Malam itu, Longjin tak bergabung di meja makan. Dia melesat ke atap paviliun Bulan. Berbaring di sana sambil menatap langit malam. Tidak ada apapun di sana. Bulan atau bintang, semuanya tertutup awan. Seperti hatinya yang tanpa arah. "Istriku... apakah aku salah?"Untuk pertama kali setelah bertahun-tahun, dia mengingat mendiang istrinya dengan jelas. Muka naif, mata sendu, serta kecerian yang apa adanya. Dalam hidupnya yang gelap, saat itu pertama kali kenal cinta. Biarpun umur mereka selisih dua belas tahun, dia tak sungkan melamar. Gadis muda itu menerima dengan senyum terpaksa, yang baru disadarinya belakangan hari. Saat melihat muka polos Yaoyao serta energi yang sama dengan istrinya, dia senang bukan main. Seolah langit memberinya kesempatan menebus dosa. Karena itu dia berusaha keras menyatukan Yaoyao dengan laki-laki yang disukai. Tiba-tiba sekelebat bayangan gelap mendekat. Sontak Longjin mengangkat tangan. Siap memukul musuh dengan pukulan energinya. "Guru, ini aku!"
اقرأ المزيد