مشاركة

Setelah Aku Mati dan Pergi, Target Penaklukanku Menjadi Gila
Setelah Aku Mati dan Pergi, Target Penaklukanku Menjadi Gila
مؤلف: Lilis

Bab 1

مؤلف: Lilis
Ambang pintu di Istana Pengasingan tidak terlalu tinggi. Setelah menumpuk dua bak cuci baju sebagai pijakan, akhirnya aku berhasil menggantung diriku di sana.

Sebentar lagi, aku akan pulang!

Aku sudah tidak sabar untuk berkumpul kembali dengan keluargaku. Dengan satu sentakan kuat, kedua kakiku menendang tumpukan bak itu. Seketika, rasa sesak yang hebat menjerat leherku.

Kesadaranku perlahan mengabur. Suara musik istana yang meriah di kejauhan terdengar makin kecil dan segala hal yang pernah kulalui di dunia ini melintas cepat di benakku bagaikan potongan film yang berputar ulang.

Aku menjalani hidup sejak bayi di Kekaisaran Wira Agung ini selama 21 tahun. Ada empat target yang harus kutaklukkan, asalkan aku berhasil mendapatkan tingkat kesukaan penuh dari salah satu saja, diriku di dunia asal bisa sembuh dari penyakit mematikan.

Keempat target penaklukanku adalah pilar bangsa, putra-putra langit yang begitu diagungkan. Namun, demi sang tokoh utama wanita, mereka semua membenciku hingga ke tulang sumsum, seolah mereka tak sabar melihatku mati.

Kini, akhirnya Sistem menyatakan misi ini gagal. Aku pun pergi, memenuhi keinginan mereka.

Dalam keremangan maut, sayup-sayup aku mendengar seseorang meneriakkan namaku.

Begitu napas kembali memenuhi paru-paruku, seember air dingin diguyurkan tepat ke wajahku. Rasa dingin yang menusuk itu membuatku tersedak dan terbatuk hebat.

Saat aku mendongak, seorang pria yang mengenakan jubah ungu khas pejabat kasim tengah memutar butiran tasbihnya, menatapku dengan raut wajah yang sangat gelap.

Wajah itu terlalu familier. Dalam kondisi kesadaran yang belum pulih sepenuhnya, nama itu meluncur begitu saja dari bibirku.

"Kresna?"

Baru saja aku memanggilnya, penyesalan langsung datang.

Benar saja, begitu mendengar cara aku memanggilnya, pria itu mengernyitkan dahi dengan tatapan penuh rasa jijik.

"Jangan berani-berani menyebut namaku. Kamu nggak layak!"

Pemuda dingin di hadapanku ini adalah sosok yang namanya saja sudah cukup membuat seantero Kekaisaran Wira Agung gemetar ketakutan. Dialah kasim berkuasa tinggi, sekaligus salah satu target penaklukanku, Kresna Lesmana.

Dulu, saat keluarganya dibantai habis, akulah yang mempertaruhkan nyawa untuk menggalinya keluar dari tumpukan mayat. Aku membawanya pulang dan merawat luka-lukanya yang parah selama lebih dari setengah tahun dengan tanganku sendiri.

Kala itu, Kresna yang baru saja kehilangan seluruh keluarganya tampak seperti seekor anak binatang yang terluka. Dia menolak siapa pun yang mencoba mendekat.

Namun, perlahan-lahan aku berhasil membuka pintu hatinya dan membimbingnya agar berhenti menyakiti diri sendiri.

Demi memulihkan nama baik keluarganya, dia bertekad menyusup ke istana dengan identitas samaran. Dia merangkak naik setahap demi setahap, hingga akhirnya menjadi kasim paling berkuasa yang mampu mengguncang pemerintahan.

Melalui cobaan hidup dan mati yang tak terhitung jumlahnya, aku telah melihat sisi dirinya yang paling hancur. Aku pernah menjadi sosok yang paling dia percayai di dunia ini.

Sayangnya, itu semua adalah cerita empat tahun yang lalu.

Pada malam festival musim hujan empat tahun silam, saat aku menikah dengan Putra Mahkota, semua orang datang memberikan doa restu. Bahkan Sistem pun meyakini bahwa misiku hampir berhasil.

