Compartilhar

Saat Aku Pergi, Kerajaannya Runtuh
Saat Aku Pergi, Kerajaannya Runtuh
Autor: Serein M

Bab 1

Autor: Serein M
Aku tenggelam dalam tumpukan data yang begitu rumit ketika profesor telepon.

“Frida, selamat yah!” Suaranya bergetar penuh antusias.

“Proyek Penida, riset kelas atas, laboratoriummu sendiri dengan pendanaan penuh, semuanya jadi punya kamu!”

Tanganku terhenti. Jemariku membeku di atas keyboard.

“Ini kesempatan emas, Frida,” lanjut profesor itu dengan nada suara yang melunak.

“Tapi kamu tahu artinya, kan. Kamu harus tinggalkan Kota Cellini.”

Tinggalkan Kota Cellini. Tinggalkan kota yang sudah tiga tahun aku anggap sebagai rumahku.

Tinggalkan Gavin Kalil.

“Oke.” Aku dengar suaraku sendiri jawab, rasanya begitu jauh.

“Aku akan pamitan dulu.”

Aku kembali ke vila itu. Aku ingin habiskan satu malam terakhir bersama Gavin.

Aku melangkah masuk melalui pintu utama. Para staf tampak sibuk mondar-mandir.

Mereka sedang sibuk siapkan sebuah pesta.

Gavin berdiri di tengah aula, kasih perintah seperti seorang jenderal.

“Menara sampanye-nya di sebelah kanan, bukan kiri!” Suaranya dingin, nggak terbantahkan.

“Malam ini nggak boleh sampai ada salah.”

Dia lihat aku. Tatapannya langsung membeku.

“Kamu sudah balik?”

“Gavin, aku punya kabar baik ….”

“Apa pun itu, nanti tunggu dulu.” Gavin potong aku. Tatapannya menembusku tanpa ampun.

“Malam ini penting. Jangan sampai bikin kacau itu.”

Bikin kacau?

Aku menatapnya, tertegun. Lalu aku sadar. Tentu saja. Hari ini adalah hari jadi kita yang kelima.

Pasti ini makan malam kejutan untuk kita.

Aku pikirkan itu. Dan aku juga kepikiran kalau aku akan segera tinggalkan dia.

Ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokanku.

“Aku ngerti.” Aku paksakan senyumanku.

“Aku akan ambil hadiahku.”

Ini … bisa jadi perpisahanku.

Aku cepat-cepat ke gudang anggur. Ambil botol anggur yang selama ini aku simpan. Romanée-Conti 1990.

Sebotol anggur senilai 3,2 miliar. Hal paling berharga yang bisa aku kasih.

Saat ambil itu, selembar kuitansi jatuh ke lantai. Pesanan dari Butik Chanel.

Gaun malam seharga 800 juta rupiah. Gaun yang pernah aku lihat di pelelangan. Gaun yang aku mau.

Jantungku kembali berdegup kencang.

‘Dia … siapkan semua kejutan ini?’

Mungkin malam ini akan beda. Mungkin dia akan lihat aku lagi. Cinta aku lagi. Seperti sebelum Eliza Marzani datang.

Aku bawa botol itu kembali ke aula. Gavin sedang periksa susunan meja.

“Gavin.” Aku mendekat. Dengan hati-hati, aku serahkan botol itu ke dia.

Dia terima anggur itu. Sekilas ada rasa terkejut di matanya.

“Romanée-Conti,” gumamnya sambil baca labelnya.

“1990.”

“Iya.” Suaraku bergetar. “Untuk kita.”

Dia lirik ke arahku. Nggak bicara apa-apa. Hanya mengangguk.

Para tamu mulai berdatangan.

Aku ganti pakaian dengan gaun sutra ungu terbaikku. Hatiku penuh harapan.

Aku pun jalan menuju ruang makan. Namun langkahku terhenti di ambang pintu.

Tempat dudukku ada di ujung meja yang paling jauh. Jauh dari posisi utama.

Gavin duduk di kepala meja. Eliza ada di sebelah kanannya.

Eliza pakai gaun sutra hitam. Terlihat seperti nyonya rumah yang sesungguhnya.

Sementara aku terjepit di antara dua anak buahnya. Seperti tamu yang nggak penting.

“Hadirin sekalian.” Gavin berdiri sambil angkat gelasnya.

“Kita berkumpul malam ini untuk sebuah kesempatan istimewa.”

Jantungku berdetak kencang.

‘Dia bakal bilang apa?’

“Tiga tahun lalu ....” lanjutnya, suaranya rendah dan khidmat.

“Aku kehilangan adikku. Dia meninggal saat lindungi aku. Malam ini adalah perayaan hari jadi pernikahannya dengan Eliza.”

Kata-kata itu menghantamku. Harapanku hancur berkeping-keping.

