共有

Bab 3

作者: Lilis
Daun oleander mengandung racun yang sangat mematikan. Namun, demi menuruti keinginan Dyah, Bhima selalu punya cara agar bunga-bunga beracun itu mekar sepanjang musim di kediaman kami.

Dulu, aku sempat menentang penanaman bunga itu karena takut ada yang tidak sengaja memakannya. Namun, Dyah justru menangis tersedu-sedu dan mogok makan karena merasa dilarang.

"Kak Ranti pasti membenciku, itu sebabnya dia melarang Kak Bhima menanam bunga untukku, 'kan?" rintihnya saat itu.

Bhima langsung pasang badan melindungi Dyah, lalu melemparkan senyum sinis ke arahku. "Kalau kamu ingin memojokkan Dyah, carilah alasan yang lebih masuk akal. Daun sepahit ini mana mungkin ada yang nggak sengaja memakannya? Siapa pun pasti akan langsung memuntahkannya begitu menyentuh lidah."

Siapa sangka, kini tanaman itu justru menjadi alat bagiku untuk pergi selamanya.

Rasa pahit yang sangat pekat segera menyebar di dalam rongga mulutku. Aku menahan rasa mual yang hebat dan memaksa diriku sendiri untuk menelannya bulat-bulat.

Kali ini aku benar-benar bisa pulang!

Bhima melemparkan lampion kelinci di tangannya begitu saja. Dia bergerak maju, memukul punggungku dengan kasar, lalu dengan jemarinya yang kasar dia memaksa membuka mulutku, menjejalkan jarinya ke dalam mulutku, mencoba ambil paksa racun yang sudah terlanjur masuk.

"Muntahkan! Cepat muntahkan! Apa kamu sudah nggak sayang nyawa?" teriaknya kalap.

Aku meronta sekuat tenaga. Separuh tubuhku mulai terasa kebas karena reaksi racunnya, tetapi aku tetap mengatupkan rahangku rapat-rapat. Aku menggigit jemari Bhima hingga darah segar merembes keluar, menolak untuk membiarkannya mengeluarkan racun yang sudah tertelan.

Bhima tersentak, menarik napas pendek karena terkejut, lalu sebuah tamparan keras mendarat di pipiku.

"Hanya karena Putra Mahkota nggak lagi menginginkanmu, kamu jadi gila dan cari mati begini? Di mana harga diri keluarga kita dalam dirimu? Dyah dan Putra Mahkota adalah pasangan yang serasi dari langit, apa empat tahun di Istana Pengasingan belum cukup membuatmu sadar?"

Tanpa memedulikan jarinya yang masih bersimbah darah, dia memerintahkan pelayan untuk membawakan pil perangsang muntah dan memaksaku meminumnya.

Aku memuntahkan segalanya hingga seluruh isi perutku terkuras habis. Tubuhku lemas tak bertulang, terkapar di lantai layaknya seonggok lumpur busuk, tetapi aku tidak bisa menahan tawa sinis yang keluar dari bibirku.

"Harga diri keluarga kita? Maksudmu, harga diri saat kamu bahkan nggak sudi menyelidiki apa pun, langsung menuduhku mencelakai Dyah, lalu mengusir adik kandungmu sendiri dari rumah?"

Wajah Bhima seketika pucat pasi. Dia terdiam seribu bahasa.

Tiba-tiba, derap langkah kuda yang terburu-buru terdengar dari luar gerbang.

Seorang kasim berbaju hijau berlari masuk dengan napas tersenggal. Dia segera memberi hormat pada Kresna. "Tuan Kresna! Putra Mahkota memberi titah pada Anda untuk segera membawa Selir Ranti yang telah dibuang itu kembali ke istana untuk diinterogasi. Nona Dyah ... dia menghilang!"

Kresna dan Bhima saling berpandangan sejenak, lalu secara bersamaan mereka melayangkan tatapan penuh amarah ke arahku yang masih tergeletak di lantai.

"Pantas saja kamu berkali-kali mencoba bunuh diri hanya untuk berakting di depan kami! Ternyata itu semua demi menutupi kejahatanmu! Di mana kamu menyembunyikan Dyah kali ini? Apa lagi yang ingin kamu lakukan padanya?"

Mana kutahu di mana Dyah bersembunyi kali ini? Namun, bagiku, ini adalah kesempatan emas untuk benar-benar pergi dari dunia ini.