Namun, di malam yang sama, Dyah Daneswara, sang tokoh utama wanita di dunia ini, pergi meninggalkan sepucuk surat.

Dalam surat itu, setiap kata yang dia tulis seolah berlumuran darah. Dia menuduhku telah menjebaknya, menggiringnya ke sebuah kuil tua yang rusak hingga dia dinodai oleh para pengemis.

Dalam surat itu, Dyah menulis bahwa dia tak lagi punya muka untuk menghadapi siapa pun. Dia memilih pergi menjauh dan menghabiskan sisa hidupnya dalam kesendirian yang menyakitkan.

Sejak saat itu, duniaku runtuh. Kakak kandungku sendiri menyeretku keluar dan mengusirku dari rumah, bersumpah untuk memutus hubungan darah denganku.

Sang Putra Mahkota mencopot gelar Selir Agungku dan merendahkan statusku menjadi sekadar pelayan rendahan di Istana Timur.

Sementara itu, Kresna, dengan kekuasaannya sebagai Kepala Kasim Istana, membuangku ke Istana Pengasingan. Di sana, setiap hari aku dipaksa mencuci tumpukan pakaian kotor para kasim tanpa henti.

"Dyah menderita di luar sana tanpa kita tahu nasibnya, sementara wanita berhati iblis sepertimu hidup dengan tenang? Kamu harus menebus dosamu setiap detik, setiap hari!" desisnya kala itu.

Empat tahun di Istana Pengasingan, aku kenyang akan hinaan dan siksaan. Meski aku telah mencoba segala cara untuk membuktikan bahwa aku tidak bersalah, tak satu pun orang sudi memercayaiku.

Kini, Dyah telah kembali. Sang Putra Mahkota bertekad untuk menjadikannya satu-satunya wanita dalam hidupnya, sehidup semati. Kehadiranku, bahkan di pojok Istana Pengasingan yang kumuh sekalipun, tak lagi bisa mereka toleransi.

Karena itulah, Sistem menyatakan misiku gagal total. Satu-satunya jalan bagiku adalah segera mengakhiri hidup agar bisa pulang ke duniaku yang asli, menghabiskan sisa umurku yang singkat di sana.

Kresna memberi isyarat dan dua orang kasim segera meringkus serta memaksaku berdiri tegak. Begitu melihat bekas jeratan merah di leherku, seulas senyum sinis melintas di matanya yang tajam.

"Panggung sandiwaranya bahkan belum siap, tapi kamu sudah nggak sabar ingin beraksi? Ingin mati?" tanyanya dengan nada meremehkan. "Kamu salah pilih tempat. Istana Pengasingan ini terpencil, nggak akan ada orang yang sudi menonton pertunjukan konyolmu ini."

Aku hanya bisa menyunggingkan senyum pahit. Dia benar-benar mengira aku hanya berpura-pura ingin mati?

"Tuan Kresna, kalau memang Istana Pengasingan ini begitu terpencil, lantas mengapa kamu bisa muncul di sini? Jangan-jangan kamu sengaja datang khusus untuk menemuiku?"

Raut wajah Kresna seketika menegang. Namun, dia segera mendengus sinis. "Dyah sudah kembali. Di hari yang penuh suka cita ini, aku nggak ingin kamu mengganggu kebahagiaannya sedikit pun. kalau kamu memang ingin mati, silakan. Tapi, matilah di tempat yang jauh dari sini!"

Atas perintah Kresna, para pengawal menyeretku dan melemparku keluar dari gerbang istana bersama buntelan pakaianku. Dia berdiri di sana, menatapku dari atas dengan tatapan jijik, seolah aku adalah tumpukan sampah yang mengotori pandangannya.

"Setelah keluar dari gerbang ini, apa kamu pikir aku masih akan peduli kamu hidup atau mati?"

Aku mendongak, lalu melempar senyum paling cerah yang pernah kuberikan padanya.

Justru itu yang terbaik. Aku akan pulang!

