LOGIN“Suatu hari aku akan menyeretmu ke tempat tidurku … dan melihat semua egomu runtuh hanya untukku. Aku akan menunjukkanmu banyak hal—sihir, kegilaan, surga, dan maksiat. Adrian Dalton, I’m going to ruin you.” Itu yang aku katakan pada sopirku. Pria yang seharusnya hanya mengantarku ke mana pun aku mau. Dan orang tuaku menyebutku sakit jiwa … setelah aku, Kharerina Bawono—putri tunggal politikus terkemuka, dengan lantang mengatakan bahwa aku tidak akan menikah dengan siapa pun selain dia. Sopirku sendiri. Ketika keluargaku menjualku dalam pernikahan politik yang menjijikkan, aku hanya punya satu jalan keluar—menikah secepatnya. Bahkan jika itu berarti … menyeretnya masuk ke dalam hidupku. Tapi menjeratnya ternyata tidak semudah yang kubayangkan. Sialan … aku bahkan harus menggunakan cara paling rendahan hanya untuk membuatnya tunduk.
View MoreSaat ini Nana sedang duduk di ruang kerja Evan di lantai paling atas gedung Voss Dynamics.Ruangan itu jauh lebih sederhana dibanding kantor direktur perusahaan besar yang pernah ia lihat.Tidak ada dekorasi berlebihan.Tidak ada kemewahan mencolok.Hanya dinding kaca besar, meja kerja panjang, beberapa rak dokumen, dan mesin kopi yang sepertinya bekerja lebih keras dibanding pemilik ruangan itu sendiri."... lalu mereka benar-benar mengirim proposal setebal dua ratus halaman."Nana tertawa kecil. "Dua ratus halaman?""Aku menghitungnya." Evan bersandar di kursinya. "Dan yang lebih menyebalkan, setengah isinya tidak penting.""Itu karena kau terlalu malas membaca.""Aku direktur perusahaan.""Itu bukan alasan.""Itu alasan yang sangat bagus."Nana kembali tertawa.Entah kenapa berbicara dengan Evan terasa jauh lebih mudah dibanding yang ia bayangkan sebelumnya.Mungkin karena selama ini mereka memang sudah bekerja sama dari jarak jauh. Atau mungkin karena Evan memang tipe orang yang m
Pagi di lantai dua puluh tiga Griffin Guard terasa jauh lebih dingin dibanding biasanya.Dan penyebabnya jelas: Adrian Dalton.Beberapa staf bahkan mulai saling melempar tatapan hati-hati sejak pria itu datang pagi tadi. Karena sejak semalam, suasana hatinya benar-benar buruk.Pintu ruang kerja terbuka tanpa ketukan.“Jadi rumor itu benar.” Suara Alan terdengar malas saat masuk sambil membawa kopi.Adrian bahkan tidak mengangkat kepala dari layar monitornya.Alan mendekat beberapa langkah lalu menjatuhkan map ke meja Adrian.“Klien kita kemarin menghubungiku pagi-pagi sekali,” katanya santai. “Katanya asistenkku meninggalkan meeting seperti pria yang baru diputus pacarnya.”Tatapan Adrian langsung terangkat dingin. “Kalau Anda datang hanya untuk bicara omong kosong, pintu masih terbuka.”Alan justru tertawa kecil.“Aku juga mendapat laporan kalau tadi malam seseorang memakai akses internal Griffin Guard untuk menyelidiki direktur perusahaan besar.”Kali ini Adrian benar-benar diam.Al
Adrian akhirnya menarik napas panjang lalu memaksa dirinya kembali fokus ke meja.Ia bahkan mulai merasa dirinya benar-benar sudah gila. Karena tidak mungkin wanita itu ada di sini.“... Tuan Dalton?”Suara klien di depannya akhirnya menarik Adrian kembali.Pria itu tersenyum canggung. “Apa proposal kami terdengar terlalu membosankan?”Adrian langsung menurunkan tatapannya sebentar. “Maaf.” jawabnya pendek. “Lanjutkan.”Namun bahkan setelah mengatakan itu, fokusnya tetap tidak sepenuhnya kembali.Tatapannya kembali bergerak ke arah pintu masuk restoran.Dan kali ini, sosok itu masih ada di sana.Bukan halusinasi.Bukan imajinasinya.Wanita itu benar-benar ada, berjalan masuk dengan sekelompok orang tadi menuju salah satu meja yang sudah disiapkan.Rahang Adrian langsung mengeras perlahan.Nana. Dia benar-benar Nana.Napas Adrian terasa tertahan sesaat.Namun sebelum pikirannya benar-benar sempat mencerna semuanya, seorang pria berjalan mendekat ke sisi Nana.Pria itu membungkuk sediki
Suasana lantai dua puluh tiga gedung Griffin Guard masih dipenuhi suara keyboard dan dering sambungan internal sejak pagi.Beberapa staf berlalu-lalang membawa berkas. Sementara layar besar di salah satu sisi ruangan terus menampilkan jadwal pengamanan klien untuk beberapa minggu ke depan.Namun di tengah semua itu, Adrian justru terlihat paling tidak beres.Tatapannya beberapa kali berhenti terlalu lama di layar komputer.Beberapa dokumen bahkan nyaris salah ia tandatangani sebelum salah satu staf mengingatkannya pelan.Dan itu cukup membuat suasana hati Adrian semakin buruk.Sejak melihat wajah Nana Bawono di layar berita kemarin, pikirannya terasa kacau dengan cara yang sangat menjengkelkan.Ia bahkan mulai membenci dirinya sendiri karena itu.Wanita itu sudah memilih jalan hidupnya. Dan sekarang mungkin sedang menikmati persiapan pernikahannya dengan Rowan Hayes.Adrian sadar akan hal itu. Tapi ia tidak tahu, kenapa wajah Nana justru semakin jelas di kepalanya?Bunyi pintu terbuka












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews