang lain. "Yang selalu bayar lebih dari yang seharusnya."

Seorang wanita muda menatap punggung Ong Bwee yang mulai menjauh. Ia ingat. Seminggu lalu, Pangeran itu memanggilnya ke kamar. Bukan untuk memesan hiburan. Tapi untuk memberi instruksi.

"Lusa malam, kau harus ada di kamarku. Dan kau harus terlihat takut saat mereka datang. Bisa?"

Wanita itu mengangguk, meski bingung.

"Kenapa, Pangeran?"

Ong Bwee tersenyum. Bukan senyum bahagia. Tapi senyum getir orang yang sudah lelah.

"Karena aku tidak tahan lagi di sana."

Sekarang, melihat punggung itu semakin menjauh, wanita itu menggigit bibir. Dalam hati ia berdoa, semoga rencana gila ini berhasil.

---

Fajar merekah saat rombongan itu tiba di gerbang istana. Warna jingga langit pagi seolah mengejek—terlalu indah untuk hari yang begitu kelam. Para prajurit berbaris di kiri-kanan. Pedang mereka terhunus, bukan untuk melindungi, tapi untuk memastikan tontonan ini sempurna.

Rakyat yang berangkat kerja berhenti. Mereka yang baru pulang dari pasar ikut berkerumun.

"Itu Pangeran Ong Bwee?" "Di mana dia ditangkap?" "Di Wisma Bo Tan Hwa! Bersama wanita bayaran!"

Tawa pecah. Malu. Hina. Skandal. Tiga kata itu menari di kepala setiap orang yang melihatnya. Tapi bagi Ong Bwee, ada satu kata lain: bebas.

Ia berjalan tertatih, tangan terikat. Bekas tambang di pergelangan tangannya mulai berdarah, merembes perlahan membasahi lengan bajunya. Di antara kerumunan, seorang gadis kecil menatapnya dengan mata bulat.

"Ibu, kenapa pangeran itu diikat?" tanyanya polos.

Ibunya segera menutup mulut anak itu dan menariknya pergi. Tapi sebelum benar-benar menghilang, wanita itu sempat menoleh. Sekilas. Di matanya, ada tanya.

Ong Bwee menangkap tatapan itu. Dan untuk pertama kalinya pagi itu, ia merasa ada yang melihatnya sebagai manusia. Tapi manusia macam apa yang tega menjadikan dirinya tontonan? Ia ingat Chhiu Nio. Ingat Giok Lan. Ingat semua pangeran bunga yang hancur diam-diam. Ia menguatkan hati. Ini satu-satunya jalan.

---

Di Aula Sidang, dinginnya marmer menusuk tulang. Selir Hui duduk di kursi utama, senyum tipis di bibir. Tangannya memainkan gelang giok—lambang kekuasaan yang ia rebut setetes demi setetes.

"Inilah buah dari didikan Nio Hong Lan," ujarnya lantang. "Seorang putra selir yang tak tahu diri. Bukan hanya menghina martabat keluarga kekaisaran, tapi juga mencoreng nama harum istana dengan berkubang di Wisma Bo Tan Hwa. Tempat sampah!"

Di belakang Ong Bwee, kursi roda didorong masuk. Nio Hong Lan. Lumpuh. Tapi punggungnya tetap tegak. Matanya menatap punggung putranya—bukan tatapan ibu yang menangisi anak, tapi tatapan seseorang yang sedang mengingat.

Selir Kwan melangkah maju. "Bukankah sebaiknya kita selidiki dulu siapa yang membawanya ke sana? Pangeran Ong Bwee masih muda. Mungkin dia terpengaruh."

Wajah Selir Hui berubah. "Selir Kwan! Jangan lancang! Atau jangan-jangan kau dan putrimu, Chhiu Nio, punya maksud tersembunyi?"

Selir Kwan tersentak. "Tentu tidak!"

"Syukurlah." Selir Hui tersenyum sinis. "Karena kebetulan, aku punya kabar gembira untuk putrimu. Sebagai bentuk persahabatan antar negeri, Chhiu Nio akan dipersunting Raja Utara. "

Aula riuh. Chhiu Nio melangkah keluar dari balik pilar tanpa sadar. Air matanya jatuh. Pandangannya mencari Ong Bwee. Di matanya, ada harap. Ada doa. Selamatkan aku.

Ong Bwee menatap balik. Dadanya hancur. Ini tidak ada dalam rencananya.

"Pangeran Ong Bwee, karena skandal yang mencoreng nama keluarga kekaisaran, dijatuhi hukuman buang ke luar istana selama delapan tahun! Ibunya, Nio Hong Lan, juga diusir! Anjingnya dan ajudannya harus dibuang! Berangkat sekarang!"

Ong Bwee menatap Chhiu Nio sekali lagi. Gadis itu sudah ditarik paksa. Maafkan aku. Aku akan kembali. Tapi tidak sekarang.

---

Mereka digiring keluar. Nio Hong Lan duduk di tandu seadanya—bambu dan kain usang. Di gerbang kota, Ong Bwee menggenggam tali anjingnya. Hunpo menjilati lukanya. Hangat. Basah.

Ia menunduk, membelai kepala Hunpo. "Kau tidak tahu, ya? Bahwa aku sengaja melakukan semua ini?"

Hunpo menggonggong pelan.

"Syukurlah. Setidaknya ada satu makhluk di dunia ini yang tidak perlu ikut memikul rencanaku."

Lalu ia melangkah. Bukan ke gunung. Bukan ke hutan. Tapi kembali—ke Wisma Lan Hwa, tempat penuh rahasia yang diam-diam ia bangun.

---

BERSAMBUNG... 🐉❄️🐕

---

もっと見る
次へ
ダウンロード

最新チャプター

続きを読む

読者の皆様へ

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

コメントはありません
40 チャプター
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status