Hujan deras menghujam aspal di depan Markas Besar Partai dengan suara menderu, seolah-olah langit sedang berusaha membasuh dosa-dosa yang tersembunyi di balik pilar-pilar beton megah itu.Ardian keluar dari sedan hitamnya dengan gerakan terburu-buru, mencoba melindungi jas sutra mahalnya dari tetesan air. Namun, langkahnya terhenti di depan pintu lobi.Dua petugas keamanan bertubuh tegap, yang biasanya akan membungkuk hormat bahkan sebelum ia turun dari mobil, kini berdiri kaku dengan tangan bersedekap."Minggir," geram Ardian, suaranya parau karena amarah yang tertahan. "Aku ada janji dengan Ketua Umum.""Maaf, Pak Ardian," sahut salah satu petugas dengan nada yang terlalu datar, nyaris menghina. "Kami menerima instruksi dari Dewan Kehormatan. Anda tidak lagi memiliki akses masuk ke area privat gedung ini. Jika ingin mengambil barang pribadi, silakan tunggu di lobi umum."Ardian ternganga. Darahnya mendidih, namun rasa dingin yang aneh m
最終更新日 : 2026-05-19 続きを読む