10 tahun lalu ..."Kau punya dua pilihan, Reihan. Mengaku sekarang dan kami hanya akan mengeluarkanmu, atau kau tetap diam dan ayahmu akan mendekam di penjara karena dianggap lalai mendidik anak pencuri."Suara itu berat, berwibawa, dan dingin. Pak Darmawan, Kepala Sekolah SMA Wijaya, duduk di balik meja jati besarnya dengan angkuh. Di sampingnya, berdiri ayah Ardian yang merupakan pejabat tinggi, menatap Reihan seolah-olah remaja di depannya hanyalah seekor kecoak yang mengotori karpet mahalnya.Reihan berdiri di tengah ruangan. Seragamnya yang rapi tampak kontras dengan atmosfer busuk di dalam ruang sidang sekolah itu. Ia menoleh ke arah ayahnya, seorang buruh pabrik yang duduk di kursi kayu dengan bahu merosot, menggenggam topi usangnya dengan tangan gemetar."Saya tidak mencuri soal itu, Pak," suara Reihan terdengar lirih namun teguh. "Saya berada di perpustakaan sampai jam delapan malam, dan penjaga sekolah melihat saya pulang lewat gerbang samping.
Terakhir Diperbarui : 2026-05-15 Baca selengkapnya