Share

Bab 2

Author: Serein M
Rasa nyeri yang tajam tusuk dadaku. Janjinya, semua itu seolah nggak pernah ada. Begitu pula dengan kata “selamanya.”

“Maaf. Aku lagi nggak enak badan.” Aku paksakan senyum tipis. Lalu berdiri. “Silakan lanjutkan makan malamnya.”

“Frida.” Suara lembut Eliza panggil dari meja utama. “Wajahmu kelihatan pucat. Perlu aku bantu antar ke kamarmu?”

Nada suaranya terdengar begitu tulus. Kalau aku nggak tahu sifatnya yang sebenarnya, mungkin aku akan merasa tersentuh.

“Nggak perlu, makasih.” Aku hampir lari tinggalkan ruangan itu.

Sesampainya di kamar, aku bersandar di pintu. Dadaku naik turun, napasku nggak teratur.

Tiga tahun. Tiga tahun penuh.

Cahaya di mata Gavin, cahaya yang dulu hanya untuk aku mulai meredup sejak hari Eliza melangkah masuk ke rumah ini.

Aku bukan lagi ilmuwan data brilian yang dulu dia banggakan di depan semua orang. Kini aku cuma beban. Suatu beban yang harus dia pikul.

Namun Eliza beda. Dia adalah sosok suci. Janda yang berduka. Korban yang butuh perlindungannya.

Aku lepas gaun malamku dan ganti dengan jubah sutra, tetapi aku tidak bisa tidur.

Menjelang tengah malam, aku dengar suara samar dari ruang kerja.

Aku jalan perlahan turuni tangga dan intip melalui pintu yang terbuka sedikit.

Gavin duduk di balik mejanya. Bukannya lagi urus urusan keluarga, tapi dia lagi menatap tumpukan katalog perhiasan mengilap yang terbentang di hadapannya.

Dia bolak-balik halaman dengan fokus, sesekali kasih tanda.

“Kalung berlian ini kelihatannya bagus,” katanya di telepon. “Dan anting yang serasi. Kirimkan dua-duanya.”

Hatiku terjun bebas. Hari ini adalah hari jadi pernikahan kita. Tapi dia malah belanja untuk wanita lain.

Meski gitu, aku tetap harus kasih tahu dia tentang Proyek Penida.

Aku dorong pintu dan melangkah masuk.

“Gavin.”

Dia noleh, tatapannya seketika waspada. “Sudah malam. Kamu kenapa kok belum tidur?”

“Aku mau bicara dengan kamu.” Aku jalan ke sisi lain mejanya. “Hari ini aku dapat kabar ….”

Gavin potong ucapanku sebelum sempat selesai, “Bagus. Karena aku juga mau bicara sesuatu.”

Ekspresinya berubah serius, seperti seorang hakim yang hendak jatuhkan vonis.

“Aku sudah buat keputusan,” katanya sambil menatap lurus ke mataku. “Posisi kepala penasihat untuk Yayasan Teknologi Kalil akan aku kasih ke Eliza.”

Napas tercekat di tenggorokanku.

Kepala penasihat Yayasan Teknologi Kalil. Posisi yang dulu pernah dia janjikan ke aku.

“Kamu nggak ingat?” Suaraku bergetar. “Setahun lalu, kamu bilang posisi itu punya aku. Kamu bilang keahlianku, reputasiku, bisa bantu yayasan itu mendanai proyek yang benar-benar bakal ubah masa depan.”

Gavin tertawa dingin. “Memang, setahun lalu aku bilang itu. Tapi keadaan sudah berubah.”

“Apanya yang berubah?”

“Eliza butuh ini. Dia perlu temukan tujuan hidupnya kembali.” Nada suaranya mutlak, nggak kasih ruang untuk bantahan. “Dan kamu, Frida? Emang apa hakmu untuk tanyakan keputusanku?”

Aku menatapnya nggak percaya. “Aku ini istrimu!”

“Istri?” Gavin berdiri, menjulang di atasku. “Seorang istri sejati nggak akan bersikap picik saat aku sedang urus istri adikku yang telah meninggal. Seorang istri sejati akan ngerti tugas dan kewajiban suaminya.”

“Tugas? Kewajiban?” Suaraku meninggi. “Terus gimana dengan aku? Aku ini siapamu?”

