MasukSudut Pandang Frida.Setelah makan malam, Gavin tanya dengan ragu, “Apa kamu mau nginap? Kamarmu … aku jaga tetap seperti dulu.”Aku lihat harapan rapuh di matanya, dan gelombang perasaan yang rumit menyapu dadaku.“Nggak usah, hotel lebih praktis,” jawabku sambil berdiri. “Makasih untuk makan malamnya.”Kekecewaan sempat melintas di wajahnya, namun segera dia sembunyikan.“Aku antar kamu pulang.”“Nggak perlu, aku pesan mobil saja.”“Frida,” panggilnya saat aku hendak pergi. “Makasih. Karena mau makan malam denganku malam ini. Ini adalah kebahagiaan terbesar yang aku rasakan dalam lima tahun terakhir ini.”Aku hanya mengangguk, lalu pergi.Kembali di hotel, aku berbaring di tempat tidur, terjaga tanpa kantuk. Malam itu terus terulang di benakku, “Peta Bintang” yang telah diperbaiki, makan malam yang disiapkan dengan penuh perhatian, dan penyesalan tanpa dasar di mata Gavin.Lima tahun. Aku kira aku sudah lupakan semuanya. Namun malam ini buktikan kalau ada beberapa luka nggak akan per
Sudut Pandang Frida.Saat aku terdiam ragu, kilatan kepanikan melintas di wajah Gavin.“Dan Hiro,” tambahnya cepat, suaranya bergetar. “Anjing kita. Dia sudah mati. Tapi dia punya anak anjing yang sangat mirip dengan dia.”Hiro.Aku masih ingat anjing besar yang setia itu. Saat pertama kali aku pindah ke vila, dialah satu-satunya yang temani aku ketika rasa sepi datang.“Kapan dia mati?” tanyaku.“Dua tahun lalu.” Suara Gavin jadi lebih rendah. “Dia terus tunggu kamu pulang. Sampai akhir, dia selalu pergi ke gerbang utama dan tunggu kamu balik.”Dadaku terasa diremas.“Oke,” kataku pelan. “Aku akan datang lihat.”Cahaya yang penuhi mata Gavin seperti seorang yang tenggelam akhirnya temukan udara.“Beneran?” tanyanya nggak percaya.“Cuma untuk lihat,” ulangku.“Iya.” Dia mengangguk berulang kali. “Iya, cuma untuk lihat.”Dua puluh menit kemudian, aku sudah ada di dalam Maserati miliknya. Mobil yang sama seperti lima tahun lalu, hanya bertambah usia.“Kamu masih naik mobil ini?” tanyaku.
Sudut Pandang Frida.Lima tahun kemudian, Kota Cellini masih sama, terasa akrab sekaligus asing secara bersamaan.Aku berdiri di depan jendela kaca setinggi lantai hingga langit-langit kamar hotelku, memandang kota yang dulu selama tiga tahun pernah aku sebut sebagai rumah.Sebuah majalah Forbes tergeletak di meja, wajahku terpampang di sampulnya.[Frida Gutama: Perjalanan Ratu AI Dari Ilmuwan Data Jadi Miliarder.]Akuisisi senilai 128 triliun rupiah telah bawa namaku ke panggung dunia.Namun saat ini, aku hanyalah seorang mantan murid yang pulang untuk hadiri pemakaman mentornya.Upacara pemakaman Profesor Martin diadakan di universitas. Dengan balutan setelan hitam, aku duduk di barisan depan, dengarkan para kolega mengenang pria yang telah ubah hidupku.Kalau nggak ada dia, aku nggak akan pernah punya keberanian untuk tinggalkan Cellini, apalagi capai semua ini.Acara dilanjutkan dengan resepsi di hotel bintang lima nggak jauh dari sana. Aku pegang segelas sampanye, berbasa-basi den
Sudut Pandang Gavin.Selama berminggu-minggu, aku coba tulis surat untuknya.Aku mulai sebuah kalimat, lalu robek itu.[Frida, aku salah .…]Sobek.[Aku tahu kamu nggak bisa maafkan aku, tapi .…]Sobek.[Tolong, kasih aku kesempatan untuk jelaskan .…]Sobek.Apa lagi yang bisa aku katakan? Maaf? Alasan? Permohonan? Semua kata rasanya begitu murahan dan kosong.Pada akhirnya, aku lakukan satu-satunya hal yang diketahui orang Keluarga Kalil.“Transfer 160 miliar ke rekening luar negeri Frida,” perintahku ke kepala keuangan.“Siap, Bos.”Seminggu kemudian.“Tambahkan 320 miliar lagi.”“Bos, jumlah itu ….”“Lakukan saja.”Seminggu berikutnya.“320 miliar lagi.”Kepala keuangan itu ragu. “Bos, totalnya sudah 800 miliar. Tapi .…”“Tapi apa?”“Uang di rekening itu … nggak disentuh 1 rupiah pun.”Hatiku jatuh ke dalam jurang hitam.Dia bahkan nggak mau lihat itu. Bagi Frida, uang itu sama nggak berharganya seperti aku.Malam itu, aku ada di ruang kerja, tenggelamkan diri dalam bir. Apa saja as
Sudut Pandang Gavin.Sepanjang malam aku duduk di ruang kerja, genggam surat cerai itu. Kertasnya lembap oleh keringatku, namun setiap kata sudah terukir dalam benakku.Begitu matahari terbit, aku langsung telepon pengacara keluarga.“Datang ke vila. Sekarang!”Setengah jam kemudian, dia berdiri di hadapanku, gemetar, keringat basahi dahinya.“Bos, surat cerai ini … nggak bisa diganggu gugat,” katanya terbata-bata.Suaraku rendah, seperti geraman. “Kamu bilang dia bukan istriku lagi?”“Iya. Secara hukum, pernikahanmu sudah berakhir.”Kata-katanya menghantamku seperti palu godam.Aku bangkit dari kursi dan hantam meja dengan tinjuku. Kayu tebal itu berderit.“Keluar dari sini.”Dia bergegas pergi seolah nyawanya jadi taruhan.Aku kembali duduk sendirian, pikiranku lari ke segala arah.‘Ke mana Frida pergi? Kenapa dia pergi seperti ini?’Aku pun teringat nama profesor lamanya. Aku langsung melaju ke Universitas Cellini.Di gedung ilmu komputer, Profesor Martin sedang bereskan berkas-berk
Sudut Pandang Gavin.Jet pribadi itu membelah awan, tinggalkan La Luna jauh di belakang. Aku menatap keluar jendela, sementara sebuah rasa nggak nyaman mengencang di perutku.“Gavin, bisa nggak kita tinggal satu hari lagi?” Eliza berbisik manja, bersandar di bahuku. “Malam ini ada konser yang aku pingin banget nonton.”“Nggak.” Jawabanku keluar lebih keras dari yang aku duga. “Kita balik ke Kota Cellini.”Eliza mengerucutkan bibirnya. “Ngapain buru-buru? Kan nggak ada keadaan darurat keluarga.”Aku nggak bisa kasih tahu alasannya.Mungkin karena permintaannya agar aku pulang lebih awal. Nada mendesak dalam suaranya, itu sesuatu yang belum pernah aku dengar darinya sebelumnya.Dia bilang ada hal penting yang ingin disampaikan.“Urusan bisnis,” kataku akhirnya. Aku berbohong.Sebelum pesawat mendarat, aku suruh sopir mampir ke Cartier.“Gelang berlian itu,” kataku sambil menunjuk ke etalase. “Yang 1,6 miliar itu.”Mata si penjual langsung berbinar. “Pilihan yang sangat bagus, Pak Gavin.