Perayaan hari jadi pernikahan .... Tapi, bukan milik kita. Milik mereka.

“Eliza telah terlalu banyak menderita untuk keluarga ini.” Gavin menoleh ke dia.

Tatapannya melembut, kelembutan yang hanya dia berikan ke wanita itu.

“Sudah waktunya dia dapatkan perhatian yang layak.”

Gavin ambil sebuah kotak Chanel dari belakangnya. Gaun senilai 800 juta itu.

“Ini untukmu, Eliza.” Gavin serahkan itu.

“Kamu pantas dapat yang terbaik.”

Eliza terima itu. Matanya berkaca-kaca.

“Gavin, aku nggak tahu harus bilang apa. Kamu sudah berbuat begitu banyak untuk aku.”

“Ini baru permulaan.” Gavin usap punggung tangannya dengan lembut.

“Aku bakal pastikan kamu nggak akan pernah terluka lagi.”

Ruangan itu dipenuhi tepuk tangan.

Aku duduk di sudutku. Dunia terasa berputar.

Setiap saraf dalam tubuhku berteriak. Ini salah. Ini kejam.

Aku coba kendalikan ekspresiku. Tapi malah gagal.

Tatapan tajam Gavin mengarah ke tempatku.

Mata itu dulu penuh cinta untuk aku. Kini malah dingin seperti es. Penuh ejekan.

“Kenapa, Frida? Cemburu? Aku cuma lagi hibur istri adikku yang sudah meninggal. Dia mati demi aku, ingat kan?”
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Saat Aku Pergi, Kerajaannya Runtuh   Bab 9

    Sudut Pandang Frida.Setelah makan malam, Gavin tanya dengan ragu, “Apa kamu mau nginap? Kamarmu … aku jaga tetap seperti dulu.”Aku lihat harapan rapuh di matanya, dan gelombang perasaan yang rumit menyapu dadaku.“Nggak usah, hotel lebih praktis,” jawabku sambil berdiri. “Makasih untuk makan malamnya.”Kekecewaan sempat melintas di wajahnya, namun segera dia sembunyikan.“Aku antar kamu pulang.”“Nggak perlu, aku pesan mobil saja.”“Frida,” panggilnya saat aku hendak pergi. “Makasih. Karena mau makan malam denganku malam ini. Ini adalah kebahagiaan terbesar yang aku rasakan dalam lima tahun terakhir ini.”Aku hanya mengangguk, lalu pergi.Kembali di hotel, aku berbaring di tempat tidur, terjaga tanpa kantuk. Malam itu terus terulang di benakku, “Peta Bintang” yang telah diperbaiki, makan malam yang disiapkan dengan penuh perhatian, dan penyesalan tanpa dasar di mata Gavin.Lima tahun. Aku kira aku sudah lupakan semuanya. Namun malam ini buktikan kalau ada beberapa luka nggak akan per

  • Saat Aku Pergi, Kerajaannya Runtuh   Bab 8

    Sudut Pandang Frida.Saat aku terdiam ragu, kilatan kepanikan melintas di wajah Gavin.“Dan Hiro,” tambahnya cepat, suaranya bergetar. “Anjing kita. Dia sudah mati. Tapi dia punya anak anjing yang sangat mirip dengan dia.”Hiro.Aku masih ingat anjing besar yang setia itu. Saat pertama kali aku pindah ke vila, dialah satu-satunya yang temani aku ketika rasa sepi datang.“Kapan dia mati?” tanyaku.“Dua tahun lalu.” Suara Gavin jadi lebih rendah. “Dia terus tunggu kamu pulang. Sampai akhir, dia selalu pergi ke gerbang utama dan tunggu kamu balik.”Dadaku terasa diremas.“Oke,” kataku pelan. “Aku akan datang lihat.”Cahaya yang penuhi mata Gavin seperti seorang yang tenggelam akhirnya temukan udara.“Beneran?” tanyanya nggak percaya.“Cuma untuk lihat,” ulangku.“Iya.” Dia mengangguk berulang kali. “Iya, cuma untuk lihat.”Dua puluh menit kemudian, aku sudah ada di dalam Maserati miliknya. Mobil yang sama seperti lima tahun lalu, hanya bertambah usia.“Kamu masih naik mobil ini?” tanyaku.

