LOGIN“Suatu hari aku akan menyeretmu ke tempat tidurku … dan melihat semua egomu runtuh hanya untukku. Aku akan menunjukkanmu banyak hal—sihir, kegilaan, surga, dan maksiat. Adrian Dalton, I’m going to ruin you.” Itu yang aku katakan pada sopirku. Pria yang seharusnya hanya mengantarku ke mana pun aku mau. Dan orang tuaku menyebutku sakit jiwa … setelah aku, Kharerina Bawono—putri tunggal politikus terkemuka, dengan lantang mengatakan bahwa aku tidak akan menikah dengan siapa pun selain dia. Sopirku sendiri. Ketika keluargaku menjualku dalam pernikahan politik yang menjijikkan, aku hanya punya satu jalan keluar—menikah secepatnya. Bahkan jika itu berarti … menyeretnya masuk ke dalam hidupku. Tapi menjeratnya ternyata tidak semudah yang kubayangkan. Sialan … aku bahkan harus menggunakan cara paling rendahan hanya untuk membuatnya tunduk.
View MorePLAK!
Suara itu pecah di udara—keras, tajam, memantul di seluruh ruangan.
Kepala Nana terlempar ke samping. Tubuhnya kehilangan keseimbangan, jatuh di atas sofa dengan napas tertahan. Rasa panas menjalar di pipinya—menyengat, membakar.
Namun itu masih kalah dibanding sesuatu yang retak jauh di dalam dadanya.
Perlahan, Nana mengangkat wajah. Matanya merah, tapi tidak ada air mata. Hanya kebencian yang tumbuh diam-diam—pelan, dalam, dan semakin gelap.
“Aku sudah bilang—jangan menikahi pria itu!”
Suara itu menggema. Keras dan menekan.
Nana tidak menjawab.
Tatapannya lurus ke depan, tertuju pada pria yang berdiri beberapa langkah darinya—pria yang seharusnya ia panggil ayah.
“Sekarang lihat dirimu,” lanjutnya dingin. “Dibuang begitu saja. Harga dirimu diinjak, dan kau masih berdiri di sini seperti tidak terjadi apa-apa.”
Anehnya, Nana tidak merasa ingin membela diri. Seolah semua ini … memang sudah ia duga sejak awal.
Langkah kaki terdengar mendekat.
“Nana ….” Suara itu lembut, terlambat.
Nana tidak langsung menoleh. Ia tetap diam sampai wanita itu berdiri di sampingnya.
“Ayahmu keterlaluan,” bisik ibunya, mencoba meraih tangannya.
Nana menatapnya sekilas. Tatapan yang singkat dan datar, sebelum ia menarik tangannya perlahan. Tidak kasar, tapi cukup jelas untuk menciptakan jarak.
“Jika saja kau menikah dengan pria pilihanku, kau tidak—”
“Pria yang mana?” potong Vivian tajam. “Kau hanya ingin menukar Nana untuk kepentingan politikmu, kan?”
“Memang kenapa?” Raharjo membentak. “Aku sudah membesarkan anak itu. Wajar kalau sekarang dia membalasnya.”
“Cukup.”
Satu kata yang cukup untuk menghentikan semuanya.
Nana memejamkan mata sejenak.
Lelah.
Sangat lelah.
“Aku capek,” ucapnya pelan. “Capek jadi sesuatu yang bisa kalian tukar seenaknya.”
Ia menoleh pada Raharjo. “Ayah butuh pernikahan politik ini, kan?”
Tidak ada jawaban. Namun Nana tidak menunggu.
“Dengan siapa?”
Satu detik.
Dua detik.
“Rowan Hayes.”
Nana mengangguk kecil. Seolah nama itu … tidak berarti apa-apa. Seolah hidupnya memang sudah lama bukan miliknya.
“Oke. Aku akan menikah.”
“Nana, tidak—kau tahu pria itu—” suara Vivian menegang.
“Kenapa?” Nana menoleh. Dingin. “Ibu tidak mengizinkan?”
“Kau tahu dia—”
“Kalau begitu bercerai saja dengan Ayah.”
Hening.
Kata-kata berikutnya seharusnya tidak keluar secepat ini.
Namun Nana sudah terlalu lelah untuk berpura-pura tidak tahu.
“Lagipula ….” Suaranya turun, datar, “Aku bukan anaknya, kan?”
Vivian menggeleng cepat. “Aku tidak bisa ….”