Tanpa membawa satu barang pun, aku berlari menuju jembatan parit yang mengelilingi tembok istana, lalu tanpa ragu aku melompat.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Setelah Aku Mati dan Pergi, Target Penaklukanku Menjadi Gila   Bab 8

    Dyah berusaha tetap tenang dan berujar, "Kak Kresna, sepertinya matamu sedang bermasalah. Pelayan-pelayan di tempatku ini memang sengaja kupilih yang berbadan bongsor dan kuat, jadi dari luar mereka memang terlihat agak mirip laki-laki."Meski Kresna masih menyimpan keraguan, tetapi dia selalu memercayai kata-kata Dyah tanpa syarat.Dyah kemudian mengusulkan agar dia sendiri yang mengantarku masuk kembali dan meminta para pria itu untuk menunggu di luar gerbang sebentar.Begitu sampai di dalam vihara, Dyah mengusir semua pelayan keluar. Dia mencengkeram daguku dengan sangat keras, menarik wajahku hingga jarak kami begitu dekat."Kamu ingin minta tolong, ya? Buang jauh-jauh harapanmu itu. Kamu pikir mereka nggak tahu kalau kamu sedang menderita di sini? Kenyataannya, nggak ada satu pun dari mereka yang peduli!"Aku menyunggingkan senyum tipis. Aku mengulurkan tanganku untuk menyentuh bibir Dyah dan seketika itu juga, bibirnya berubah menjadi ungu kehitaman.Sebenarnya, aku sama sekali t

  • Setelah Aku Mati dan Pergi, Target Penaklukanku Menjadi Gila   Bab 7

    Aku tergeletak seperti ikan mati di hadapan Dyah. Aku sangat ingin bertanya padanya, mengapa dia begitu tega menjebak dan menyiksaku sampai seperti ini.Akan tetapi, Dyah mendahuluiku bicara. "Lihatlah, inilah nasib yang pantas bagi karakter figuran seperti dirimu. Jangan terkejut, aku juga seorang Pengelana Misi dan akulah tokoh utama wanita di dunia ini. Beraninya kamu, seorang karakter figuran, mencoba merebut para lelaki milikku?"Sekarang semuanya menjadi jelas. Saat ini, aku justru berharap Dyah cukup membenciku hingga bersedia membunuhku. Aku tidak mau lagi bermain dalam permainan gila ini. Aku tidak peduli pada misi ini lagi, aku hanya ingin pulang.Dyah seolah bisa menebak isi pikiranku, dia pun mengejek, "Ingin mati? Aku nggak akan membiarkanmu mendapatkan keinginanmu dengan mudah. Kalau kamu gagal menyelesaikan misi dan tetap tertahan di sini selama satu tahun lagi, tubuh aslimu di dunia nyata nggak akan pernah bisa bangun lagi. Aku akan mengambil alih seluruh poin misimu da

  • Setelah Aku Mati dan Pergi, Target Penaklukanku Menjadi Gila   Bab 6

    Aku merasa seolah telah tertidur dalam waktu yang sangat lama. Di dalam mimpi, aku melihat wajah Ayah dan ibuku yang sembap karena tangisan penuh kecemasan."Ranti, jangan takut. Penyakitmu pasti akan sembuh. Ayah dan Ibu akan melakukan apa saja, bahkan akan menjual segalanya demi mengobatimu."Karena itulah, saat Sistem datang menemui dan menawariku sebuah kesepakatan, aku langsung setuju tanpa ragu sedikit pun untuk masuk ke dunia misi ini.Sistem telah membekukan waktu di dunia asalku. Saat aku pergi meninggalkan dunia nyata, kebetulan saat itu juga sedang perayaan festival musim hujan. Ibu bilang, dia akan membawakan kue bulan kesukaanku saat pulang nanti.Di dalam mimpi, aku berhasil menyelesaikan misi dan pulang ke rumah, tetapi aku tidak lagi bisa menemukan Ayah dan ibuku di sana.Aku mencari ke setiap sudut ruangan, tetapi sosok mereka tetap tidak ada."Ayah! Ibu!"Aku terbangun dengan teriakan histeris dan tangisan. Di depanku, terpampang wajah Bhima yang memiliki kemiripan 80