“Kamu?” Gavin menatapku seolah aku orang asing. “Kamu cuma kutu buku yang seharian lihat komputer. Kalau nggak ada uang dari aku, kamu nggak akan bisa beli mesin-mesin sialan untuk ‘penelitianmu.’ Seharusnya kamu bersyukur untuk apa yang kamu punya.”

“Apa yang aku punya?” Aku hampir tertawa. “Emang apa yang aku punya, Gavin? Seorang suami yang nggak pernah tidur di ranjang yang sama dengan aku? Status yang dipandang rendah oleh semua orang di rumah ini? Atau hati yang kamu hancurkan dengan tanganmu sendiri?”

Wajah Gavin makin muram. “Cukup, Frida! Rasa cemburumu itu bikin kamu jadi kelihatan jelek.”

Cemburu?

Jadi bagi Gavin, semua amarah dan luka ini hanya karena cemburu ke Eliza?

“Kamu benar-benar nggak lihat, yah?” Aku tersenyum, namun hanya ada rasa pahit di sana. “Kamu benar-benar nggak bisa lihat perasaanku ke kamu.”

“Perasaan?” Nada suaranya penuh dengan ejekan. “Kalau kamu benar-benar cinta aku, kamu akan dukung aku, bukannya ngamuk kayak anak kecil.”

Aku menatapnya, pria yang dulu sangat aku cintai, sekarang rasanya seperti orang asing.

“Aku ngerti,” kataku sambil berbalik menuju pintu. “Selamat untuk posisi barunya Eliza.”

‘Oke. Aku nggak peduli lagi. Aku juga akan pergi.’

Kembali ke ruang ganti di kamar, aku mulai berkemas untuk ke Kota Penida.

Nggak banyak yang aku bawa. Beberapa pakaian yang sering aku pakai, dan hard drive terenkripsi yang simpan seluruh hasil kerjaku. Serta keyboard ergonomis khusus yang dulu Gavin buatkan untuk aku, dengan namaku terukir di atasnya.

Aku berusaha untuk nggak ingat itu, tapi kenangan itu terasa pahit. Dulu, dia nggak seperti ini.

Pernah suatu malam, waktu makan malam bersama keluarga saingan, para istri mafia lain ejek aku, sebut aku kutu buku yang kaku.

Gavin tarik aku ke dalam pelukannya dan bungkam seluruh ruangan dengan sebuah ciuman.

“Dengar baik-baik,” desisnya dengan suara rendah dan berbahaya. “Dia ini wanitaku. Kalau kalian bicara lagi, aku akan potong lidah kalian.” Lalu Gavin menatapku, matanya menyala. “Bersamaku, kamu adalah ratu di ruangan ini, Frida”

Namun kemudian Eliza datang, semua berubah. Adik Gavin tewas tertembak saat lindungi Gavin. Eliza jadi jandanya. Dan Gavin seolah bertekad tebus rasa bersalahnya dengan berikan segalanya ke wanita itu.

Kadang, aku merasa Gavin telah kelewat batas. Lalu, setahun lalu, aku lihat Eliza. Aku lihat Eliza di sebuah klub privat, diam-diam ketemu dengan Malik Pandega, tangan kanan keluarga saingan.

Saat itu dia nggak kelihatan seperti korban. Dia ketawa dengan Malik, bahkan cium dia di sudut gelap. Namun, sebelum aku sempat kasih tahu Gavin, Eliza lebih dulu lihat aku.

Eliza pulang ke rumah lebih cepat dari aku. Malam itu, Eliza tempelkan pecahan kaca ke pergelangan tangannya, teriak bahwa dia lebih baik mati daripada kehormatannya diragukan.

“Gavin, Frida cemburu! Dia mau aku pergi, jadi dia coba hancurkan aku! Apa dia tahu dampak gosip seperti ini? Gimana aku bisa hadapi keluarga sekarang? Biarin aku mati saja! Suamiku mati demi kamu, tapi ini balasanmu? Dia pasti sedih banget di surga!”

Eliza nangis histeris.

Bahkan sebelum aku sempat bicara, Gavin sudah putuskan kalau aku pembohong. Dia cengkeram leherku dan banting aku ke dinding.

“Aku nggak pernah nyangka kamu bisa sekejam ini, Frida. Ngarang kebohongan kotor seperti itu! Apa kamu nggak punya rasa hormat ke adikku yang sudah mati? Dia satu-satunya alasan kita nggak ada di neraka sekarang! Pergi! Keluarga Kalil nggak butuh wanita licik dan kejam seperti kamu!”

