Sudut Pandang Frida.Setelah makan malam, Gavin tanya dengan ragu, “Apa kamu mau nginap? Kamarmu … aku jaga tetap seperti dulu.”Aku lihat harapan rapuh di matanya, dan gelombang perasaan yang rumit menyapu dadaku.“Nggak usah, hotel lebih praktis,” jawabku sambil berdiri. “Makasih untuk makan malamnya.”Kekecewaan sempat melintas di wajahnya, namun segera dia sembunyikan.“Aku antar kamu pulang.”“Nggak perlu, aku pesan mobil saja.”“Frida,” panggilnya saat aku hendak pergi. “Makasih. Karena mau makan malam denganku malam ini. Ini adalah kebahagiaan terbesar yang aku rasakan dalam lima tahun terakhir ini.”Aku hanya mengangguk, lalu pergi.Kembali di hotel, aku berbaring di tempat tidur, terjaga tanpa kantuk. Malam itu terus terulang di benakku, “Peta Bintang” yang telah diperbaiki, makan malam yang disiapkan dengan penuh perhatian, dan penyesalan tanpa dasar di mata Gavin.Lima tahun. Aku kira aku sudah lupakan semuanya. Namun malam ini buktikan kalau ada beberapa luka nggak akan per
อ่านเพิ่มเติม