PLAK!Suara itu pecah di udara—keras, tajam, memantul di seluruh ruangan.Kepala Nana terlempar ke samping. Tubuhnya kehilangan keseimbangan, jatuh di atas sofa dengan napas tertahan. Rasa panas menjalar di pipinya—menyengat, membakar.Namun itu masih kalah dibanding sesuatu yang retak jauh di dalam dadanya.Perlahan, Nana mengangkat wajah. Matanya merah, tapi tidak ada air mata. Hanya kebencian yang tumbuh diam-diam—pelan, dalam, dan semakin gelap.“Aku sudah bilang—jangan menikahi pria itu!”Suara itu menggema. Keras dan menekan.Nana tidak menjawab.Tatapannya lurus ke depan, tertuju pada pria yang berdiri beberapa langkah darinya—pria yang seharusnya ia panggil ayah.“Sekarang lihat dirimu,” lanjutnya dingin. “Dibuang begitu saja. Harga dirimu diinjak, dan kau masih berdiri di sini seperti tidak terjadi apa-apa.”Anehnya, Nana tidak merasa ingin membela diri. Seolah semua ini … memang sudah ia duga sejak awal.Langkah kaki terdengar mendekat.“Nana ….” Suara itu lembut, terlambat.
Last Updated : 2026-04-02 Read more