Share

Bab 2

Penulis: Lilis
Air sungai parit istana terasa dingin menusuk hingga ke tulang. Aku tidak melakukan perlawanan sedikit pun. Kubiarkan tubuhku perlahan tenggelam ke dasar yang gelap.

Sebentar lagi aku akan tiba di rumah. Aku bertanya-tanya, rasa kue bulan apa yang dibeli Ayah dan Ibu tahun ini?

Dalam kegelapan yang menyesakkan, tiba-tiba sebuah tangan mencengkeram pergelangan tanganku dengan kuat. Dengan sentakan kasar, tubuhku diseret paksa naik ke permukaan.

"Ranti! Dasar gila! Drama apa lagi yang sedang kamu mainkan?"

Aku membuka mata dan mendapati Kresna baru saja tampak begitu tenang, kini berdiri di hadapanku dalam keadaan basah kuyup. Wajahnya pucat pasi, dia terbatuk-batuk hebat sementara matanya menatapku dengan tatapan seolah ingin membunuhku.

"Kamu pikir dengan berpura-pura bunuh diri begini, kamu bisa menghapus semua penderitaan yang kamu timbulkan pada Dyah?"

Aku menatapnya dengan tenang, meski dia tampak begitu kalap. Dengan suara datar, aku menyahut, "Kalau begitu, biarkan saja aku benar-benar mati. Bukannya kematianku memang hal yang paling kamu inginkan?"

Seolah tak menyangka aku akan menjawab sekeras itu, wajah Kresna seketika merah karena amarah yang memuncak.

"Dyah baru saja kembali! Aku hanya nggak ingin dia terbebani karena memikirkan wanita sepertimu!"

Melihat sudut matanya yang merah, ingatanku tiba-tiba melayang ke masa lalu. Saat Keluarga Lesmana baru saja dijatuhi hukuman, Kresna harus menanggung hinaan dan caci maki dari seluruh dunia.

Dulu, fisiknya lemah dan perasaannya sangat sensitif. Setiap kali merasa tertekan atau terluka, dia hanya akan diam seribu bahasa, tetapi sudut matanya akan merah menahan tangis. Hanya pelukanku yang sanggup menenangkan badai di hatinya.

Akan tetapi, sekarang, apa lagi yang perlu dia tangisi? Apa haknya untuk merasa terluka?

Padahal selama empat tahun terakhir, dialah yang terus-menerus memberi perintah terselubung kepada para kasim dan pelayan istana untuk menyiksa serta menghinaku.

Sepertinya, aku memang tidak akan bisa mati di tempat ini. Aku pun memungut buntelan pakaianku dari tanah yang basah, lalu mulai melangkah gontai ke arah rumah lamaku.

Melihatku mulai berjalan, Kresna justru mencengkeram pergelangan tanganku erat-erat, seolah takut aku akan menghilang jika dia lengah. Dia mengekor tepat di belakangku, langkah demi langkah.

"Kamu selalu punya seribu tipu muslihat. Kalau aku nggak mengawasimu, siapa yang tahu kegilaan apa lagi yang akan kamu lakukan di jalan? Setelah aku menyerahkanmu pada Tabib Bhima, aku nggak akan sudi berurusan lagi denganmu."

Langkahku terhenti sejenak. Di dunia ini, orang yang paling ingin melihatku mati tidak lain adalah kakak kandungku sendiri, Bhima Daneswara.

Itulah sebabnya, saat dipulangkan dari istana tadi, aku bahkan tidak pernah terpikir untuk menginjakkan kaki lagi di kediaman Keluarga Daneswara, walau hanya untuk sekilas.

Namun, sekarang, aku sadar, kembali ke kediaman Keluarga Daneswara justru memberiku kesempatan lebih besar untuk benar-benar pergi dari dunia ini.

Begitu memasuki gerbang kediaman utama, adegan kesibukan orang-orang menyambut kami. Seluruh pelayan sedang terburu-buru membersihkan kamar milik Dyah. Di sepanjang halaman, berderet pot-pot bunga oleander merah muda, bunga favorit Dyah.

Bhima berdiri di sana dengan wajah berseri-seri, memegang sebuah lampion kelinci yang manis. Namun, begitu matanya menangkap sosokku, senyum di wajahnya seketika sirna tanpa sisa.

"Kamu masih punya muka untuk kembali? Kupikir kamu sudah mati membusuk di dalam istana."

Aku terpaku di tempat, tiba-tiba teringat bahwa dulu kakakku tidaklah seperti ini.

Aku dan Bhima telah kehilangan orang tua sejak kecil. Hanya kami berdua yang tersisa untuk saling bergantung nyawa, kami adalah satu-satunya keluarga bagi satu sama lain.

Keluarga kami memiliki tradisi keahlian medis yang turun-temurun. Saat Bhima bertekad masuk ke ibu kota demi menjadi Tabib Utama Istana, akulah yang mendaki gunung-gunung terjal untuk mencari tanaman obat demi membiayai perjalanannya.

Suatu hari, di bawah guyuran hujan yang membuat jalanan licin, aku terpeleset hingga mengalami patah kaki demi memetik sekuntum jamur kuping ribuan tahun.

Itulah pertama kalinya aku melihat Bhima yang biasanya lemah lembut meledak dalam amarah. Dia berlari mencariku hingga kehilangan sebelah alas kakinya. Sambil menangis sesenggukan, dia memelukku erat dan bersumpah bahwa dia lebih baik tidak pernah pergi ke ibu kota daripada harus kehilangan adik perempuan seperti diriku.

Katanya, jika aku tiada, maka dia tak lagi punya rumah. Segala pencapaiannya tidak akan pernah ada artinya.

Namun, segalanya berubah setelah kami menampung Dyah. Di dalam hati kakakku, aku bukan lagi satu-satunya adik yang dia miliki.

Karena fisik Dyah yang lemah, kakakku dengan teganya mengambil pil obat yang telah kuracik dengan susah payah selama bertahun-tahun, pil yang rencananya akan kujual untuk membelikan perlengkapan kebesaran bagi kakakku saat masuk ke istana nanti, hanya untuk diberikan kepada Dyah.

Sialnya, karena merasa obat itu pahit, Dyah diam-diam memuntahkannya.

Hanya karena aku melihatnya dan menegurnya beberapa patah kata, Bhima langsung menyalahkanku. Dia mencaci maki diriku, menyebutku sebagai wanita yang picik dan hanya mementingkan harta.

"Ranti, apa di matamu obat-obatan itu jauh lebih berharga daripada nyawa Dyah?"

Kalimat itu masih terngiang jelas. Lalu, setelah Dyah pergi, Bhima dengan kejam menghancurkan jari-jemariku dan menghapus namaku dari silsilah keluarga.

"Manusia berhati busuk sepertimu nggak pantas mewarisi ilmu medis keluarga kita! Mulai detik ini, aku nggak lagi punya adik sepertimu!"

Sejak hari itu, tangan yang telah kulatih keras selama belasan tahun tidak akan pernah bisa lagi memegang jarum akupunktur. Bahkan saat dipaksa mencuci pakaian di Istana Pengasingan, gerakanku jauh lebih lambat dari pelayan lain, membuatku kenyang akan cacian dan tatapan menghina.

Kresna terdiam sejenak, raut wajahnya tampak aneh saat dia bergumam ragu, "Dyah telah kembali dan Sang Putra Mahkota memulangkan para selirnya. Sepertinya, Ranti nggak bisa menerima kenyataan itu. Tadi di hadapanku, dia mencoba mengakhiri hidupnya sampai dua kali."

Bhima mengernyitkan dahi, mendengus meremehkan. "Itu hanyalah trik murahan wanita. Menangis, mengamuk, dan pura-pura gantung diri. Tuan Kresna, kamu adalah pemuda jenius, bagaimana mungkin bisa tertipu olehnya? Aku mengenalnya lebih dari siapa pun. Wanita seperti dia mana mungkin tega membiarkan dirinya mati?"

Mendengar itu, ketegangan di wajah Kresna sedikit mengendur. Dia menggelengkan kepala sambil tersenyum sinis pada dirinya sendiri, seolah menyesal telah kehilangan kendali dan tampak begitu khawatir di depan sungai tadi.

Bhima mengangkat lampion kelinci di tangannya, lalu menatapku dengan penuh penghinaan. "Aku harus masuk ke istana untuk mengantarkan lampion ini pada Dyah. Aku nggak punya waktu meladeni kegilaanmu. Sebelum aku pulang malam ini, pastikan kamu sudah angkat kaki dari sini."

Belum sempat Bhima menyelesaikan kalimatnya, aku memetik sehelai daun oleander di sampingku, lalu memasukkannya ke dalam mulut tanpa ragu.

Seketika, wajah Bhima berubah pucat pasi.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Setelah Aku Mati dan Pergi, Target Penaklukanku Menjadi Gila   Bab 8

    Dyah berusaha tetap tenang dan berujar, "Kak Kresna, sepertinya matamu sedang bermasalah. Pelayan-pelayan di tempatku ini memang sengaja kupilih yang berbadan bongsor dan kuat, jadi dari luar mereka memang terlihat agak mirip laki-laki."Meski Kresna masih menyimpan keraguan, tetapi dia selalu memercayai kata-kata Dyah tanpa syarat.Dyah kemudian mengusulkan agar dia sendiri yang mengantarku masuk kembali dan meminta para pria itu untuk menunggu di luar gerbang sebentar.Begitu sampai di dalam vihara, Dyah mengusir semua pelayan keluar. Dia mencengkeram daguku dengan sangat keras, menarik wajahku hingga jarak kami begitu dekat."Kamu ingin minta tolong, ya? Buang jauh-jauh harapanmu itu. Kamu pikir mereka nggak tahu kalau kamu sedang menderita di sini? Kenyataannya, nggak ada satu pun dari mereka yang peduli!"Aku menyunggingkan senyum tipis. Aku mengulurkan tanganku untuk menyentuh bibir Dyah dan seketika itu juga, bibirnya berubah menjadi ungu kehitaman.Sebenarnya, aku sama sekali t

  • Setelah Aku Mati dan Pergi, Target Penaklukanku Menjadi Gila   Bab 7

    Aku tergeletak seperti ikan mati di hadapan Dyah. Aku sangat ingin bertanya padanya, mengapa dia begitu tega menjebak dan menyiksaku sampai seperti ini.Akan tetapi, Dyah mendahuluiku bicara. "Lihatlah, inilah nasib yang pantas bagi karakter figuran seperti dirimu. Jangan terkejut, aku juga seorang Pengelana Misi dan akulah tokoh utama wanita di dunia ini. Beraninya kamu, seorang karakter figuran, mencoba merebut para lelaki milikku?"Sekarang semuanya menjadi jelas. Saat ini, aku justru berharap Dyah cukup membenciku hingga bersedia membunuhku. Aku tidak mau lagi bermain dalam permainan gila ini. Aku tidak peduli pada misi ini lagi, aku hanya ingin pulang.Dyah seolah bisa menebak isi pikiranku, dia pun mengejek, "Ingin mati? Aku nggak akan membiarkanmu mendapatkan keinginanmu dengan mudah. Kalau kamu gagal menyelesaikan misi dan tetap tertahan di sini selama satu tahun lagi, tubuh aslimu di dunia nyata nggak akan pernah bisa bangun lagi. Aku akan mengambil alih seluruh poin misimu da

  • Setelah Aku Mati dan Pergi, Target Penaklukanku Menjadi Gila   Bab 6

    Aku merasa seolah telah tertidur dalam waktu yang sangat lama. Di dalam mimpi, aku melihat wajah Ayah dan ibuku yang sembap karena tangisan penuh kecemasan."Ranti, jangan takut. Penyakitmu pasti akan sembuh. Ayah dan Ibu akan melakukan apa saja, bahkan akan menjual segalanya demi mengobatimu."Karena itulah, saat Sistem datang menemui dan menawariku sebuah kesepakatan, aku langsung setuju tanpa ragu sedikit pun untuk masuk ke dunia misi ini.Sistem telah membekukan waktu di dunia asalku. Saat aku pergi meninggalkan dunia nyata, kebetulan saat itu juga sedang perayaan festival musim hujan. Ibu bilang, dia akan membawakan kue bulan kesukaanku saat pulang nanti.Di dalam mimpi, aku berhasil menyelesaikan misi dan pulang ke rumah, tetapi aku tidak lagi bisa menemukan Ayah dan ibuku di sana.Aku mencari ke setiap sudut ruangan, tetapi sosok mereka tetap tidak ada."Ayah! Ibu!"Aku terbangun dengan teriakan histeris dan tangisan. Di depanku, terpampang wajah Bhima yang memiliki kemiripan 80

  • Setelah Aku Mati dan Pergi, Target Penaklukanku Menjadi Gila   Bab 5

    Semua orang seketika tertegun. Tubuh Dyah sempat goyah sejenak, tetapi saat menyadari tidak ada yang memperhatikan keganjilan itu, dia segera kembali tenang dan menggelengkan kepala dengan raut tak berdosa."Aku ... bukan begitu, aku nggak pernah melakukannya."Arya menatap Dyah dengan penuh iba, merangkulnya ke dalam pelukannya sembari menghapus sisa air mata di wajah gadis itu."Dyah, jangan menangis lagi. Kami semua tahu persis bagaimana sifat dan kebaikan hatimu."Bhima pun berdiri di sisi Dyah, berusaha keras untuk menghiburnya agar Dyah kembali tersenyum."Dyah, berhentilah menangis. Nanti Kakak akan menemanimu menikmati rembulan. Adikku ini jauh lebih cantik daripada Dewi Bulan sekali pun."Di tengah kerumunan orang yang memujanya, Dyah akhirnya berhenti menangis dan tersenyum simpul. Namun, saat tatapannya beralih kepadaku, raut wajahnya menampakkan kilatan kemenangan dan provokasi yang nyata.Aku tertawa mengejek. "Lihat, 'kan? Seribu kata yang kuucapkan nggak akan pernah bisa

  • Setelah Aku Mati dan Pergi, Target Penaklukanku Menjadi Gila   Bab 4

    Pedang milik Arya sangatlah tajam. Meski dia sempat menarik kekuatannya di detik terakhir, mata pedang itu tetap menembus kulitku sedalam lebih dari dua inci.Karena sebelumnya aku dipaksa menelan pil khusus dari Bhima, rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhku terasa jauh lebih hebat daripada yang dialami orang normal.Darah segar mengalir perlahan, merembes ke lantai. Aku kehilangan seluruh tenagaku dan ambruk di tengah genangan darah sendiri.Tidak apa-apa, sedikit lagi, tahan sedikit lagi, dan aku akan pulang!Istana Timur seketika dilanda kekacauan hebat. Semua orang berkerumun di sekelilingku. Aku bisa merasakan seseorang sedang menekan lukaku dengan kain pakaiannya, mencoba mati-matian untuk menghentikan pendarahan."Ranti, jangan berani-berani memejamkan matamu!"Dalam kesadaranku yang mulai kabur, aku seolah melihat bayangan sosok yang sangat kukenal. Wajahnya tampak kusam penuh debu perjalanan dan dia terus meneriakkan namaku dengan suara parau."Setya."Begitu dua patah ka

  • Setelah Aku Mati dan Pergi, Target Penaklukanku Menjadi Gila   Bab 3

    Daun oleander mengandung racun yang sangat mematikan. Namun, demi menuruti keinginan Dyah, Bhima selalu punya cara agar bunga-bunga beracun itu mekar sepanjang musim di kediaman kami.Dulu, aku sempat menentang penanaman bunga itu karena takut ada yang tidak sengaja memakannya. Namun, Dyah justru menangis tersedu-sedu dan mogok makan karena merasa dilarang."Kak Ranti pasti membenciku, itu sebabnya dia melarang Kak Bhima menanam bunga untukku, 'kan?" rintihnya saat itu.Bhima langsung pasang badan melindungi Dyah, lalu melemparkan senyum sinis ke arahku. "Kalau kamu ingin memojokkan Dyah, carilah alasan yang lebih masuk akal. Daun sepahit ini mana mungkin ada yang nggak sengaja memakannya? Siapa pun pasti akan langsung memuntahkannya begitu menyentuh lidah."Siapa sangka, kini tanaman itu justru menjadi alat bagiku untuk pergi selamanya.Rasa pahit yang sangat pekat segera menyebar di dalam rongga mulutku. Aku menahan rasa mual yang hebat dan memaksa diriku sendiri untuk menelannya bul

  • Setelah Aku Mati dan Pergi, Target Penaklukanku Menjadi Gila   Bab 1

    Ambang pintu di Istana Pengasingan tidak terlalu tinggi. Setelah menumpuk dua bak cuci baju sebagai pijakan, akhirnya aku berhasil menggantung diriku di sana.Sebentar lagi, aku akan pulang!Aku sudah tidak sabar untuk berkumpul kembali dengan keluargaku. Dengan satu sentakan kuat, kedua kakiku mene

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status