"Pak Agus, jujur ya, saya baru ketemu anak muda secerdas dan seberani Kamu," ujar Pak Mikel sambil menepuk-nepuk pundak Agus, matanya berbinar penuh kekaguman. "Proyek tiga triliun ini butuh pilar kuat kayak Kamu. Bukan arsitek modal kertas yang bisanya cuma ngerampok!""Ah, biasa aja, Pak Mikel. Yang penting kan duit Bapak kagak melayang. Saya cuma mikir pakai logika jalanan."Agus menyeringai santai, memasukkan kedua tangannya ke saku celana. "Jalanan tapi tajam! Nah, itu dia!" Pak Mikel tertawa riang, lalu merendahkan suaranya dengan raut wajah bersekongkol. "Ngomong-ngomong, Kamu sudah punya istri? Atau setidaknya pacar?""Wah, kalau yang nemenin ngopi sih ada, Pak. Tapi kalau yang ngikat resmi... ya, masih terbuka luas buat penawaran menarik," sahut Agus terkekeh, mengerlingkan matanya."Bagus!" Pak Mikel menepuk tangannya kegirangan. "Saya punya putri tunggal, baru lulus magister dari Inggris. Cantik, pinter, dan jujur saja, agak susah diatur karena belum ketemu pria yang bisa
Leer más