Bu Isa keluar dari pintu rumah dengan celemek masih terpasang dan sendok kayu di tangan kanan.Ia melangkah ke lapak seperti biasa, mau bilang sesuatu ke Pak Nadi soal kuah yang perlu ditambah garam, tapi kakinya berhenti dua langkah sebelum sampai ke gerobak.Di bangku plastik yang biasanya cuma ditempati pelanggan tetap atau Vanka yang malas sarapan di dalam, ada seorang pria dengan kemeja putih lengan panjang yang dilipat sampai siku, duduk dengan mangkuk bakso di tangan dan punggung yang terlalu tegak untuk bangku plastik semurah itu.Bu Isa menatapnya.Pria itu menoleh karena merasakan ada yang memandang.Mata mereka bertemu.Dua detik. Tiga detik.Efra meletakkan mangkuknya, berdiri dari bangku plastik itu, dan berjalan dua langkah ke arah Bu Isa. Ia membungkuk, mengambil tangan Bu Isa dengan kedua tangannya, dan menyalaminya dengan cara yang tidak perlu ada yang mengajarinya karena sudah ada di dalam tulang-tulangnya sejak ia tahu siapa perempuan ini.Bu Isa tidak langsung berg
Last Updated : 2026-05-02 Read more