Gavin tarik Eliza yang nangis ke dalam pelukannya dan usir aku dengan amarah.

Sejak saat itu, kami terus bertengkar karena Eliza.

Setiap pertengkaran berakhir dengan aku dikurung di kamarku.

Untuk hindari konflik, aku mulai nginap di apartemen tamu di universitas-ku, kasih tahu dia kalau aku akan hadiri konferensi akademik.

Tiba-tiba, pintu terbuka. Gavin tarik aku keluar dari lamunanku.

“Frida, kamu lagi beres-beres apa?”
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Saat Aku Pergi, Kerajaannya Runtuh   Bab 9

    Sudut Pandang Frida.Setelah makan malam, Gavin tanya dengan ragu, “Apa kamu mau nginap? Kamarmu … aku jaga tetap seperti dulu.”Aku lihat harapan rapuh di matanya, dan gelombang perasaan yang rumit menyapu dadaku.“Nggak usah, hotel lebih praktis,” jawabku sambil berdiri. “Makasih untuk makan malamnya.”Kekecewaan sempat melintas di wajahnya, namun segera dia sembunyikan.“Aku antar kamu pulang.”“Nggak perlu, aku pesan mobil saja.”“Frida,” panggilnya saat aku hendak pergi. “Makasih. Karena mau makan malam denganku malam ini. Ini adalah kebahagiaan terbesar yang aku rasakan dalam lima tahun terakhir ini.”Aku hanya mengangguk, lalu pergi.Kembali di hotel, aku berbaring di tempat tidur, terjaga tanpa kantuk. Malam itu terus terulang di benakku, “Peta Bintang” yang telah diperbaiki, makan malam yang disiapkan dengan penuh perhatian, dan penyesalan tanpa dasar di mata Gavin.Lima tahun. Aku kira aku sudah lupakan semuanya. Namun malam ini buktikan kalau ada beberapa luka nggak akan per

  • Saat Aku Pergi, Kerajaannya Runtuh   Bab 8

    Sudut Pandang Frida.Saat aku terdiam ragu, kilatan kepanikan melintas di wajah Gavin.“Dan Hiro,” tambahnya cepat, suaranya bergetar. “Anjing kita. Dia sudah mati. Tapi dia punya anak anjing yang sangat mirip dengan dia.”Hiro.Aku masih ingat anjing besar yang setia itu. Saat pertama kali aku pindah ke vila, dialah satu-satunya yang temani aku ketika rasa sepi datang.“Kapan dia mati?” tanyaku.“Dua tahun lalu.” Suara Gavin jadi lebih rendah. “Dia terus tunggu kamu pulang. Sampai akhir, dia selalu pergi ke gerbang utama dan tunggu kamu balik.”Dadaku terasa diremas.“Oke,” kataku pelan. “Aku akan datang lihat.”Cahaya yang penuhi mata Gavin seperti seorang yang tenggelam akhirnya temukan udara.“Beneran?” tanyanya nggak percaya.“Cuma untuk lihat,” ulangku.“Iya.” Dia mengangguk berulang kali. “Iya, cuma untuk lihat.”Dua puluh menit kemudian, aku sudah ada di dalam Maserati miliknya. Mobil yang sama seperti lima tahun lalu, hanya bertambah usia.“Kamu masih naik mobil ini?” tanyaku.

  • Saat Aku Pergi, Kerajaannya Runtuh   Bab 7

    Sudut Pandang Frida.Lima tahun kemudian, Kota Cellini masih sama, terasa akrab sekaligus asing secara bersamaan.Aku berdiri di depan jendela kaca setinggi lantai hingga langit-langit kamar hotelku, memandang kota yang dulu selama tiga tahun pernah aku sebut sebagai rumah.Sebuah majalah Forbes tergeletak di meja, wajahku terpampang di sampulnya.[Frida Gutama: Perjalanan Ratu AI Dari Ilmuwan Data Jadi Miliarder.]Akuisisi senilai 128 triliun rupiah telah bawa namaku ke panggung dunia.Namun saat ini, aku hanyalah seorang mantan murid yang pulang untuk hadiri pemakaman mentornya.Upacara pemakaman Profesor Martin diadakan di universitas. Dengan balutan setelan hitam, aku duduk di barisan depan, dengarkan para kolega mengenang pria yang telah ubah hidupku.Kalau nggak ada dia, aku nggak akan pernah punya keberanian untuk tinggalkan Cellini, apalagi capai semua ini.Acara dilanjutkan dengan resepsi di hotel bintang lima nggak jauh dari sana. Aku pegang segelas sampanye, berbasa-basi den

  • Saat Aku Pergi, Kerajaannya Runtuh   Bab 6

    Sudut Pandang Gavin.Selama berminggu-minggu, aku coba tulis surat untuknya.Aku mulai sebuah kalimat, lalu robek itu.[Frida, aku salah .…]Sobek.[Aku tahu kamu nggak bisa maafkan aku, tapi .…]Sobek.[Tolong, kasih aku kesempatan untuk jelaskan .…]Sobek.Apa lagi yang bisa aku katakan? Maaf? Alasan? Permohonan? Semua kata rasanya begitu murahan dan kosong.Pada akhirnya, aku lakukan satu-satunya hal yang diketahui orang Keluarga Kalil.“Transfer 160 miliar ke rekening luar negeri Frida,” perintahku ke kepala keuangan.“Siap, Bos.”Seminggu kemudian.“Tambahkan 320 miliar lagi.”“Bos, jumlah itu ….”“Lakukan saja.”Seminggu berikutnya.“320 miliar lagi.”Kepala keuangan itu ragu. “Bos, totalnya sudah 800 miliar. Tapi .…”“Tapi apa?”“Uang di rekening itu … nggak disentuh 1 rupiah pun.”Hatiku jatuh ke dalam jurang hitam.Dia bahkan nggak mau lihat itu. Bagi Frida, uang itu sama nggak berharganya seperti aku.Malam itu, aku ada di ruang kerja, tenggelamkan diri dalam bir. Apa saja as

  • Saat Aku Pergi, Kerajaannya Runtuh   Bab 5

    Sudut Pandang Gavin.Sepanjang malam aku duduk di ruang kerja, genggam surat cerai itu. Kertasnya lembap oleh keringatku, namun setiap kata sudah terukir dalam benakku.Begitu matahari terbit, aku langsung telepon pengacara keluarga.“Datang ke vila. Sekarang!”Setengah jam kemudian, dia berdiri di hadapanku, gemetar, keringat basahi dahinya.“Bos, surat cerai ini … nggak bisa diganggu gugat,” katanya terbata-bata.Suaraku rendah, seperti geraman. “Kamu bilang dia bukan istriku lagi?”“Iya. Secara hukum, pernikahanmu sudah berakhir.”Kata-katanya menghantamku seperti palu godam.Aku bangkit dari kursi dan hantam meja dengan tinjuku. Kayu tebal itu berderit.“Keluar dari sini.”Dia bergegas pergi seolah nyawanya jadi taruhan.Aku kembali duduk sendirian, pikiranku lari ke segala arah.‘Ke mana Frida pergi? Kenapa dia pergi seperti ini?’Aku pun teringat nama profesor lamanya. Aku langsung melaju ke Universitas Cellini.Di gedung ilmu komputer, Profesor Martin sedang bereskan berkas-berk

  • Saat Aku Pergi, Kerajaannya Runtuh   Bab 4

    Sudut Pandang Gavin.Jet pribadi itu membelah awan, tinggalkan La Luna jauh di belakang. Aku menatap keluar jendela, sementara sebuah rasa nggak nyaman mengencang di perutku.“Gavin, bisa nggak kita tinggal satu hari lagi?” Eliza berbisik manja, bersandar di bahuku. “Malam ini ada konser yang aku pingin banget nonton.”“Nggak.” Jawabanku keluar lebih keras dari yang aku duga. “Kita balik ke Kota Cellini.”Eliza mengerucutkan bibirnya. “Ngapain buru-buru? Kan nggak ada keadaan darurat keluarga.”Aku nggak bisa kasih tahu alasannya.Mungkin karena permintaannya agar aku pulang lebih awal. Nada mendesak dalam suaranya, itu sesuatu yang belum pernah aku dengar darinya sebelumnya.Dia bilang ada hal penting yang ingin disampaikan.“Urusan bisnis,” kataku akhirnya. Aku berbohong.Sebelum pesawat mendarat, aku suruh sopir mampir ke Cartier.“Gelang berlian itu,” kataku sambil menunjuk ke etalase. “Yang 1,6 miliar itu.”Mata si penjual langsung berbinar. “Pilihan yang sangat bagus, Pak Gavin.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status