Pagi yang cerah di vila luar kota, Agus melangkah santai ke teras sambil memegang cangkir kopi hitam yang masih ngebul. Udara sejuk pegunungan bikin otaknya makin jernih. Pemuda kampung yang menjadi miliarder itu merogoh ponsel di saku celana, menekan nomor Maya."Halo, May? Lu masih di rumah kan?" sapa Agus tanpa basa-basi."Iya, Gus! Ini aku lagi santai di ruang tengah. Udah ngepel sama bersihin debu tuh. Ada apaan nih pagi-pagi telepon? Kangen ya?" goda Maya di seberang sana dengan suara centilnya."Halah, kangen dari Hongkong," celetuk Agus terkekeh. "Gini, May. Lu mau duit jajan lima puluh juta tunai kagak?"Suara Maya mendadak heboh. "Hah?! Lima puluh juta?! Beneran kamu, Gus?! Mau banget lah! Tugasnya apaan, cepat kasih tahu!""Tugas lu gampang bener. Gua udah kirim satu video ke WA lu. Sekarang lu samperin si Hendro di kamarnya, terus stel itu video persis di depan mukanya. Sampe tuntas, jangan dikasih lepas," perintahkan Agus dengan nada dingin dan penuh penekanan.Maya yang
Read more