Mereka mencintai Dyah lebih dari nyawa mereka sendiri. Bukan tidak mungkin mereka akan kehilangan akal sehat, lalu membunuhku.

Melihatku hanya diam seribu bahasa, mereka langsung menyeretku kembali ke istana dalam kondisi yang sangat mengenaskan. Tubuhku gemetar, pakaianku berantakan dan basah kuyup.

Putra Mahkota, Arya Mahesa, tidak membuang waktu untuk berbasa-basi begitu melihatku. Dia langsung mencengkeram daguku dengan kasar, memaksaku mendongak.

"Di mana Dyah?"

Aku mendongak, menatap lurus ke arah pria yang pernah menjadi suamiku di dunia ini. Seketika, rasa penyesalan yang amat dalam melonjak di dadaku.

Dulu, aku pertama kali bertemu Arya yang sedang dikejar pembunuh bayaran di dasar lembah. Akulah yang menyembunyikan tubuhnya yang terluka di dalam gua, bahkan aku pula yang mempertaruhkan nyawa untuk memancing para pengejar itu menjauh darinya.

Saat itu, aku baru saja dikhianati. Dyah merebut tunanganku. Sang jenderal muda yang merupakan teman masa kecilku telah membatalkan pertunangan kami, menjadikanku bahan tertawaan di seluruh ibu kota.

Setelah Gibran mengetahui hal itu, dia berjanji akan menikahiku dan memberiku posisi sebagai Permaisuri Putra Mahkota.

Dia bilang, perasaannya padaku bukan sekadar balas budi, melainkan ketulusan hati.

Akan tetapi, sejak Dyah muncul, binar di mata Arya seolah selalu tersedot ke arahnya secara alami.

Mereka sering menghabiskan waktu bersama, menikmati rembulan, bermain catur, dan berbincang tentang segala hal seolah dunia ini hanya milik mereka berdua. Keberadaanku tak lagi punya tempat di sana.

Dulu, saat Dyah menghilang, Arya yang biasanya lembut padaku untuk pertama kalinya menyiksaku. Ketika penggaris kayu besar menghantam perut bawahku, darah segar merembes dan membanjiri lantai.

Saat itulah aku baru menyadari bahwa ada janin yang bahkan belum genap sebulan di dalam rahimku dan janinku … pergi begitu saja.

Melihatku tetap bungkam, kilatan niat membunuh melintas di mata Arya.

"Sepertinya, kalau aku nggak memberimu sedikit pelajaran, kamu nggak akan sudi membuka mulutmu."

Atas perintah Arya, para pelayan istana membawa masuk berbagai macam alat penyiksaan untuk memaksaku mengaku.

Kresna sendiri yang akan turun tangan melakukan eksekusi, sementara Bhima mencekokiku dengan pil penawar rasa kantuk, obat yang akan membuat kesadaranku tetap terjaga sekaligus melipatgandakan rasa sakit yang kuterima.

Aku mulai panik.

Aku memang ingin mati, tetapi aku sama sekali tidak ingin menderita kesakitan sebelum ajal menjemput!

Saat aku berjuang mati-matian, cambukan pertama telah mendarat telak di punggungku.

Rasa sakit yang luar biasa seketika menjalar ke seluruh sendi dan tulang. Bibirku gemetar hebat, bahkan untuk berteriak pun aku sudah tidak punya tenaga lagi.

"Bunuh aku ...."

Melihatku yang tetap keras kepala, Arya menyunggingkan senyum tipis yang dingin.

"Kamu pikir aku akan merasa iba? Aku tanya sekali lagi, di mana Dyah?"

Dengan wajah pucat pasi, aku mendongak dan memaksakan sebuah senyuman penuh kemenangan. "Dyah? Aku sudah membunuhnya! Bukannya kalian semua adalah orang-orang yang paling mencintainya? Ayo, cepat bunuh aku untuk membalaskan dendamnya!"

Mata Arya seketika merah karena murka. Tanpa peringatan, dia menghunus pedang dari pinggangnya dan menghunjamkannya tepat ke dadaku.

Tepat sebelum kesadaranku memudar sepenuhnya, aku mendengar suara Dyah bergema dari luar aula.

"Semua orang berkumpul di sini, kita bisa merayakan malam yang indah bersama! Ah … tapi kenapa ada banyak darah di sini?"

