Setelah selesai rapat, Liam tetap standby di ruangan itu. Satu persatu orang membubarkan diri. Kini tersisa tiga orang saja, Antares, dirinya dan juga Delia. Tatapan Liam dingin dan tajam menatap keduanya, seolah-olah di situ ia diremehkan oleh orang yang paling dipercayainya. "Biasa aja kali, nggak usah buat suasana jadi kaku begini," cibir Antares, bukan takut, tapi lebih nggak nyaman. "Sekarang sudah nggak ada orang, bisa dijelaskan padaku mengenai keberadaan adikku di sini?" Bukan tatapan sebagai sahabat, tapi lebih cenderung seperti musuh. Mungkin hatinya sudah terlanjur kecewa, merasa sudah dikhianati. "Baru hari ini dia masuk kantor, dan itu aku sengaja," jawab Antares. "Sengaja apa maksudmu? Sengaja biar kami bertemu dengan cara seperti ini," cerocos Liam. Pria itu benar-benar dibuat gila oleh pemikiran sahabatnya. Dia masih ingat, Antares pernah bilang, jika berhasil menemukan adiknya hadiah apa yang akan diberikan untuknya, ya..., sudah pasti dia ingin meminta imbalan
Read more