"Vanka, kamu mau nasi tambahannya tidak?"Tidak ada jawaban.Bu Isa menoleh. Putri bungsunya itu duduk dengan garpu menggantung di udara, matanya menatap ke arah meja tapi tidak benar-benar melihat apa pun di sana."Vanka.""Hm?" Vanka berkedip, mendongak. "Maaf, Mama. Tadi bilang apa?"Bu Isa dan Pak Nadi bertukar pandang sebentar di atas meja.Reno yang duduk di sebelah Vanka justru tidak peduli dengan drama itu. Ia sibuk berkutat dengan paha ayam gorengnya, pipinya belepotan minyak, dan tidak ada satu pun dari semua itu yang mengganggunya."Nasi tambahannya mau tidak?" ulang Bu Isa."Oh. Nggak, Ma. Ini juga masih banyak."Hasan meletakkan sendoknya pelan. "Vanka, aku mau tanya sesuatu.""Apa, Kak?""Kamu ada rencana kerja di sini? Kalau belum ada tujuan, kamu bisa jadi staf ahli IT di kantorku. Posisinya sudah lama kosong dan kamu lebih dari cukup untuk itu."Vanka menatap kakak iparnya sebentar, lalu tersenyum tipis. "Makasih, Kak. Tapi Vanka mau napas dulu. Nanti kalau sudah siap
Terakhir Diperbarui : 2026-03-22 Baca selengkapnya