Selang satu hari, Shu Yi akhirnya bebas dari penjara. Diiringi pengawal istana, dia berjalan meninggalkan ruang pengap yang sudah membelenggu hidupnya tiga hari terakhir. Saat akan menuju gerbang Utara, dia harus melewati tempat tinggal kaisar. Dibawah udara dingin musim gugur, selir Wu bersimpuh ditemani dua dayang istana. Memohon pengampunan untuk kanselir Wu. Kasim Pei yang berjaga di depan pintu menolaknya dengan tegas. "Niang-niang, kaisar sedang sibuk. Harap kembali lain waktu."Suara itu dingin. Tidak seramah biasa. Sikap pelayan adalah cerminan hati majikan. Dari cara kasim Pei menyambut selir Wu, jelas kaisar sedang kesal. Shu Yi yang kebetulan lewat tak bisa menahan diri dari menonton. Selir kesayangan atau bukan, pada akhirnya semua orang sama di mata kaisar. Cuma bidak yang bisa dibuang sesuka hati. Sesudah cukup menonton kesusahan orang lain, Shu Yi berniat pergi. Namun selir Wu rupanya tidak suka diabaikan. Baru tiga langkah, wanita itu sudah memanggilnya. "Zhe
Leer más