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Setelah Aku Mati dan Pergi, Target Penaklukanku Menjadi Gila   Bab 8

    Dyah berusaha tetap tenang dan berujar, "Kak Kresna, sepertinya matamu sedang bermasalah. Pelayan-pelayan di tempatku ini memang sengaja kupilih yang berbadan bongsor dan kuat, jadi dari luar mereka memang terlihat agak mirip laki-laki."Meski Kresna masih menyimpan keraguan, tetapi dia selalu memercayai kata-kata Dyah tanpa syarat.Dyah kemudian mengusulkan agar dia sendiri yang mengantarku masuk kembali dan meminta para pria itu untuk menunggu di luar gerbang sebentar.Begitu sampai di dalam vihara, Dyah mengusir semua pelayan keluar. Dia mencengkeram daguku dengan sangat keras, menarik wajahku hingga jarak kami begitu dekat."Kamu ingin minta tolong, ya? Buang jauh-jauh harapanmu itu. Kamu pikir mereka nggak tahu kalau kamu sedang menderita di sini? Kenyataannya, nggak ada satu pun dari mereka yang peduli!"Aku menyunggingkan senyum tipis. Aku mengulurkan tanganku untuk menyentuh bibir Dyah dan seketika itu juga, bibirnya berubah menjadi ungu kehitaman.Sebenarnya, aku sama sekali t

  • Setelah Aku Mati dan Pergi, Target Penaklukanku Menjadi Gila   Bab 7

    Aku tergeletak seperti ikan mati di hadapan Dyah. Aku sangat ingin bertanya padanya, mengapa dia begitu tega menjebak dan menyiksaku sampai seperti ini.Akan tetapi, Dyah mendahuluiku bicara. "Lihatlah, inilah nasib yang pantas bagi karakter figuran seperti dirimu. Jangan terkejut, aku juga seorang Pengelana Misi dan akulah tokoh utama wanita di dunia ini. Beraninya kamu, seorang karakter figuran, mencoba merebut para lelaki milikku?"Sekarang semuanya menjadi jelas. Saat ini, aku justru berharap Dyah cukup membenciku hingga bersedia membunuhku. Aku tidak mau lagi bermain dalam permainan gila ini. Aku tidak peduli pada misi ini lagi, aku hanya ingin pulang.Dyah seolah bisa menebak isi pikiranku, dia pun mengejek, "Ingin mati? Aku nggak akan membiarkanmu mendapatkan keinginanmu dengan mudah. Kalau kamu gagal menyelesaikan misi dan tetap tertahan di sini selama satu tahun lagi, tubuh aslimu di dunia nyata nggak akan pernah bisa bangun lagi. Aku akan mengambil alih seluruh poin misimu da

  • Setelah Aku Mati dan Pergi, Target Penaklukanku Menjadi Gila   Bab 6

    Aku merasa seolah telah tertidur dalam waktu yang sangat lama. Di dalam mimpi, aku melihat wajah Ayah dan ibuku yang sembap karena tangisan penuh kecemasan."Ranti, jangan takut. Penyakitmu pasti akan sembuh. Ayah dan Ibu akan melakukan apa saja, bahkan akan menjual segalanya demi mengobatimu."Karena itulah, saat Sistem datang menemui dan menawariku sebuah kesepakatan, aku langsung setuju tanpa ragu sedikit pun untuk masuk ke dunia misi ini.Sistem telah membekukan waktu di dunia asalku. Saat aku pergi meninggalkan dunia nyata, kebetulan saat itu juga sedang perayaan festival musim hujan. Ibu bilang, dia akan membawakan kue bulan kesukaanku saat pulang nanti.Di dalam mimpi, aku berhasil menyelesaikan misi dan pulang ke rumah, tetapi aku tidak lagi bisa menemukan Ayah dan ibuku di sana.Aku mencari ke setiap sudut ruangan, tetapi sosok mereka tetap tidak ada."Ayah! Ibu!"Aku terbangun dengan teriakan histeris dan tangisan. Di depanku, terpampang wajah Bhima yang memiliki kemiripan 80