Bukan ragu, tapi takut.
“Sudah kuduga.” Nana tersenyum tipis, getir. “Kalau begitu, jangan katakan apa pun padaku.”
Ia meraih tasnya.
Sorot matanya dingin dan kosong.
“Anggap saja … ini harga yang harus aku bayar.”
Tidak ada yang menjawab.
Tidak ada yang menghentikan.
Langkah Nana tenang menuju pintu.
Dan saat tangannya menyentuh gagang—ia berhenti tanpa menoleh.
“Aku tidak akan kabur. Aku akan menikah, untuk menyelesaikan semuanya.”
Pintu terbuka.
Dan tanpa melihat ke belakang—Nana melangkah keluar.
—
Lampu-lampu redup memantul di permukaan kaca.
Musik menghentak, keras, memenuhi seluruh ruangan—menelan percakapan, menenggelamkan pikiran.
Di lantai dansa, Nana bergerak mengikuti irama.
Tubuhnya ringan. Gelas di tangan kanannya bergoyang, cairannya sesekali tumpah tanpa ia pedulikan.
Di sebelahnya, Tiffany tertawa, ikut larut dalam suasana. Namun setiap kali gelasnya kosong, Nana yang lebih dulu mengisinya.
Terlalu sering.
Terlalu banyak.
“Nana, cukup.” Tiffany akhirnya merebut gelas dari tangannya. “Kau kebanyakan minum.”
Nana langsung menariknya kembali. Tidak lembut.
“Memang kenapa?” balasnya ringan. “Sebentar lagi aku menikah. Anggap saja ini pesta lajangku.”
Ia tersenyum, miring. “Kau tidak mau bersenang-senang di pesta lajangku?”
Tiffany mengerutkan kening. Tanpa menjawab, ia menarik Nana keluar dari kerumunan dan mendudukkannya di kursi dekat bar.
“Kau serius?” tanyanya, suaranya turun. “Kau benar-benar mau menikah dengannya? Na, dia itu—”
“Maniak?” Nana menyela dengan tenang. Ia mengambil kembali gelasnya, meneguk tanpa ragu.
Tiffany menatapnya tidak percaya. “Kau tahu dia seperti apa, dan sejak awal kau tahu dia menargetkanmu. Lalu kenapa kau masih nekat masuk kandang buaya?”
Namun, Nana justru tersenyum. Ada kilatan lain di matanya sekarang.
Lebih tajam dan licik.
“Tenang saja,” ucapnya santai. “Aku tidak akan masuk tanpa persiapan.”
Tiffany menyipitkan mata. “Maksudmu?”
Nana menyandarkan tubuhnya ke kursi, memutar gelas di tangannya. “Aku sudah menyewa pengawal.”
“Pengawal?”
“Ya. Pengawal VIP.” Nana meliriknya sekilas. “Dari perusahaan swasta. Aku bilang pada mereka … aku mau yang paling tampan.”
Satu detik.
Lalu Tiffany membelalak.
“Kau serius?”
“Kenapa tidak?”
“Apa kau sudah dapat?”
“Belum.” Nana menggeleng pelan. “Tapi mereka bilang bisa menyediakannya.”
Ia berhenti sebentar. Senyumnya berubah tipis. “Sekarang tinggal menunggu … apakah dia cukup berani menerima syaratku.”
“Apa syaratmu?”
Nana menatap lurus ke depan. “Dia harus selalu berada di pihakku, dan bekerja padaku seumur hidupnya selama aku menginginkannya.”
Tiffany terdiam sesaat, lalu tiba-tiba tersenyum lebar.
“Bagus, Nana,” gumamnya. “Enak saja, dia yang sudah meniduri lusinan orang, mendapatkan wanita sepertimu. Aku harap kau memang tidak menyerahkan diri begitu saja.”
Nana terkekeh pelan. “Menyerahkan diri?” ulangnya. “Tidak.”
Ia mengangkat gelasnya lagi. Kali ini, tanpa ragu.
“Kalau aku tidak bisa memilih siapa yang akan menikah denganku …” Ia berhenti, lalu menoleh pada Tiffany. Tatapannya tajam. “… aku akan pastikan tidak ada yang bisa menyentuhku kecuali orang yang aku inginkan.”
Tiffany menatapnya, lalu mengangguk mantap.
“Setuju,” katanya. “Kalau begitu, malam ini kita minum untuk kebebasanmu … yang tersisa.”
