Semua orang seketika tertegun. Tubuh Dyah sempat goyah sejenak, tetapi saat menyadari tidak ada yang memperhatikan keganjilan itu, dia segera kembali tenang dan menggelengkan kepala dengan raut tak berdosa."Aku ... bukan begitu, aku nggak pernah melakukannya."Arya menatap Dyah dengan penuh iba, merangkulnya ke dalam pelukannya sembari menghapus sisa air mata di wajah gadis itu."Dyah, jangan menangis lagi. Kami semua tahu persis bagaimana sifat dan kebaikan hatimu."Bhima pun berdiri di sisi Dyah, berusaha keras untuk menghiburnya agar Dyah kembali tersenyum."Dyah, berhentilah menangis. Nanti Kakak akan menemanimu menikmati rembulan. Adikku ini jauh lebih cantik daripada Dewi Bulan sekali pun."Di tengah kerumunan orang yang memujanya, Dyah akhirnya berhenti menangis dan tersenyum simpul. Namun, saat tatapannya beralih kepadaku, raut wajahnya menampakkan kilatan kemenangan dan provokasi yang nyata.Aku tertawa mengejek. "Lihat, 'kan? Seribu kata yang kuucapkan nggak akan pernah bisa
Leer más