  • Setelah Aku Mati dan Pergi, Target Penaklukanku Menjadi Gila   Bab 5

    Semua orang seketika tertegun. Tubuh Dyah sempat goyah sejenak, tetapi saat menyadari tidak ada yang memperhatikan keganjilan itu, dia segera kembali tenang dan menggelengkan kepala dengan raut tak berdosa."Aku ... bukan begitu, aku nggak pernah melakukannya."Arya menatap Dyah dengan penuh iba, merangkulnya ke dalam pelukannya sembari menghapus sisa air mata di wajah gadis itu."Dyah, jangan menangis lagi. Kami semua tahu persis bagaimana sifat dan kebaikan hatimu."Bhima pun berdiri di sisi Dyah, berusaha keras untuk menghiburnya agar Dyah kembali tersenyum."Dyah, berhentilah menangis. Nanti Kakak akan menemanimu menikmati rembulan. Adikku ini jauh lebih cantik daripada Dewi Bulan sekali pun."Di tengah kerumunan orang yang memujanya, Dyah akhirnya berhenti menangis dan tersenyum simpul. Namun, saat tatapannya beralih kepadaku, raut wajahnya menampakkan kilatan kemenangan dan provokasi yang nyata.Aku tertawa mengejek. "Lihat, 'kan? Seribu kata yang kuucapkan nggak akan pernah bisa

  • Setelah Aku Mati dan Pergi, Target Penaklukanku Menjadi Gila   Bab 4

    Pedang milik Arya sangatlah tajam. Meski dia sempat menarik kekuatannya di detik terakhir, mata pedang itu tetap menembus kulitku sedalam lebih dari dua inci.Karena sebelumnya aku dipaksa menelan pil khusus dari Bhima, rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhku terasa jauh lebih hebat daripada yang dialami orang normal.Darah segar mengalir perlahan, merembes ke lantai. Aku kehilangan seluruh tenagaku dan ambruk di tengah genangan darah sendiri.Tidak apa-apa, sedikit lagi, tahan sedikit lagi, dan aku akan pulang!Istana Timur seketika dilanda kekacauan hebat. Semua orang berkerumun di sekelilingku. Aku bisa merasakan seseorang sedang menekan lukaku dengan kain pakaiannya, mencoba mati-matian untuk menghentikan pendarahan."Ranti, jangan berani-berani memejamkan matamu!"Dalam kesadaranku yang mulai kabur, aku seolah melihat bayangan sosok yang sangat kukenal. Wajahnya tampak kusam penuh debu perjalanan dan dia terus meneriakkan namaku dengan suara parau."Setya."Begitu dua patah ka

  • Setelah Aku Mati dan Pergi, Target Penaklukanku Menjadi Gila   Bab 3

    Daun oleander mengandung racun yang sangat mematikan. Namun, demi menuruti keinginan Dyah, Bhima selalu punya cara agar bunga-bunga beracun itu mekar sepanjang musim di kediaman kami.Dulu, aku sempat menentang penanaman bunga itu karena takut ada yang tidak sengaja memakannya. Namun, Dyah justru menangis tersedu-sedu dan mogok makan karena merasa dilarang."Kak Ranti pasti membenciku, itu sebabnya dia melarang Kak Bhima menanam bunga untukku, 'kan?" rintihnya saat itu.Bhima langsung pasang badan melindungi Dyah, lalu melemparkan senyum sinis ke arahku. "Kalau kamu ingin memojokkan Dyah, carilah alasan yang lebih masuk akal. Daun sepahit ini mana mungkin ada yang nggak sengaja memakannya? Siapa pun pasti akan langsung memuntahkannya begitu menyentuh lidah."Siapa sangka, kini tanaman itu justru menjadi alat bagiku untuk pergi selamanya.Rasa pahit yang sangat pekat segera menyebar di dalam rongga mulutku. Aku menahan rasa mual yang hebat dan memaksa diriku sendiri untuk menelannya bul

  • Setelah Aku Mati dan Pergi, Target Penaklukanku Menjadi Gila   Bab 1

    Ambang pintu di Istana Pengasingan tidak terlalu tinggi. Setelah menumpuk dua bak cuci baju sebagai pijakan, akhirnya aku berhasil menggantung diriku di sana.Sebentar lagi, aku akan pulang!Aku sudah tidak sabar untuk berkumpul kembali dengan keluargaku. Dengan satu sentakan kuat, kedua kakiku mene

  • Setelah Aku Mati dan Pergi, Target Penaklukanku Menjadi Gila   Bab 2

    Air sungai parit istana terasa dingin menusuk hingga ke tulang. Aku tidak melakukan perlawanan sedikit pun. Kubiarkan tubuhku perlahan tenggelam ke dasar yang gelap.Sebentar lagi aku akan tiba di rumah. Aku bertanya-tanya, rasa kue bulan apa yang dibeli Ayah dan Ibu tahun ini?Dalam kegelapan yang

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status