Nana tersenyum lebar, hampir seperti benar-benar bahagia.
Musik masih berdentum.
Lampu berputar. Tawa pecah di mana-mana.Namun dunia Nana mulai terasa… tidak stabil.
Kakinya goyah, terlalu berat untuk menopang tubuhnya sendiri.
Di sisinya, Tiffany juga tidak jauh berbeda. Ia mencoba menarik Nana menjauh, tapi kesadarannya sudah kabur—bahkan ia tidak sadar kalau tangan yang digenggamnya bukan milik Nana, melainkan orang lain.
Sementara itu, tubuh Nana oleng.
Sampai sebuah tangan mencengkeram lengannya kuat dan tiba-tiba.
Nana mengerang pelan. Matanya bergerak naik, dari dada pria itu … ke wajahnya.
Awalnya buram, lalu perlahan menyatu.
“Kau—” Ia mencoba menarik tangannya.
Gagal.
Cengkeraman itu justru menguat.
Pria di hadapannya menyeringai. Tatapannya menyapu wajah Nana tanpa malu—penuh kepemilikan yang menjijikkan.
“Sudah lama aku menunggu momen ini,” gumamnya pelan. “Saat kau akhirnya … berhenti menolak.”
Jemarinya terangkat, menyentuh pelipis Nana. Pelan, seolah menikmati.
“Lepaskan aku,” desis Nana.
Namun tubuhnya tidak cukup kuat untuk mendukung perlawanan itu.
Rowan tertawa kecil.
“Sepertinya kau cukup bersenang-senang malam ini,” katanya ringan. “Apa yang kau rayakan? Perceraianmu … atau fakta bahwa kau akhirnya akan jadi milikku?”
“Jangan pernah berpikir kau bisa menyentuhku.”
Nada suara Nana rendah. Tajam, meski agak goyah.
Rowan hanya tersenyum lebih lebar. “Aku suka bagian itu,” ujarnya. “Kesombonganmu.”
Ia mendekat terlalu dekat. “Tapi aku penasaran … berapa lama kau bisa mempertahankannya.”
Dan tanpa peringatan, ia menarik Nana dengan paksa.
Langkah Nana terseret. Tubuhnya tidak stabil, setiap usaha melawan terasa sia-sia.
Dunia berputar.
Musik menjauh.
Lorong sempit menelan mereka—lampu redup, suara menghilang satu per satu.
Pintu terbuka.
Nana didorong masuk.
Tubuhnya hampir jatuh sebelum akhirnya bertahan pada meja di dekatnya.
Napasnya berat.
Kepalanya berdenyut.
“Tidak ada gunanya melawan.” Suara Rowan terdengar lebih dekat sekarang. Lebih rendah dan berbahaya. “Pada akhirnya … kau akan tetap jadi milikku.”
Langkahnya mendekat.
Satu per satu.
Nana mengangkat wajah. Matanya masih melawan. Namun tubuhnya tidak lagi bisa mengikuti.
Rowan tersenyum tipis.
Tangannya terangkat, hampir menyentuh, sabelum akhirnya—
—
BUGH!
Pukulan keras menghantam tanpa peringatan.
Kepala Rowan terhempas ke samping.
Tubuhnya goyah.
Ia mundur satu langkah, nyaris kehilangan keseimbangan sebelum akhirnya bertahan.
Sunyi sepersekian detik yang terasa panjang.
Rowan menegak, menyentuh rahangnya yang berdenyut. Tatapannya langsung mengarah ke depan—tajam dan penuh amarah.
“Brengsek …!” desisnya. “Siapa kau?”
Sosok itu berdiri di ambang pintu.
Tegap.
Diam.
Tidak menjawab.
Namun kehadirannya saja, cukup untuk membuat udara di ruangan itu berubah.
Lebih dingin.
Lebih berat.
Dan lebih … berbahaya.
***
Saat ini Nana sedang duduk di ruang kerja Evan di lantai paling atas gedung Voss Dynamics.Ruangan itu jauh lebih sederhana dibanding kantor direktur perusahaan besar yang pernah ia lihat.Tidak ada dekorasi berlebihan.Tidak ada kemewahan mencolok.Hanya dinding kaca besar, meja kerja panjang, beberapa rak dokumen, dan mesin kopi yang sepertinya bekerja lebih keras dibanding pemilik ruangan itu sendiri."... lalu mereka benar-benar mengirim proposal setebal dua ratus halaman."Nana tertawa kecil. "Dua ratus halaman?""Aku menghitungnya." Evan bersandar di kursinya. "Dan yang lebih menyebalkan, setengah isinya tidak penting.""Itu karena kau terlalu malas membaca.""Aku direktur perusahaan.""Itu bukan alasan.""Itu alasan yang sangat bagus."Nana kembali tertawa.Entah kenapa berbicara dengan Evan terasa jauh lebih mudah dibanding yang ia bayangkan sebelumnya.Mungkin karena selama ini mereka memang sudah bekerja sama dari jarak jauh. Atau mungkin karena Evan memang tipe orang yang m
Pagi di lantai dua puluh tiga Griffin Guard terasa jauh lebih dingin dibanding biasanya.Dan penyebabnya jelas: Adrian Dalton.Beberapa staf bahkan mulai saling melempar tatapan hati-hati sejak pria itu datang pagi tadi. Karena sejak semalam, suasana hatinya benar-benar buruk.Pintu ruang kerja terbuka tanpa ketukan.“Jadi rumor itu benar.” Suara Alan terdengar malas saat masuk sambil membawa kopi.Adrian bahkan tidak mengangkat kepala dari layar monitornya.Alan mendekat beberapa langkah lalu menjatuhkan map ke meja Adrian.“Klien kita kemarin menghubungiku pagi-pagi sekali,” katanya santai. “Katanya asistenkku meninggalkan meeting seperti pria yang baru diputus pacarnya.”Tatapan Adrian langsung terangkat dingin. “Kalau Anda datang hanya untuk bicara omong kosong, pintu masih terbuka.”Alan justru tertawa kecil.“Aku juga mendapat laporan kalau tadi malam seseorang memakai akses internal Griffin Guard untuk menyelidiki direktur perusahaan besar.”Kali ini Adrian benar-benar diam.Al
Adrian akhirnya menarik napas panjang lalu memaksa dirinya kembali fokus ke meja.Ia bahkan mulai merasa dirinya benar-benar sudah gila. Karena tidak mungkin wanita itu ada di sini.“... Tuan Dalton?”Suara klien di depannya akhirnya menarik Adrian kembali.Pria itu tersenyum canggung. “Apa proposal kami terdengar terlalu membosankan?”Adrian langsung menurunkan tatapannya sebentar. “Maaf.” jawabnya pendek. “Lanjutkan.”Namun bahkan setelah mengatakan itu, fokusnya tetap tidak sepenuhnya kembali.Tatapannya kembali bergerak ke arah pintu masuk restoran.Dan kali ini, sosok itu masih ada di sana.Bukan halusinasi.Bukan imajinasinya.Wanita itu benar-benar ada, berjalan masuk dengan sekelompok orang tadi menuju salah satu meja yang sudah disiapkan.Rahang Adrian langsung mengeras perlahan.Nana. Dia benar-benar Nana.Napas Adrian terasa tertahan sesaat.Namun sebelum pikirannya benar-benar sempat mencerna semuanya, seorang pria berjalan mendekat ke sisi Nana.Pria itu membungkuk sediki
Suasana lantai dua puluh tiga gedung Griffin Guard masih dipenuhi suara keyboard dan dering sambungan internal sejak pagi.Beberapa staf berlalu-lalang membawa berkas. Sementara layar besar di salah satu sisi ruangan terus menampilkan jadwal pengamanan klien untuk beberapa minggu ke depan.Namun di tengah semua itu, Adrian justru terlihat paling tidak beres.Tatapannya beberapa kali berhenti terlalu lama di layar komputer.Beberapa dokumen bahkan nyaris salah ia tandatangani sebelum salah satu staf mengingatkannya pelan.Dan itu cukup membuat suasana hati Adrian semakin buruk.Sejak melihat wajah Nana Bawono di layar berita kemarin, pikirannya terasa kacau dengan cara yang sangat menjengkelkan.Ia bahkan mulai membenci dirinya sendiri karena itu.Wanita itu sudah memilih jalan hidupnya. Dan sekarang mungkin sedang menikmati persiapan pernikahannya dengan Rowan Hayes.Adrian sadar akan hal itu. Tapi ia tidak tahu, kenapa wajah Nana justru semakin jelas di kepalanya?Bunyi pintu terbuka












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews