Ketukan di pintu depan itu keras. Dua kali. Vanka tidak bergerak dari tepi ranjangnya. "Neng! Buka dulu pintunya, Mamah tanggung lagi beresin cucian!" teriak Bu Isa dari dapur. Vanka meletakkan ponselnya di atas meja rias, berdiri, dan berjalan ke ruang tamu. Lampu kuning di langit-langit menerangi ruangan dengan cahaya yang hangat tapi redup. Tangannya menyentuh gagang pintu, berhenti sebentar, lalu membukanya. Di teras, Hasan berdiri dengan Reno di gendongannya. Mata Reno sembab, pipinya masih basah, tapi ia sudah berhenti menangis. Begitu melihat Vanka, kedua tangannya langsung meraih ke depan. "Mimih." Vanka mengambil Reno dari gendongan Hasan tanpa banyak bicara. Bocah itu langsung menempelkan wajahnya ke leher Vanka, napasnya masih sesekali tersengguk. "Maaf, Van." Hasan mengusap tengkuknya. "Dari tadi nangis terus, minta ketemu kamu. Kasihan juga kalau dibiarkan." "Tidak apa-apa, Kak." Vanka menyalami tangan Hasan. "Masuk dulu, istirahat." Hasan menggeleng. "Ti
Dernière mise à jour : 2026-04-11 Read More