  • Saat Aku Pergi, Kerajaannya Runtuh   Bab 7

    Sudut Pandang Frida.Lima tahun kemudian, Kota Cellini masih sama, terasa akrab sekaligus asing secara bersamaan.Aku berdiri di depan jendela kaca setinggi lantai hingga langit-langit kamar hotelku, memandang kota yang dulu selama tiga tahun pernah aku sebut sebagai rumah.Sebuah majalah Forbes tergeletak di meja, wajahku terpampang di sampulnya.[Frida Gutama: Perjalanan Ratu AI Dari Ilmuwan Data Jadi Miliarder.]Akuisisi senilai 128 triliun rupiah telah bawa namaku ke panggung dunia.Namun saat ini, aku hanyalah seorang mantan murid yang pulang untuk hadiri pemakaman mentornya.Upacara pemakaman Profesor Martin diadakan di universitas. Dengan balutan setelan hitam, aku duduk di barisan depan, dengarkan para kolega mengenang pria yang telah ubah hidupku.Kalau nggak ada dia, aku nggak akan pernah punya keberanian untuk tinggalkan Cellini, apalagi capai semua ini.Acara dilanjutkan dengan resepsi di hotel bintang lima nggak jauh dari sana. Aku pegang segelas sampanye, berbasa-basi den

  • Saat Aku Pergi, Kerajaannya Runtuh   Bab 6

    Sudut Pandang Gavin.Selama berminggu-minggu, aku coba tulis surat untuknya.Aku mulai sebuah kalimat, lalu robek itu.[Frida, aku salah .…]Sobek.[Aku tahu kamu nggak bisa maafkan aku, tapi .…]Sobek.[Tolong, kasih aku kesempatan untuk jelaskan .…]Sobek.Apa lagi yang bisa aku katakan? Maaf? Alasan? Permohonan? Semua kata rasanya begitu murahan dan kosong.Pada akhirnya, aku lakukan satu-satunya hal yang diketahui orang Keluarga Kalil.“Transfer 160 miliar ke rekening luar negeri Frida,” perintahku ke kepala keuangan.“Siap, Bos.”Seminggu kemudian.“Tambahkan 320 miliar lagi.”“Bos, jumlah itu ….”“Lakukan saja.”Seminggu berikutnya.“320 miliar lagi.”Kepala keuangan itu ragu. “Bos, totalnya sudah 800 miliar. Tapi .…”“Tapi apa?”“Uang di rekening itu … nggak disentuh 1 rupiah pun.”Hatiku jatuh ke dalam jurang hitam.Dia bahkan nggak mau lihat itu. Bagi Frida, uang itu sama nggak berharganya seperti aku.Malam itu, aku ada di ruang kerja, tenggelamkan diri dalam bir. Apa saja as

  • Saat Aku Pergi, Kerajaannya Runtuh   Bab 5

    Sudut Pandang Gavin.Sepanjang malam aku duduk di ruang kerja, genggam surat cerai itu. Kertasnya lembap oleh keringatku, namun setiap kata sudah terukir dalam benakku.Begitu matahari terbit, aku langsung telepon pengacara keluarga.“Datang ke vila. Sekarang!”Setengah jam kemudian, dia berdiri di hadapanku, gemetar, keringat basahi dahinya.“Bos, surat cerai ini … nggak bisa diganggu gugat,” katanya terbata-bata.Suaraku rendah, seperti geraman. “Kamu bilang dia bukan istriku lagi?”“Iya. Secara hukum, pernikahanmu sudah berakhir.”Kata-katanya menghantamku seperti palu godam.Aku bangkit dari kursi dan hantam meja dengan tinjuku. Kayu tebal itu berderit.“Keluar dari sini.”Dia bergegas pergi seolah nyawanya jadi taruhan.Aku kembali duduk sendirian, pikiranku lari ke segala arah.‘Ke mana Frida pergi? Kenapa dia pergi seperti ini?’Aku pun teringat nama profesor lamanya. Aku langsung melaju ke Universitas Cellini.Di gedung ilmu komputer, Profesor Martin sedang bereskan berkas-berk

  • Saat Aku Pergi, Kerajaannya Runtuh   Bab 4

    Sudut Pandang Gavin.Jet pribadi itu membelah awan, tinggalkan La Luna jauh di belakang. Aku menatap keluar jendela, sementara sebuah rasa nggak nyaman mengencang di perutku.“Gavin, bisa nggak kita tinggal satu hari lagi?” Eliza berbisik manja, bersandar di bahuku. “Malam ini ada konser yang aku pingin banget nonton.”“Nggak.” Jawabanku keluar lebih keras dari yang aku duga. “Kita balik ke Kota Cellini.”Eliza mengerucutkan bibirnya. “Ngapain buru-buru? Kan nggak ada keadaan darurat keluarga.”Aku nggak bisa kasih tahu alasannya.Mungkin karena permintaannya agar aku pulang lebih awal. Nada mendesak dalam suaranya, itu sesuatu yang belum pernah aku dengar darinya sebelumnya.Dia bilang ada hal penting yang ingin disampaikan.“Urusan bisnis,” kataku akhirnya. Aku berbohong.Sebelum pesawat mendarat, aku suruh sopir mampir ke Cartier.“Gelang berlian itu,” kataku sambil menunjuk ke etalase. “Yang 1,6 miliar itu.”Mata si penjual langsung berbinar. “Pilihan yang sangat bagus, Pak Gavin.

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status