  • Setelah Aku Mati dan Pergi, Target Penaklukanku Menjadi Gila   Bab 5

    Semua orang seketika tertegun. Tubuh Dyah sempat goyah sejenak, tetapi saat menyadari tidak ada yang memperhatikan keganjilan itu, dia segera kembali tenang dan menggelengkan kepala dengan raut tak berdosa."Aku ... bukan begitu, aku nggak pernah melakukannya."Arya menatap Dyah dengan penuh iba, merangkulnya ke dalam pelukannya sembari menghapus sisa air mata di wajah gadis itu."Dyah, jangan menangis lagi. Kami semua tahu persis bagaimana sifat dan kebaikan hatimu."Bhima pun berdiri di sisi Dyah, berusaha keras untuk menghiburnya agar Dyah kembali tersenyum."Dyah, berhentilah menangis. Nanti Kakak akan menemanimu menikmati rembulan. Adikku ini jauh lebih cantik daripada Dewi Bulan sekali pun."Di tengah kerumunan orang yang memujanya, Dyah akhirnya berhenti menangis dan tersenyum simpul. Namun, saat tatapannya beralih kepadaku, raut wajahnya menampakkan kilatan kemenangan dan provokasi yang nyata.Aku tertawa mengejek. "Lihat, 'kan? Seribu kata yang kuucapkan nggak akan pernah bisa

  • Setelah Aku Mati dan Pergi, Target Penaklukanku Menjadi Gila   Bab 4

    Pedang milik Arya sangatlah tajam. Meski dia sempat menarik kekuatannya di detik terakhir, mata pedang itu tetap menembus kulitku sedalam lebih dari dua inci.Karena sebelumnya aku dipaksa menelan pil khusus dari Bhima, rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhku terasa jauh lebih hebat daripada yang dialami orang normal.Darah segar mengalir perlahan, merembes ke lantai. Aku kehilangan seluruh tenagaku dan ambruk di tengah genangan darah sendiri.Tidak apa-apa, sedikit lagi, tahan sedikit lagi, dan aku akan pulang!Istana Timur seketika dilanda kekacauan hebat. Semua orang berkerumun di sekelilingku. Aku bisa merasakan seseorang sedang menekan lukaku dengan kain pakaiannya, mencoba mati-matian untuk menghentikan pendarahan."Ranti, jangan berani-berani memejamkan matamu!"Dalam kesadaranku yang mulai kabur, aku seolah melihat bayangan sosok yang sangat kukenal. Wajahnya tampak kusam penuh debu perjalanan dan dia terus meneriakkan namaku dengan suara parau."Setya."Begitu dua patah ka

  • Setelah Aku Mati dan Pergi, Target Penaklukanku Menjadi Gila   Bab 3

    Daun oleander mengandung racun yang sangat mematikan. Namun, demi menuruti keinginan Dyah, Bhima selalu punya cara agar bunga-bunga beracun itu mekar sepanjang musim di kediaman kami.Dulu, aku sempat menentang penanaman bunga itu karena takut ada yang tidak sengaja memakannya. Namun, Dyah justru menangis tersedu-sedu dan mogok makan karena merasa dilarang."Kak Ranti pasti membenciku, itu sebabnya dia melarang Kak Bhima menanam bunga untukku, 'kan?" rintihnya saat itu.Bhima langsung pasang badan melindungi Dyah, lalu melemparkan senyum sinis ke arahku. "Kalau kamu ingin memojokkan Dyah, carilah alasan yang lebih masuk akal. Daun sepahit ini mana mungkin ada yang nggak sengaja memakannya? Siapa pun pasti akan langsung memuntahkannya begitu menyentuh lidah."Siapa sangka, kini tanaman itu justru menjadi alat bagiku untuk pergi selamanya.Rasa pahit yang sangat pekat segera menyebar di dalam rongga mulutku. Aku menahan rasa mual yang hebat dan memaksa diriku sendiri untuk menelannya bul

  • Setelah Aku Mati dan Pergi, Target Penaklukanku Menjadi Gila   Bab 2

    Air sungai parit istana terasa dingin menusuk hingga ke tulang. Aku tidak melakukan perlawanan sedikit pun. Kubiarkan tubuhku perlahan tenggelam ke dasar yang gelap.Sebentar lagi aku akan tiba di rumah. Aku bertanya-tanya, rasa kue bulan apa yang dibeli Ayah dan Ibu tahun ini?Dalam kegelapan yang

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status